
Cahaya terus saja menangis saat mengetahui jika ternyata kedua orang tua Bintang datang bukan untuk meminangnya sebagai istri Bintang, tetapi Cakra. Lalu bagaimana dia bisa menjelaskan semuanya pada Bintang.
"Tante... apa yang harus aku lakukan? Aku cintanya sama Bintang, aku kira mereka datang mewakili Bintang. Bukan Kak Cakra. Aku harus bagaiamana sekarang, Paman, Tante?"
"Kamu jujur saja sama orang tua Dokter Cakra, mereka pasti mengerti," ucap Cahyono.
"Tapi, bagaimana dengan Kak Cakra? Dia baru saja sadar pasca serangan jantung? Apa dia tidak akan apa-apa kalau aku jujur?" Cahaya dilema. Dia tak mau menikah dengan Cakra, tetapi di sisi lain dia juga takut dokter baik hati itu kenapa-napa karena ulahnya.
"Kami juga bingung Aya. Tapi, apa pun keputusanmu, kami akan mendukungmu karena bagaimana pun kebahagiaanmu adalah hal yang paling utama," ujar Laksmi sambil terus mengusap punggung keponakannya tersebut.
Hal yang tak jauh berbeda dari Cahaya juga dirasakan oleh Bintang. Pemuda itu juga dilema ketika kedua orang tuanya memberitahu bahwa mereka sudah melamar Cahaya untuk Cakra.
Ingin sekali Bintang jujur soal hubungannya dengan Cahaya. Tapi, dia takut kondisi kakaknya akan kembali drop. Padahal Cakra baru melewati masa kritis.
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Berikanlah aku petunjukMu!" pinta Binta dalam hati. Saat ini hanya Sang Maha Penciptalah yang bisa menolongnya dan memberi solusi.
***
Dua hari kemudian....
Bintang dan Cahaya akhirnya memutuskan untuk bertemu guna membicarakan masalah mereka. Akhirnya setelah mempertimbangkan banyak hal, keduanya akhirnya sepakat mengakhiri hubungan mereka yang baru saja dimulai.
Bintang menyuruh Cahaya untuk menerima pinangan kakaknya dan demi kebaikan Cakra, Cahaya pun terpaksa mengiyakan. Meski keputusan yang mereka ambil itu berat, mereka percaya bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Dan apa pun yang terjadi dengan hubungan mereka kini, itu pasti sudah takdir dan itu pasti yang terbaik bagi keduanya.
Bintang sudah pergi ke pesantren sehari sebelum kakaknya menikah dengan Cahaya. Meski sudah mengikhlaskan hubungannya dengan Cahaya, Bintang tidak sanggup melihat pernikahan itu secara langsung.
Awalnya, Amara, Arya, dan Cakra tidak mengizinkan Bintang pergi sebelum acara pernikahan Cakra dan Cahaya. Namun, akhirnya mereka memberi izin setelah Bintang memberikan segudang alasan.
***
__ADS_1
3 tahun kemudian....
Hari ini adalah hari kepulangan Bintang dari pesantren. Semua keluarga sudah sangat merindukan pemuda yang sekarang sudah menjadi hafiz qur'an tersebut. Mereka masih tidak menyangka, jika Bintang yang dulunya urakan dan pembuat masalah sudah berhasil menjadi seorang hafiz qur'an yang lumayan dikenal oleh banyak orang.
Bintang tersenyum ketika melihat anggota keluarganya sudah menunggu di depan pintu keluar. Dia melambaikan tangan kepada mereka semua. Senyum itu memudar kala melihat Cahaya. Bintang tak menyangka jika rasa itu masih ada meski sudah 3 tahun berlalu. Bintang berusaha mengenyahkan perasaannya dengan menyadarkan hatinya bahwa Sang Pujaan hati sudah menjadi kakak ipar.
Bintang kembali melangkah dan menghampiri mereka semua.
"Assalammualaikum," sapa Bintang.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab mereka semua.
"Sayang, mama merindukanmu," Amara memeluk putra bungsunya itu.
"Bintang juga merindukan, Mama," jawab Bintang. Dia kemudian memeluk papa dan kakaknya bergantian.
"Apa kabar?" sapa Bintang. Dia masih canggung kalau harus memanggil Cahaya dengan sebutan kakak ipar.
Bintang hanya tersenyum kaku. Ternayata masih sesulit itu menerima Cahaya sebagai kakak ipar.
"Ayo kita pulang! Semua orang sudah menunggu kedatanganmu!" ajak Amara.
Meski terdemgar ambigu, Bintang mengiyakan. Mereka pun segera meninggalkan bandara.
Ketika tiba di depan rumah, Bintang tertegun ketika melihat ada tenda dan pelaminan yang terpasang di halaman rumah. Bahkan rumah itu juga sudah dihadiri tetangga.
"Ma, ada apa ini?" tanya Bintang bingung.
Bintang semakin bingung saat melihat tulisan yang terpampang di atas pelaminan 'Menikah BINTANG & CAHAYA'.
__ADS_1
"Kak Cakra, bukankah Kakak dan Cahaya sudah.... "
Cakra merangkul adik kesayangannya tersebut. "Mana mungkin, Kakak menikahi wanita yang tidak mencintai Kakak."
Bintang menatap Cahaya.
"Cahaya tidak mengatakan apapun!" potong Cakra sebelum adiknya itu salah paham terhadap Cahaya. "Sebenarnya Kakak kecewa sama kamu karena lagi-lagi kamu tidak mau bicara jujur dengan Kakak. Harusnya kamu bilang ke Kakak kalau kamu mencintai Cahaya. Kamu sengaja ya membuat kakakmu ini jadi kakak yang jahat?"
"Aku minta maaf, Kak. Aku hanya tidak ingin kondisi Kakak drop lagi waktu itu. Lagian, aku dan Cahaya sudah mengikhlaskan cinta kami," jawab Bintang memberi penjelasan.
"Bintang. Kakak tahu, tujuan kalian baik. Tapi, apa kamu pikir aku akan bahagia saat tahu jika wanita yang Kakak nikahi ternyata adalah wanita yang kamu cintai? Kakak beruntung mengetahui fakta bahwa ternyata yang Cahaya cintai itu kamu sebelum kami menikah. Jadi, aku masih bisa menjadi Kakak yang baik untukmu. Lagian, kamu pikir Kakak selemah itu, drop gara-gara cinta ditolak?" Cakra mencebik.
"Kakakmu yang mempersiapkan pernikahan ini. Bahkan dia yang mengurus semua dokumenmu." Amara menimpali.
Bintang jadi teringat sesuatu. Pantas saja dua minggu yang lalu kakaknya meminta foto KTP, ternyata ini tujuannya.
Amara meraih tangan putra bungsunya. "Maafkan Mama ya yang hampir merampas kebahagiaanmu lagi. Harusnya mama juga memperhatikanmu. Sekali lagi maafkan mama yang terus memaksamu untuk berkorban," ucap Amara. Netranya berkaca-kaca saat mengatakan itu.
Sebagai seorang ibu, Amara hanya fokus pada kebahagian putra sulungnya hanya karena putra sulungnya itu sakit. Padahal sebagai seorang ibu harusnya dia tidak membedakan keduanya.
"Ma, Mama sudah menjadi ibu yang baik kok. Aku bangga punya orang tua seperti mama dan papa. Maaf karena dulu aku menjadi anak pembangkang dan sering bikin onar," ucap Bintang.
Amara menarik Sang Puntra bungsu ke dalam pelukan. "Sekarang kamu bersiap-siaplah. Kasihan penghulunya udah nunggu dari tadi!" suruh Amara.
"Kamu juga Cahaya bersiaplah! Tantemu dan MUA sudah menunggu di kamar atas untuk meriasmu!" Amara menoleh ke arah Cahaya.
Cahaya mengangguk. Dia menatap Bintang sebentar, lalu dengan malu-malu dia naik ke lantai dua untuk dirias dan berganti pakaian.
Pernikahan anatara Cahaya dan Bintang pun berlangsung khidmat. Semua terlihat bahagia saat saksi berkata 'SAH.'
__ADS_1
...~ TAMAT ~...
TERIMA KASIH UNTUK SEMUA PEMBACA YANG TELAH MENGIKUTI CERITA INI DARI AWAL HINGGA AKHIR. MAAF JIKA ADA SESUATU YANG KURANG BERKENAN DI HATI KALIAN. SEKALI LAGI TERIMA KASIH, LOVE YOU ALL.