Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Dua puluh dua


__ADS_3

Sudah seminggu Bintang tinggal di rumah Tante Laksmi dan selama itu pula dia sudah mulai terbiasa dengan semua kebiasaannya. Dia juga sudah tahu hal apa saja yang harus ia lakukan tiap bangun tidur hingga tidur lagi. Meski awalnya sempat menggerutu karena merasa berat dengan semua pekerjaan yang harus dilakukannya, seiring berjalannya waktu Bintang mulai menyukainya. Dari keluarga yang hidup serba pas-pasan itu, Bintang bisa merasakan kehangatan keluarga yang selama ini tidak pernah dirasakan.


Tante Laksmi yang cerewet, suka ngomel-ngomel tiap pendapatannya menurun, namun tetap menyisihkan uang untuk ditabung oleh Cahaya. Paman Cahyono yang tetap berusaha mencari nafkah dengan segala keterbatasannya, dan Cahaya yang tidak pernah mengeluh dengan segala hal yang menjadi takdirnya. Semua hal tersebut membuat Bintang sadar bahwa setiap orang di dunia ini memiliki ujiannya masing-masing. Dan mungkin ujian yang diberikan Tuhan kepadanya adalah memiliki orang tua yang tidak perhatian.


"Kenapa?" tanya Cahaya. Gadis bertubuh mungil itu duduk di bangku kosong di depan Bintang.


"Tidak. Setelah tinggal di sini gue baru sadar kalau selama ini cara gue melakukan protes kepada mama-papa gue itu salah," jawab Bintang.


"Protes? Maksudnya?" Cahaya menatap Bintang. Dia belum mengerti dengan kata protes yang dimaksud oleh pria itu.


"Sudahlah, lo nggak perlu tahu karena itu bukan urusan lo," jawab Bintang. Pria itu terlalu gengsi untuk menceritakan persoalan keluarganya.


"Ya udah kalau nggak mau ngasih tahu. Lagian aku juga nggak peduli kok sama hal apa pun yang berhubungan dengan cowok arogan kayak kamu," desis Cahaya.


Bintang hanya memutar kedua bola matanya. "Kita mau tutup warung sekarang atau nanti?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Cahaya mengecek keadaan sekitar. Ternyata sudah sepi dan sudah tidak ada orang nongkrong di sekitar tempat itu.

__ADS_1


"Aku tanya Tante dulu deh mau tutup sekarang atau nanti," jawab Cahaya beberapa detik kemudian.


"Tutup saja, Tante juga agak capek. Lagian mau nungguin apalagi kalau udah nggak ada orang nongkrong," ucap Tante Laksmi yang baru saja keluar dari arah dapur warung.


"Kalian berdua beresin bangku dan tendanya, Tante mau beresin peralatan dapur!" Tante Laksmi memberitahu hal yang harus dikerjakan oleh keponakannya dan Bintang.


Bintang dan Cahaya mulai melakukan tugasnya, keduanya menumpuk bangku-bangku yang terbuat dari plastik itu menjadi satu dan menyimpannya ke atas gerobak. Keduanya kemudian melipat tenda yang digunakan bersama-sama.


"Em... kamu sudah seminggu di sini, memangnya tidak apa-apa? Maksudku apa keluargamu tidak mencemaskanmu? Lalu bagaimana dengan kuliahmu? Kamu pasti ketinggalan banyak mata kuliah?" tanya Cahaya dengan hati-hati. "Kalau kamu mau pulang, aku bisa bujuk Tante kok buat menghentikan taruhan itu."


Bintang menghentikan aktivitasnya dan menatap Cahaya. "Dalam kamus gue nggak ada istilahnya gue kalah. Gue pasti bakalan menangin taruhan ini, lo lihat saja gue pasti bisa bertahan di sini sampai sebulan," jawab Bintang. Padahal bukan itu yang menjadi alasannya ingin tetap tinggal. Sejujurnya Bintang masih ingin merasakan kehangatan keluarga itu.


"Paling gue dikeluarin," jawab Bintang dengan nada santai.


"Ck, dasar pemalas! Seharusnya kamu itu bersyukur karena kamu bisa kuliah tanpa harus mikirin biaya nggak kayak aku. Bukan malah jadi pemalas seperti ini," cibir Cahaya.


Bintang tidak menanggapi. Sejujurnya setelah seminggu tinggal bersama keluarga Cahaya, akhirnya dia memiliki cita-cita yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya. Bintang ingin menjadi pebisnis di bidang kuliner yang sukses. Dia ingin mendirikan ruko-ruko gratis yang diperuntukan bagi orang-orang yang ekonominya lemah.

__ADS_1


"Ohya, sebenarnya kenapa kamu bisa sampai jatuh ke sungai? Waktu itu kamu kan belum menjawab pertanyaanku?" Cahaya masih penasaran penyebab Bintang jatuh ke sungai.


"Cepat selesaikan pekerjaan kita, aku juga mau cepat istirahat!" Bukannya menjawab Bintang kembali mengalihkan pembicaraan ke hal lain.


"Iya-iya, aku juga mau cepat istirahat kok," balas Cahaya. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Aya, Bintang, ke sini cepet!" panggil Tante Laksmi dari arah dapur warung.


Bintang dan Cahaya saling tatap sebentar sebelum akhirnya bersama-sama menjawab, "Iya, Tante."


"Cepet sini!" seru Tante Laksmi.


"Iya, Tante," jawab Cahaya dengan mempercepat langkahnya. Sayangnya karena kurang berhati-hati tanpa sengaja kakinya keserimpet dan hampir jatuh. Beruntung Bintang berhasil menarik pinggangnya sebelum benar-benar terjatuh dan membuat posisi keduanya seperti orang berpelukan.


Mata keduanya bertemu dan saling mengunci. Dan untuk pertama kalinya keduanya merasakan ada sesuatu yang aneh di hati mereka. Bahkan jantung keduanya berdegup berkali-kali lipat lebih kencang dari biasanya.


"Aya, Bintang, apa yang sedang kalian lakukan?"

__ADS_1


Suara Tante Laksmi sontak membuat keduanya tersadar dan segera membetulkan posisi mereka. Keduanya menelan ludah mereka sendiri kala Tante Laksmi menatap tajam keduanya.


__ADS_2