
"Dasar mesum!" omel Cahaya yang langsung bangun dari atas tubuh Bintang.
Iya, Cahaya tepat diatas tubuh pria yang disebutnya manja dan arogan itu. Dalam posisi yang sedang tidak siap, Bintang yang menyangga tubuh Cahaya agar tidak jatuh malah menyentuh dua benda kenyal milik gadis itu tanpa sengaja. Dan karena hal itulah keduanya berteriak.
"Ada apa sih ribut-ribut?" Tante Laksmi yang mendengar teriakan dua pemuda itu pun datang menghampiri.
Bukannya menjawab pertanyaan Tante Laksmi, Cahaya dan Bintang justru bungkam dan saling lirik.
"Lho kok malah diam? Kenapa barusan kalian berdua teriak?" Tante Laksmi mengulang pertanyaannya. Dia menatap Bintang dan Cahaya bergantian.
"Itu Tan, barusan dia jatuh di atas tub.... "
"Barusan Aya kepleset Tante, tapi si cowok manja malah ngetawain Aya, makanya Aya teriak," sela Cahaya. Dia tidak mau tantenya tahu bahwa barusan Bintang tanpa sengaja menyentuh miliknya.
"Terus kenapa kamu juga ikutan teriak?" pertanyaan kali ini khusus Tante Laksmi tujukan untuk Bintang.
Bintang melirik Cahaya yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari gadis itu.
"Karena dia teriak, aku secara refleks ikutan teriak juga Tante," jelas Bintang.
"Kalian berdua harus sadar, ini sudah malam. Teriakan kalian bisa mengganggu tetangga kita yang sudah tidur. Sekarang kalian tidurlah, besok kalian harus jualan berdua karena Tante mau nganter pamanmu check up. Semoga saja uang laba hari ini cukup buat biaya check up besok."
Bintang merogoh uang seratus ribu yang dalam kantong celananya dan memberikannya kepada Tante Laksmi. Uang itu adalah uang upah yang tadi diberikan oleh Tante Laksmi kepadanya. "Ambil uang ini juga Tante buat nambah-nambah," ucapnyanya.
"Tidak usah. Uang itu adalah hak kamu karena kamu udah bantuin tante dan bikin warung tante ramai. Doakan saja semoga uang yang tante pegang cukup," tolak Tante Laksmi. Dia mendorong pelan tangan Bintang.
"Tidak apa-apa, Tante. Aku tidak butuh uang itu, setidaknya sekarang." Bintang tetap memberikan uang seratus ribuan itu kepada Tante Laksmi.
"Ya sudah, tante terima. Anggap saja, tante hutang gaji kamu hari ini. Dan kalau jualan kita besok laris, tante akan kembalikan uang kamu ini." Akhirnya Tante Laksmi mau menerima uang tersebut. "Sekarang tidurlah dan kamu Aya, kamu juga masuk ke kamar. Nggak baik anak gadis berduaan dengan laki-laki bukan muhrimnya, apa lagi sudah larut malam."
"Aya cuma ngasih dia selimut dan lotion anti nyamuk aja kok, Tante. Lagian siapa juga yang mau deket-deket sama cowok arogan dan manja kayak dia," jawab Cahaya.
"Emang gue mau deketan sama lo? Gue juga ogah kali, lo bukan tipe gue," balas Bintang tak mau kalah.
"Ye, siapa juga yang ngarepin jadi cewek tipe kamu. Najis!"
"Gue juga najis deketan sama lo!"
__ADS_1
Bintang dan Cahaya kembali ribut dan saling melontarkan ejekan.
"Stop! Stop! Stop! Kalian berdua diam!" Tante Laksmi terpaksa menaikkan satu oktaf suaranya untuk membuat dua orang dihadapannya diam.
"Aya, kamu masuk ke kamarmu sekarang juga! Jangan bicara apa-apa lagi!" serunya kepada keponakan satu-satunya itu.
"Iya, Tante." Cahaya langsung masuk ke kamarnya, dia tak lagi berbicara.
"Dan kamu juga Bintang, tidurlah!" Bintang kembali berbaring dan menarik selimutnya untuk menutup seluruh tubuh.
Tante Laksmi kembali ke meja makan untuk menemani suaminya.
"Mereka berdua bener-bener ya, hobinya berantem mulu. Pusing aku," keluh Tante Laksmi.
"Apa di warung mereka juga begitu?" tanya Cahyono kepada istrinya.
"Nggak terlalu sih. Tapi, kalau ada kesempatan pasti ada aja hal yang mereka berdua ributkan," jawab Tante Laksmi. Dia kembali duduk di bangku kosong di depan suaminya. "Sudah. Kamu lanjutkan saja makan kamu, Mas!"
Cahyono mengangguk. Dia kembali menatap ke arah Bintang. Cahyono yakin, dia pernah mendengar suara pemuda itu. Hanya saja dia lupa dimana dia pernah mendengarnya.
Di markas Mortal Enemy
Faza, Aditya, Deny, dan Eros menatap motor yang dikendarai ketua geng mereka saat balapan semalam. Motor itu tampak rusak dibeberapa bagian karena jatuh ke sungai dari ketinggian. Menurut warga yang menemukan, tidak ditemukan seseorang di dekat motor tersebut, hanya ada dompet dan handphone yang sudah rusak.
Motor itu ditemukan oleh warga yang kebetulan suka menonton balapan liar antara Geng Motor Mortal Enemy dan Geng Motor Tiger. Orang tersebut juga kebetulan mengenal Faza, salah satu anggota Geng Motor Mortal Enemy.
"Apa kita harus melapor polisi soal ini? Biar mereka bisa bantu kita menemukan Bintang?" Faza meminta pendapat anggota yang lain.
"Tapi, jika kita lapor polisi, urusannya bakalan ribet. Yang ada kita semua malah diduga sebagai orang yang dengan sengaja mencelakai Bintang," jawab Aditya.
"Terus kita harus gimana? Diam saja gitu?" Deny terlihat marah.
"Bukan gitu, Den. Memangnya lo mau berurusan dengan hukum? Yang ada ortu kita bakalan tahu kalau kita masih tergabung dalan anggota geng motor. Padahal mereka semua ngelarang kita buat gabung geng beginian kan?" jelas Eros.
"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita nggak tahu sekarang Bintang dimana?" tanya Deny frustasi. "Jangan-jangan semua inu ulah Mario untuk mengalahkan geng motor kita?"
"Bisa juga sih. Tapi, kita nggak bisa nuduh tanpa bukti. Dan satu-satunya orang yang bisa ngebuktiin kalau semua ini adalah ulah Mario, cuma Bintang. Jadi kita harus temuin Bintang terlebih dulu," ujar Eros.
__ADS_1
"Dimana kita bisa cari Bintang?" pertanyaan keluar dari mulut Deny.
"Gimana kalau kita cari dia dengan menyusuri sungai dimana motor Bintang diketemukan? Siapa tahukan kita nemuin dia di sana?" usul Faza.
"Gue setuju," sahut Eros.
"Gue juga setuju," jawab Aditya. "Tapi, kita harus pilih ketua untuk sementara buat mimpin kita cari si Bintang."
"Kenapa harus cari ketua? Kita kan bisa cari sama-sama?" Faza mempertanyakan pendapat Aditya.
"Ini kan hanya sementara, Za. Kalau kita nyari sendiri tanpa dipimpin ketua, bisa-bisa kita nyari asal-asalan karena nggak ada yang ngasih komando," jelas Aditya.
Faza, Eros, dan Deny saling tatap. Ketiganya berusaha mencerna penjelasan Aditya barusan.
"Gue nggak setuju," sahut Deny. "Kita cuma nyari Bintang buat apa milih ketua baru? Ntar kalau tiba-tiba Bintang muncul dan tahu ada yang gantiin posisinya, dia pasti bakal marah sama kita," jelasnya.
"Gue rasa Deny benar. Kita cuma nyari Bintang, kenapa harus pilih ketua baru." Eros pun setuju dengan perkataan Deny.
"Gue juga nggak setuju." Faza pun mengungkapkan keberatannya.
"Gue juga sebenarnya nggak setuju, tapi kalau tiba-tiba Gengnya Mario nantangin kita, siapa yang bakalan menghadapi kalau bukan ketua? Kita nggak mungkin bertindak tanpa ada yang ngasih komando kan?" kembali Aditya menjelaskan tujuannya mencari ketua sementara.
Deny, Eros, dan Faza menghela napas mereka.
"Baiklah, tapi ini untuk sementara saja ya dan saat Bintang ditemukan, tanduk kepemimpinan itu harus kembali sama dia. Bagaimana?" ujar Deny.
"Oke, gue setuju," sahut Eros.
"Gue juga setuju kalau gitu." Faza ikut menimpali.
"Kalau begitu sekarang kita tunjuk orang yang pantas untuk memimpin kita gantiin Bintang sementara!" suruh Aditya.
Ketiganya kembali saling tatap dan berpikir siapakah dari mereka yang saat ini pantas menggantikan posisi Bintang.
"Kalau menurut gue yang cocok gantiin Bintang sementara adalah.... " Faza menggantung kalimatnya.
Eros, Aditya, dan Deny menatap Faza sambil menunggu pria itu menyelesaikan perkataannya.
__ADS_1