
Cahaya datang ke rumah sakit tempat Dokter Cakra bertugas. Dia mulai bertanya tentang Dokter Cakra kepada perawat yang bekerja di sana. Dan dari sana ia tahu bahwa Dokter Cakra sedang dirawat di rumah sakit tersebut di ruang ICU. Perawat itu juga sudah memberitahu Cahaya bahwa tidak sembarangan orang diperbolehkan untuk mengujungi pasien disana, kecuali atas izin keluarganya.
Cahaya tetap datang ke ruang ICU tersebut. Meski tidak bisa masuk, setidaknya ia bisa bertanya tentang keadaan Dokter Cakra kepada keluarganya.
"Assalammualaikum," sapa Cahaya kepada seorang wanita paruh baya yang duduk di depan ruang ICU. Wanita itu menatap Cahaya penuh tanya.
"Waalaikumsalam," jawab Amara. Meskipun dia merasa tidak mengenal wanita muda di hadapannya.
"Sebelumnya saya minta maaf, Tante karena sudah mengganggu waktu Tante. Saya kesini ingin tahu keadaan Dokter Cakra, saya dengar dia sakit," tanya Cahaya.
"Kamu... pacarnya Cakra?" tanya Amara sambil menatap Cahaya dari atas hingga bawah.
"Bukan, Tante. Bukan! Kebetulan beberapa kali Dokter Cakra membantu tante dan paman saya saat akan berobat, dia juga pernah membantu saya saat saya kehilangan dompet saat akan menebus obat. Bisa dibilang, kami sekeluarga berhutang budi sama dia," jelas Cahaya.
Amara hanya ber oh ria.
"Ohya, Tante gimana keadaan Dokter Cakra sekarang?" tanya Cahaya.
"Dokter bilang keadaannya sudah cukup stabil, tapi sampai sekarang dia belum mau membuka matanya. Sekarang papanya masih di dalam. Apa kamu juga mau menjenguknya ke dalam?" tanya Amara setelah menerangkan kondisi anaknya.
"Kalau diizinkan," jawab Cahaya.
"Ayo, Tante antar ke dalam!" ajak Amara. Dia membawa Cahaya masuk ke ruangan di mana masih terpasang banyak alat di tubuh Cakra.
"Ma, siapa dia?" tanya Arya yang memang sedari tadi menunggui Cakra di dalam ruangan.
"Dia temannya Cakra, Mas," jawab Amara.
Berbeda dengan putra bungsunya yang memiliki banyak teman dan gonta-ganti pacar. Cakra jarang memiliki teman apalagi perempuan. Hal itulah yang membuat Amara berkesimpulan bahwa Cahaya adalah wanita spesial bagi putra sulungnya itu. Seaakan paham dengan pemikiran Amara, Arya memberikan ruang untuk Cahaya bisa dekat dengan Cakra.
"Hanya satu orang yang diizinkan berada di ruangan ini. Jadi, Om dan Tante tunggu kamu diluar ya. Ajaklah Cakra berbicara apa saja, siapa tahu dia bisa segera sadar," ujar Arya.
Meski bingung, Cahaya tetap melakukan hal yang disuruh oleh papanya Cakra. Dia sedikit menarik kursi kosong yang ada di samping brankar kemudian mendudukinya.
Laki-laki yang masih terlihat gagah itu membawa Maya keluar ruangan.
Cahaya menatap lekat wajah Cakra yang masih pucat itu. "Dokter Cakra, ini Aya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Dokter saat tiba di rumah kemarin hingga membuat Dokter Cakra seperti ini. Dokter Cakra cepet sadar ya, aku janji nanti kalau Dokter sadar aku akan kabulkan satu permintaan Dokter. Anggap itu sebagai balas budi atas semua kebaikan yang Dokter lakukan selama ini untuk tante dan Pamanku. Oh iya, bagaimana hubungan Dokter Cakra dengan adik Dokter? Semoga setelah kejadian ini hubungan kalian jadi membaik ya seperti yang Dokter harapkan. Pokoknya, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Dokter. Cepat sembuh ya, Dok." Sesuai dengan permintaan Arya, Cahaya terus mengajak Cakra berbicara.
"Dokter, aku pamit ya. Besok aku akan ke sini lagi bareng Tante dan Pamanku. Soalnya mereka juga sangat mengkhawatirkan keadaan Dokter. Assalammualaikum." Cahaya berpamitan seolah sedang berbicara dengan Cakra seperti biasanya. Dan diluar dugaan, tangan Dokter Cakra bergerak.
Buru-buru Cahaya memanggil kedua orang Cakra.
__ADS_1
"Tante, Om, sepertinya Dokter Cakra sadar." Cahaya memberi tahu.
Buru-buru Amara dan Arya masuk ke ruangan itu dan benar, sekarang Cakra bahkan sudah membuka matanya.
"Nak, kamu sudah sadar? Mama bahagia sekali, Nak," ucap Amara.
Cakra yang masih terlihat lemah itu tersenyum sambil mengangguk. Tak lama Dokter datang untuk memastikan keadaan Dokter Cakra.
***
Di Markas Mortal Enemy....
Semua anggota geng Mortal Enemy terkejut ketika Bintang menyatakan mengundurkan diri dari geng.
"Lo serius mau mundur dari geng ini?" tanya Deni.
"Gue serius. Setelah Kakak gue sadar, gue memutuskan buat mondok. Gue mau memperdalam ilmu agama," jawab Bintang. Dia juga menjelaskan alasan pengunduran dirinya.
"Mondok? Kok tiba-tiba?" sahut Faza.
"Gue cuma mau memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Gue tidak ingin menjadi manusia sampah yang selalu bikin onar dan ngerugiin orang lain," tambah Bintang.
Bintang terdiam. "Salah satunya. Gue ingin terlihat pantas untuknya," jawabnya kemudian.
"Serius lo naksir cewek itu?" tanya Deni tak percaya.
Bintang hanya tersenyum. Dia juga tidak pernah mengira jika dirinya bakalan jatuh cinta dengan cewek yang sering ia bully.
Saat itu ada pesan masuk dari mamanya yang memberi tahu jika Cakra sudah sadar, berita itu tentu membuat Bintang bahagia. Dia pun segera berpamitan dengan teman-temannya untuk segera ke rumah sakit.
"Semoga lo bahagia dengan pilihan lo, Bi. Ingat ya kalau ntar lo jadi ustadz, jangan lupain kita-kita." Pesan Faza sambil memeluk sahabatnya itu.
"Belum juga berangkat mondok, masa udah jadi ustadz aja," Bintang mencebik.
"Ya... intinya kita dukung apa pun keputusan lo," tambah Faza.
"Thanks. Ohya, kalian serahkan bangku kepemimpinan Mortal Enemy sama sama Aditya saja. Gue yakin, dia bisa membawa Mortal Enemy ke hal yang lebih baik. Sama seperti tujuan geng ini dibuat sebelumnya."
Faza dan Deni mengangguk.
"Gue cabut dulu ya. Bye," pamit Bintang. Dia pun segera meninggalkan markas.
__ADS_1
***
Lima belas menit kemudian akhirnya Bintang tiba di rumah sakit. Dia segera menuju ke ruangan dimana kakaknya dirawat. Cakra sudah tidak lagi dirawat di ICU, dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa sambil menunggu jadwal operasi jantungnya.
"Kak, Kakak beneran sudah sehat? Kakak sudah baikkan kan? Tidak ada yang sakit kan?" Bintang memberondong kakaknya dengan pertanyaan begitu tiba di ruang perawatan tersebut.
"Kakak sudah baikan," jawab Cakra sembari tersenyum.
"Alhamdulillah, gue seneng dengarnya. Semoga secepatnya Kakak bisa menjalani operasi dan bisa benar-benar sembuh," ucap Bintang tulus.
"Amin." Cakra, Amara, dan Arya mengaminkan.
"Kak, gue juga mau minta maaf sama lo atas semua kesalahan gue ke lo selama ini. Maafin gue ya, Kak!" ucap Bintang.
"Tanpa kamu minta maaf pun, Kakak udah maafin kamu. Lagian semua yang terjadi juga nggak sepenuhnya salah kamu kok," jawab Cakra.
"Thanks ya, Kak."
"Kamu tahu, Bi. Kakakmu bangun setelah ditengok sama gadis cantik. Ku rasa Kakakmu menyukai gadis itu," Amara memberitahu.
"Memang tadi ada cewek yang datang ke sini jengukin Kak Cakra?" tanya Bintang setelah menghempaskan bokongnya di sofa. Dia kemudian mengambil buah apel yang ada di atas meja.
"Iya, namanya... siapa ya tadi? Mas ingat nggak namanya siapa? Aku lupa. Rencananya sebelum kakakmu menjalani operasi ke luar negeri kami mau melamar gadis itu," ucap Amara bersangat. "Gimana menurut kamu?"
"Boleh juga," jawab Bintang.
"Ah, mama ingat namanya Cahaya. Iya, Cahaya. Benarkan, Kra? Nama gadis itu Cahaya?" Amara melemparkan pandangan ke arah Cakra dan dibalaa oleh Cakra dengan anggukan.
Bintang yang hendak memasukkan buah apel ke dalam mulut langsung berhenti.
"Ca ha ya?" ucapnya sembari mengeja nama itu.
"Iya, Cahaya. Katanya besok dia akan ke sini bareng om dan tantenya," jawab Amara.
Bintang terdiam. Haruskah dia mengatakan kepada Sang Mama bahwa dia juga mencintai Cahaya? Atau haruskah dia kembali mengalah demi kakaknya lagi? Tidak! Bintang tidak bisa melakukan itu. Cahaya bukan hanya orang spesial di hatinya, tetapi juga wanita yang memberikan sinar bagi hidupnya yang hampir tersesat dan kehilangan arah. Dialah wanita yang membuat Bintang ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik. Bintang rela mengalah untuk yang lainnya, tapi soal Cahaya tentu dia tidak mau melepaskan gadis itu begitu saja. Apalagi Cahaya baru menerima perasaannya dan berjanji mau menunggunya pulang dari mondok.
"Ma, Pa," panggil Bintang.
Amara dan Arya kompek menoleh. "Iya?" jawab keduanya kompak.
"Sebenarnya.... "
__ADS_1