
Cakra langsung dibawa ke IGD dan langsung ditangani oleh dokter yang biasa menanganinya. Setelah mendapat perawatan di IGD, Cakra harus dibawa ke ruang ICU karena kondisinya semakin memburuk.
Dokter Daniel membawa Arya dan Amara ke ruanganya untuk berbicara.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Cakra? Terakhir kali dia diperiksa keadaanya sudah lumayan stabil. Tapi, kenapa hari ini dia langsung drop? Apa terjadi sesuatu yang membuatnya tertekan atau stres?" tanya Dokter Daniel. Dia adalah Dokter yang memiliki 3 gelar sekaligus. Dokter Daniel sudah berumur lebih dari 40 tahun, tetapi dia masih betah sendiri. Sebagian besar waktunya digunakan hanya untuk belajar dan mengejar gelar yang ia inginkan.
"Tadi sedikit ada pertengkaran di rumah. Mungkin dia syok karena mendengar perkataan kasar adiknya," jawab Amara menjelaskan.
"Tapi, yang aku tahu. Selama ini adiknya juga lah yang menjadi penyemangat hidup bagi Cakra. Cakra selalu cerita kalau dia ingin bisa hidup lebih lama dengan adiknya itu. Dia ingin bisa bercanda dengan adiknya itu sama seperti kakak-adik pada umumnya. Itulah salah satu alasan dia mau menjalani opersi transplantasi jantung. Seharusnya operasi itu baru akan dijadwalkan sekitar 3 bulan lagi sambil memantau kedaan jantung Cakra. Tapu, karena kejadian ini, mau tidak mau kita harus mempercepat operasi itu jika ingin Cakra bisa hidup lebih lama." Dokter Daniel menerangkan kondisi Cakra saat ini.
"Lakukan yang terbaik untuk Cakra, Dok! Berapa pun biaya yang diperlukan kami siap," ujar Arya.
"Kita akan mulai lakukan pengecekan. Jika semua hasilnya baik, maka operasi itu akan dilakukan sekitar 3-5 hari kemudian. Tapi... Keberhasilan operasi ini adalah 50:50. Jika kalian mengharapkan kesembuhanya, maka kalian juga harus siap dengan kemungkinan terburuknya juga."
Itulah yang selama ini memberatkan Amara. Satu sisi dia ingin putranya agar bisa sehat dan hidup normal seperti orang-orang pada umumnya. Namun, disisi lain. Dia juga belum siap jika harus kehilangan Cakra saat dia dioperasi.
__ADS_1
Arya mengusap pundak istrinya. Dia tahu hal yang saat ini dirasakan oleh ibu dari kedua anaknya itu. Ditengah-tengah kekhawatiranya akan Cakra, wanita yang sudah tidak muda lagi itu masih harus mencemaskan Bintang juga.
"Kami akan menerima apapun resikonya," ucap Amara dengan suara bergetar.
Amara dan Arya pun meninggalkan ruangan Dokter Daniel dan berjalan menuju ke ruang ICU. Saat tiba di depan ruangan tersebut sudah ada Bintang yang berdiri di dekat kaca sambil melihat kondisi kakaknya.
"Mau apa kamu kesini? Puas kamu melihat kakakmu seperti ini?" Arya yang masih marah dengan Bintang langsung berusaha mengusir putra keduanya itu dari sana.
"Pa, aku akui keadaan Kak Cakra hari karena perbuatanku. Tapi, semua tidak akan terjadi jika sejak awal papa jujur tentang kondisi Kak Cakra. Jujur kenapa Papa selalu mengatur segalanya tentangku. Setidaknya, meski berat. Aku akan melakukan semua keinginan Papa tanpa kebencian, tanpa amarah, dan tanpa merasa jika Papa dan Mama lebih menyayangi kakak daripada aku. Setidaknya aku bisa memahami kenapa kalian bersikap begitu kepadaku," jawab Bintang.
Arya diam. Semua yang dikatakan Buntang memang benar. Dia hanya tahu bagaimana caranya memaksakan kehendak tanpa memberikan alasanya.
"Buruk." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Amara. Setelahnya dia tidak mengatakan apa pun lagi. Dia diam sambil memandangi Cakra yang terbaring tak berdaya di ruang ICU.
Hanya satu orang yang diperbolehkan menunggui Cakra di ruanganya. Dan Amaralah yang berada di ruangan itu. Dia duduk di samping bangsal sambil terus memegangi tangan putra pertamanya itu.
__ADS_1
Bintang dan Arya menunggu di luar ruangan. Keduanya bahkan masih tetap berjaga sampai waktu subuh tiba. Saat mendengar adzan subuh yang dikumandangkan di masjid rumah sakit, Bintang mengingat satu perkataan Cahaya. Gadis berhijab yang biasa ia panggil dengan sebutan Si Culun itu pernah berkata: "Kamu pernah berpikir nggak kenapa Allah memberikan cobaan kepada hambaNya? Itu bukan karena Dia benci sma kita. Itu justru tanda bahwa Dia sangat menyayangi kita. Dan saat kita sudah melakukan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya, tetapi cobaan itu masih datang, artinya Allah masih rindu dengan rengekan kita. Dia rindu kita curhat denganNya. Itulah kenapa aku selalu berpikiran positip dengan semua hal yang terjadi dalam hidupku. Makanya saat kehilangan bea siswa itu, aku bisa langsung menerima meski aku tahu aku tidak salah. Karena aku yakin, apapun yang terjadi di dunia ini adalah kehendakNya. Bahkan daun yang jatuh pun atas seizin Nya. Berpikirlah positif untuk segala sesuatu yang menimpamu, In Syaa Allah semua ujian yang datang akan bisa kita jalani dengan mudah."
"Apa Tuhan akan mengabulkan doaku jika aku memintanya?" tanya Bintang lagi.
"Tidak semau doa akan dikabulkan, akan tetapi apa pun yang Allah takdirkan untukmu pasti itu hal yang terbaik. Tapi, bukan berarti kamu tidak perlu untuk berdoa. Kamu harus tetap berdoa dengan sungguh-sungguh. In Syaa Allah, Allah akan mendengarkan semua doamu."
Bintang menarik napas panjangnya. Dia memperhatikan beberap dokter, perawat, dan keluarga pasien yang berbondong-bondong ke masjid untuk melakukan ibadah sholat subuh. Mendadak hatinya tergerak untuk ikut melakukanya.
"Kamu mau kemana?" tanya Arya saat melihat Bintang mulai melangkah.
"Aku ingin sholat, Pa. Aku ingin mendoakan Kak Cakra agar bisa sembuh," jawab Bintang. Dia kemudian berlalu dari sana.
Arya masih menatap putranya tak percaya. Sholat? Sejak kapan putranya itu berubah? Arya segera menyusul putranya yang sedang berjalan menuju ke masjid. Sebelum itu ia mengirmkan pesan kepada Amara.
[Ma, papa tinggal sholat dulu. Nanti kita gantian]
__ADS_1
[Bintang juga sedang pergi ke masjid sekarang]
Amara tersenyum getir menertawakan dirinya sendiri. Selama ini, sebagai seorang muslim, dia juga jarang melakukan ibadah wajib itu. Dia terus sibuk dengan pekerjaan dan pekerjaan. Di sisi lain, Amara juga terharu karena sakit Cakra kali ini membawa perubahan posotif bagi keluarganya.