Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Tiga Puluh Enam


__ADS_3

"Sejak kapan kamu berdiri di sini?" tanya Cahaya ketika tahu pemilik suara itu adalah Bintang.


Bintang melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Sekitar 30 menit yang lalu," jawabnya. "Lo sudah nggak ada kuliah lagi kan?"


"Iya, hari ini cuma ada dua mata kuliah doang. Dan alhamdulillah semua sudah selesai," jawab Bintang. "Oh iya, gimana hukuman kamu? Kamu nggak sampai di DO kan?"


"Nggak sih, mungkin karena bokap gue donatur terbesar kampus ini. Gue hanya dilarang ikut ujian semerter ini," jawab Bintang.


"Alhamdulillah, setidaknya kamu nggak dikeluarin dari kampus," ucap Cahaya. Dia ikut senang karena Bintang tidak dikeluarkan dari kampus.


"Kenapa kamu menatapku begitu?" tanya Cahaya saat melihat Bintang tersenyum sambil menatapnya.


"Gue seneng karena lo khawatirin gue."


"Aku nggak khawatir kok. Ngapain aku khawatirin kamu," elak Cahaya.


"Ya ya, apa pun itu gue seneng," ujar Bintang.


Bintang dan Cahaya berjalan beriringan di koridor kampus. Semua mata yang melihat kedekatan mereka merasa heran karena selama ini yang mereka tahu, Cahaya adalah mahasiswa yang sering dibully oleh Bintang dan gengnya.


"Kamu punya masalah?" tanya Cahaya saat melihat Bintang beberapa kali menghela napas panjang. Bintang mengangguk.


"Masalah apa? Tentang keluargamu?" menyadari bahwa dirinya terlalu ikut campur membuat Cahaya langsung menutup mulut. Beberapa detik kemudian dia pun meminta maaf. "Maaf, aku nggak bermaksud ikut campur kok. Kamu nggak harus cerita kalau itu adalah rahasia keluarga," ucapnya.


Bintang menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskanya perlahan. "Kakak gus dirawat di rumah sakit dan itu karena gue," ucap Bintang penuh penyesalan.


Cahaya menatap Bintang dengan perasaan iba. Baru kali ini ia melihat Bintang sesedih ini.


"Selama ini gue terlalu fokus membenci kakak, sampai-sampai dia memiliki penyakit yang berbahaya pun gue nggak tahu. Gue nyesel karena selalu nolak kakak tiap dia berusaha ngedeketin gue. Gue nyesel, Aya. Gue nyesel!"


"Bintang... semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Nabi Adam juga pernah kok melakukan kesalahan hingga membuatnya diusir dari surga. Jadi, saat kamu sadar kamu salah, minta maaflah! Dan berjanjilah bahwa kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi."


Bintang mengangguk. "Pasti akan gue lakuin. Saat kakak sadar, gue akan langsung minta maaf."


"Semoga kakak kamu cepet sadar dan sembuh seperti sedia kala ya."


"Amin. Makasih buat doanya," ucap Bintang.

__ADS_1


Keduanya kemudian terdiam.


"Kalau tidak ada hal yang mau dibicarakan lagi, aku pamit ya. Aku harus nyari kabar seseorang soalnya."


"Kabar seseorang?" mata Bintang memicing. "Pacar lo?"


"Pacar? Bukanlah. Lagian mana ada cowok yang suka cewek culun kayak aku?" jawab Cahaya.


"Lo nyindir gue?"


Cahaya hanya terkekeh kecil. Kemudian barulah ia menjawab, "Tante nyuruh aku nyari tahu kabar dokter baik yang sering nolongin dia. Kata tante dokter itu sakit. Makanya aku mau ke tempat dokter itu bertugas buat mastiin."


"Harus sekarang?" tanya Bintang.


"Iya. Soalnya setelah itu kan aku harus segera pulang dan bantuin tante jualan."


Bintang menghela napas. "Bisa sebentar lagi, nggak? Gue mau ke markas bentar buat ketemu sama anak-anak. Setelah itu gue anterin lo ke rumah sakit itu sekalian gue mau balik ke rumah sakit lagi buat gantian jagain kakak."


"Nggak usah deh. Aku nggak mau ngerepotin kamu. Ya udah ya, aku pamit. Besok begitu kuliah selesai, aku akan jenguk kakak kamu."


"Baiklah," jawab Bintang yang terpaksa mengiyakan. Ia juga tidak mau membuat Cahaya terlalu lelah kalau memaksanya untuk ikut ke markas dulu.


"Aya," panggil Bintang.


Cahaya yang sudah melangkah beberapa langkahpun kembali menoleh. "Iya?"


"Mungkin setelah Kakak gue sadar, gue mau cuti kuliah."


"Kenapa? Bukannya kamu cuma dilarang ikut ujian semester ini?"


"Gue... mau mondok," jawab Bintang.


Cahaya terdiam. Entah kenapa mendengar pria yang selalu membullynya itu akan mondok ada bagian di hatinya merasa tidak rela. Namun, jika itu demi kebaikan Bintang untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dia pun harus mengikhlaskan.


"Berapa lama?" tanya Cahaya.


"Mungkin 3-5 tahun," jawab Bintang.

__ADS_1


Cahaya kembali terdiam. 3-5 tahun? Artinya selama itu, dia tidak akan pernah bisa bertemu dengan pria itu lagi. Entah kenapa rasanya itu berat.


"Apa pun itu, aku berharap yang terbaik untuk kamu," ujar Cahaya.


"Tapi, sebelum itu ada yang ingin gue minta dari lo." Bintang menatap lekat kedua bola mata Cahaya.


"Apa?"


"Mau kah lo nunggu gue sampai gue pulang dari pondok?"


"Maksud kamu apa?" tanya Cahaya bingung.


"Gue suka sama lo, Aya. Mungkin ini terdengar aneh buat lo. Tapi gue sungguh-sungguh suka sama lo. Lo mau kan nerima perasaan gue dan nunggu gue balik dari pondok?" tanya Bintang.


Cahaya mengangguk.


"Jadi, lo nerima perasaan gue dan mau nunggu gue?" Bintang memastikan.


"Iya, aku mau. Jadi, belajar yang bener ya selama disana," jawab Cahaya.


"Terima kasih ya, Aya. Gue pasti bakalan belajar dengan sungguh-sungguh dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi." Bintang bersemangat.


"Ya sudah, aku pamita ya. Kang ojol udah nunggu di depan," pamit Cahaya.


"Hati-hati ya, Aya. Awas jangan ganjen sama Kang ojol!" cicit Bintang.


"Apaan sih geje banget. Yang ada kamu tuh, jangan suka tebar pesona ma cewek-cewek di kampus," balas Cahaya. "Ih, kok malah senyum sih!" Protes Cahaya saat melihat Bintang mesem-mesem sendiri.


"Gue seneng lo bilang kek gitu, artinya lo cemburu. Dan gue suka itu," ucap Bintang jujur.


Cahaya kembali tersenyum. "Udah ah, aku pamit ya. Kasihan Kang Ojolnya nunggu lama," ucap Cahaya.


"Hati-hati, Sayang."


Cahaya menunduk malu. Apalagi dia menjadi pusat perhatian dari mahasiswa yang ada di sana.


Mereka pun berpisah.

__ADS_1


"Ah, kenapa gue lupa minta nomor teleponnya ya?" gumam Bintang. "Bisa-bisanya gue lupa minta nomor telepon pacar sendiri." Dia pun berlari ke depan kampus menyusul Cahaya. Sayangnya ojol yang membawa Cahaya sudah berjalan menjauhi area kampus dan tidak mungkin Bintang kejar.


__ADS_2