
"Dasar Si Culun! Awas saja, gue pasti bakalan bikin perhitungan sama lo. Bisa-bisanya baju mahal gue di taruh begitu saja di lantai kamar mandi. Mana kena air bekas cucian piring. Awas saja dia!" Bintang terus mengomel sambil menyikat bajunya yang kotor. Sudah hampir setengah jam dia melakukan itu. Namun, masih banyak noda di baju mahalnya. "Apa disini nggak ada mesin cuci?"
Akhirnya Bintang membilas pakaiannya. Terserah itu sudah bersih atau belum yang jelas dia sudah capek. Ini untuk pertamakalinya pria yang selalu dilayani itu mencuci bajunya sendiri. Dia kemudian menggantung bajunya di tambang bersama dengan pakaian yang lainnya.
"Gue mau mandi, mana baju ganti buat gue?" tanya Bintang kepada Cahaya yang sedang menyapu lantai.
Cahaya tidak menjawab.
"Hei, lo denger gue ngomong kan?" Cahaya belum juga menjawab.
"Culun! Mau lo apa sih? Gue tanya baik-baik lho, kenapa lo nggak mau jawab?" Akhirnya Bintang emosi.
__ADS_1
"Aku punya nama dan nama aku Cahaya, lupa? Dan satu lagi, saat kamu mau minta tolong sama orang lain, bisa kan kamu bilang tolong! Hem?" jawab Cahaya. Bintang mengeram kesal.
"Cu... Cahaya gue mau mandi, bisa tolong pinjami aku baju lagi nggak!" Kali ini Bintang berbicara dengan pelan.
"Bentar, aku ambilin baju pamanku lagi," jawab Cahaya. "Btw kenapa kamu bohong sama Tante? Bukankah kamu masih punya orang tua?"
"Jangan ikut campur!" jawab Bintang ketus.
"Nih, hanya ada baju itu!" Cahaya menyerahkan baju di tanganya kepada Bintang.
"Kayaknya gue harus menghubungi anggota Mortal Enemy buat jemput gue disini sekalian gue mau bikin pelajaran buat dia. Bisa-bisanya dia mau nyingkirin gue? Awas saja, saat gue kembali ke markas, gue bikin perhitungan sama dia," gumam Bintang.
__ADS_1
"Sepertinya orang yang sudah nyelakain kamu anggota geng nggak bergunamu itu ya?" Bintang memberikan tatapan tajamnya kepada Cahaya. Dia memang paling tidak terima jika ada orang lain yang menghina anggota gengnya. Bagi dia, anggota Geng Mortal Enemy adalah keluarganya yang selalu ada untuknya dalam keadaan apa pun. Meski ternyata salah satu dari anggota geng itu sudah mengkhianatinya.
"Kenapa? Tersinggung? Kan kenyataannya memang begitu? Geng kamu cuma bisa nindas orang yang lemah." Cahaya mencibir.
Kembali Bintang memberikan tatapan tajamnya kepada Cahaya.
"Jangan karena lo sudah nolongin gue, terus lo bisa seenaknya saja hina anggota geng gue. Gue bisa lakukan apa saja buat orang yang sudah ngehina anggota geng gue," ujar Bintang.
"Wow, aku takut," sarkas Cahaya. "Denger ya. Jangan karena aku diam saja saat kamu dan anggota gengmu membullyku di kampus, kamu kira aku takut sama kalian? Enggak. Aku nggak takut sama kalian. Aku diam karena aku nggak mau buat keributan. Aku diam, hanya ingin bisa hidup tenang selama menempuh pendidikan di kampus itu dan tidak membuat paman dan tanteku kepikiran. Tapi, ternyata tindakanku dulu salah. Seharusnya aku melawan geng kalian dan tidak diam saja, hingga membuat kamu dan anggota gengmu merasa jumawa dan semakin semena-mena. Dan yang terakhir kamu dan anggota gengmu menuduhku yang tidak-tidak hingga membuat aku harus kehilangan bea siswa. Apa itu yang dinamakan berguna?" Cahaya balas menatap tajam Bintang.
"Apa?!"
__ADS_1
Teriakan dari arah pintu membuat Bintang dan Cahaya menoleh. Kedua mata mereka membeliak saat tahu pemilik suara teriakan tersebut.