Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Akhirnya Cahaya dan Cakra sampai juga di rumah. Keduanya lalu turun dari dalam mobil.


"Kakak mau mampir dulu? Ketemu sama om dan tante?" tanya Cahaya.


Cakra melihat ke arah jam tanganya. Hari ini dia memang sedang tidak bekerja karena dia kebagian jaga malam. Namun, rencanya hari ini dia ingin bicara adiknya dari hati ke hati. Cakra tidak ingin membuat sang adik membecinya dan terus-terusan membuat onar sebagai ajang protes kepada kedua orang tuanya karena sudah berlaku tidak adil. Cakra tidak mau adiknya kembali melakukan kebodohan yang bisa merugikan dirinya sendiri. Tapi, pertemuan yang tidak sengaja dengan Cahaya hari ini sedikit membuatnya berubah pikiran. Meski ini pertemuan kedua mereka Cakra merasa senang saat bersama dengan Cahaya. Tanpa melakukan apa pun, gadis berhijab itu mampu merubah suasana hatinya menjadi lebih baik.


"E.... "


Belum sempat Cakra menjawab, tante Cahaya sudah keluar dari dalam rumah.


"Aya, kenapa kamu lama sih beli obatnya?" tanya Laksmi. Wanita itu tampak terkejut ketika melihat keberadaan Cakra di depan rumahnya.


"Eh, Pak Dokter. Kapan datang?" sapa tante Laksmi.


"Kak Cakra yang nganterin Aya pulang, Tante," jawab Cahaya.


"Lho kok?"


"Tadi, Aya kecopetan Tante waktu mau beli obat di apotek. Aya sampai bingung gimana caranya bisa pulang karena semua duit Aya ikut raib. Untung saja Aya ketemu Kak Cakra, dia yang bantuin Aya beli obat, traktir Aya makan, dan nganterin Aya pulang," terang Cahaya. Dia menjelaskan bagaimana dirinya bisa bertemu dengan Cakra.


"Maafin kami ya Pak Dokter karena selalu ngerepotin Pak Dokter. Kemarin aku dan suamiku, sekarang Aya. Kami makin berhutang budi sama Pak Dokter," cicit Tante Laksmi.


"Tidak masalah kok, Tante. Aku seneng karena bisa bertemu Aya lagi," jawab Cakra.


"Karena Pak Dokter sudah berada disini, gimana kalau Pak Dokter jangan pulang dulu, kita ngobrol-ngobrol dulu sebentar," tawar Tante Laksmi.


"E... aku memang lagi nggak bertugas sih."


"Ya sudah kalau begitu, nanti tante buatkan camilan untuk Dokter."

__ADS_1


"Baiklah, maaf merepotkan," ucap Cakra.


"Tidak masalah. Kalian silakan ngobrol dulu!" Setelah mengatakan itu Tante Laksmi kembalu masuk ke dalam rumah.


"Mari Kak, silakan duduk!" Cahaya mempersilakan Cakra untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah.


"Ohya, kamu masih sekolah, kuliah, atau bekerja?" tanya Cakra membuka pembicaraan.


"Memang wajahku seimut itu ya, Kak?" Mata Cahaya berkedip-kedip dengan kedua tangan memangku wajah.


"Apaan sih, Aya. Aku serius tahu."


Cahaya tergelak. "Maaf, Kak, becanda sedikit tidak masalah kan?," jawab Cahaya.


Cakra tersenyum.


"Aku sudah lulus SMA sejak dua tahun yang lalu dan sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, seharusnya sih ini sudah masuk semester lima. Tapi, aku milih cuti dulu karena selain harus ngumpulin uang buat bayar semesteran, aku juga harus membantu om dan tanteku." Cahaya menatap Cakra kemudian tersenyum.


"Dimana kamu kuliah sebelumnya? Kebetulan adikku juga sedang kuliah sekarang, siapa tahu kamu mengenalnya."


"Di Universitas Wana Bhakti dan aku dapat bea siswa sebelumnya. Tapi, bea siswa itu dicabut karena suatu alasan," jawab Cahaya apa adanya.


"Wah... ternyata kamu satu kampus dengan adiku, adikku juga kuliah disana." Cakra merespon, matanya berbinar kala mengatakan bahwa adiknya juga kuliah disana. Akan tetapi beberapa detik kemudian Cakra langsung terdiam dan ekpresi wajahnya tiba-tiba berubah sedih.


"Ohya?" Cahaya merespon. "Kenapa, Kak? Kok tiba-tiba diem?


"Tidak apa-apa, hanya saja aku kembali ingat dengan kesalahpahaman yang terjadi kepada kami."


"Kesalahpahaman?" Cahaya menatap Cakra tanda tanya. Cakra mengangguk.

__ADS_1


"Pasti kesalahpahaman itu bikin adik Kak Cakra marah sama Kakak kan?" tebak Cahaya.


"Begitulah."


"Kakak sudah menjelaskan kesalahpahaman tersebut belum ke adik Kakak?"


Lagi, Cakra menggeleng.


"Kenapa nggak Kakak jelaskan? Seharusnya Kakak menjelaskan itu agar adik Kakak tidak menyesal saat tahu jika sebenarnya ia hanya salah paham dengan Kakak," tutur Cahaya.


"Menurutmu aku harus menjelaskan ke dia gitu?" Cahaya mengangguk.


"Kalau Kak Cakra nggak jelasin gimana adik Kakak tahu kalau semuanya hanya salah paham? Iya kan?" Cahaya memberikan alasan logisnya.


Cakra terdiam. Dia memikirkan perkataan Cahaya barusan.


"Berarti aku harus menjelaskan semuanya pada adikku?" Cahaya mengangguk.


"Itu harus!" Cahaya memasang ekspresi serius. "Kalau Kakak sayang sama adik Kak Cakra, Kak Cakra harus jelasin semuanya."


Cakra menarik napas panjang. Jika dia harus menjelaskan semuanya kepada Bintang, itu berarti ia jika harus menceritakan kondisinya saat ini dan dia belum siap untuk itu.


"Sepertinya Kakak punya alasan kenapa masih membiarkan adik kakak salahpaham terhadap Kakak?" tebak Cahaya lagi kala melihat raut wajah Cakra. Cakra pun kembali mengangguk.


"Aku tidak tahu rahasia apa yang Kak Cakra sembunyikan dari adik Kakak, tapi... memangnya Kakak mau selamanya adik Kak Cakra salah paham?" Kali ini Cakra menggeleng.


"Saranku sih ceritakan saja. Toh adik Kakak sudah dewasa, sudah kuliah, dia pasti bisa mengerti itu. Tapi semua terserah Kakak sih, aku cuma sekedar ngasih saran," tambah Cahaya. "By the way nama adik Kak Cakra siapa ya siapa tahu aku mengenalnya?" tanya Cahaya lagi.


"Nama adiku.... "

__ADS_1


__ADS_2