
Bintang terlihat tegang. Buliran keringat jatuh membasahi dahi dan seluruh tubuh. Beberapa kali ia mengelap dahinya yang basah itu menggunakan punggung tangan. Dia benar-benar takut, paman dari Cahaya itu mengenalinya sebagai orang yang telah menabraknya beberapa bulan yang lalu.
"Coba kamu bersuara lagi! Sebutkan nama kamu sekali lagi!" suruh Cahyono dia ingin memastikan jika memang dirinya pernah mendengar suara Bintang.
Cahaya dan Tante Laksmi saling tatap, keduanya sama-sama bingung dengan tingkah Cahyono kali ini.
"Ada apa dengan pamanmu?" tanya Tante Laksmi tanpa bersuara. Dia menggunakan isyarat mata untuk bertanya kepada Cahaya. Cahaya hanya menggeleng. Dia pun tidak tahu alasan pamannya menyuruh Bintang melakukan itu.
"Na-nama saya Bintang, Paman." Dengan sedikit tergagap, Bintang kembali memperkenalkan diri dan tersenyum kepada Cahyono.
Cahyono berusaha memutar memorinya untuk mencari tahu dimana ia pernah mendengar suara itu.
"Mas, mana mungkin Mas pernah mendengar suaranya Bintang. Kamu kan baru melihatnya semalam dan semalam pun dia nggak bersuara karena pingsan," ujar Laksmi yang akhirnya bersuara.
"Iya, kamu benar, Mi. Mungkin aku hanya salah dengar saja." Karena tak berhasil memperoleh memorinya, Cahyono akhirnya membenarkan perkataan istrinya.
"Nak Bintang, kenalkan saya Cahyono, pamannya Aya." Cahyono memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
__ADS_1
"Bi-Bintang." Bintang membalas uluran jabatan tangan Cahyono.
"Jangan takut! Paman nggak gigit kok." Paman Cahyono menepuk bahu Bintang. Bintang hanya mengangguk. Pemuda itu sedikit lega karena Cahyono tidak mengingat dirinya.
"Yo wes Mas, sana mandi! Terus aku temenin kamu makan. Sekarang aku angetin lauk yang tadi siang di atas meja dulu ya. Aya, Bintang, kalian boleh langsung istirahat. Tadi di lapak kalian udah gantian buat salat kan?" Tante Laksmi menatap dua pemuda di hadapannya bergantian.
"Aya udah kok, Tan," jawab Cahaya. Gadis itu memang tidak pernah mau menunda-nunda ibadahnya dalam keadaan apa pun.
"Ya sudah sana kalian istirahat!" seru Tante Laksmi lagi.
Cahaya masuk ke kamarnya, sementara Bintang ke ruang tengah. Dia berbaring di atas dipan yang menjadi tempat tidurnya selama tinggal di rumah ini.
Selama ini, Bintang tidak pernah melihat mamanya makan bersama dengan papanya. Yang ada, wanita yang sudah melahirkannya itu baru makan setelah semua pria di rumahnya selesai makan.
"Apa itu yang dinamakan pasangan hidup? Duduk bersama, makan bersama, dan saling bercanda?" batin Bintang. "Gue juga ingin memiliki pasangan hidup yang seperti itu."
Entahlah, tiba-tiba bayangan Laksmi dan Cahyono yang sedang makan dan bercanda berganti dengan bayangan dirinya bersama dengan Cahaya. Tentu saja hal tersebut langsung membuat Bintang bangun dari posisnya.
__ADS_1
"Astaga, apa-apaan itu? Bisa-bisanya gue mengkhayalkan hal itu bersama dengan si Culun?" gumam Bintang. "Tidak! Pasti ini ada yang salah." Bintang menepuk-nepuk pipinya sendiri agar sadar.
"Gue bisa suka sama siapa pun cewek di dunia ini kecuali si Culun. Bisa jatuh harga diri gue, kalau sampai gue memiliki pasangan kayak si Culun," gumam Bintang lagi.
"Sedang apa kamu? Kenapa mukulin pipi sendiri?"
Suara itu membuat Bintang menoleh. "Jangan-jangan gue halusinasi lagi nih. Enggak, enggak boleh! Meski cuma halusinasi, cewek culun itu nggak boleh hadir!" Kembali Bintang menepuk-nepuk pipinya.
"Woi. Kamu gila ya? Ngapain sih kamu nabok pipi sendiri? Aneh!"
Teriakan Cahaya kali ini membuat Bintang tersadar bahwa yang dilihatnya bukanlah halusinasi apalagi hayalannya. Gadis yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan aneh itu adalah Si Culun.
"Gue nggak lagi ngapa-ngapain kok, cuma barusan ada nyamuk di pipi gue. Makanya gue timpuk," jawab Bintang, ia menunjukan deretan gigi putihnya.
"Dasar aneh!" ujar Cahaya. "Ni selimut dan ini lotion anti nyamuk. Kamu olesin ke seluruh tubuh biar gak digigit nyamuk."
Cahaya memberikan selimut dan lotion anti nyamuk kepada Bintang. Saat akan menyerahkan kedua benda di tangannya itu, tanpa sengaja kaki Cahaya keserimbet dan membuatnya jatuh.
__ADS_1
Cahaya dan Bintang sama-sama membelalakkan matnya, saat keduanya sama-sama merasakan sesuatu. "Aaa!" Teriak mereka bersamaan.