Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Enam Belas


__ADS_3

"Za, kok nggak dilanjut?" tanya Deny ketika Faza tidak melanjutkan perkataannya.


Faza menatap ketiga anggota geng Mortal Enemy yang lain. "Gue cuma ngerasa kalau diantara kita belum ada yang bisa gantiin posisi Bintang sebagai ketua," ucapnya dengan hati-hati. "Bukan gue meremehkan kalian, tapi entahlah. Gue hanya merasa kalau cuma Bintang yang paling cocok jadi ketua kita," imbuhnya.


"Gue juga setuju sih sama lo, cuma Bintang yang cocok jadi ketua kita." Deny berkata begitu sambil menepuk punggung Faza. "Tapi, yang dikatakan Adit juga nggak salah. Saat ini kita butuh seseorang buat mimpin kita selama Bintang belum ditemukan," imbuhnya.


Faza mengangguk. "Kalau gue disuruh milih, gue lebih setuju lo yang gantiin posisi Bintang sementara. Tapi, kalau yang lain punya pendapat sendiri juga nggak masalah," ujarnya kemudian menatap ketiga rekannya yang lain.


"Gue rasa yang lebih cocok buat gantiin posisi Bintang adalah Aditya sih, soalnya selama ini dia yang lebih tahu segala hal yang dilakukan oleh Bintang," sahut Deny.


"Tapi, Den. Kalau menurut gue, lo lebih cocok deh." Eros ikut menyahut.


"Ya udah kalau menurut kalian Deny orang yang cocok buat gantiin Bintang sementara, gue sih no problem," ujar Aditya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Gue rasa lo yang lebih cocok, Dit. Bukankah lo yang selalu ngedampingi si Bintang. Gue yakin, gaya kepemimpinan lo bakalan sama kayak Bintang." Deny justru lebih setuju jika Aditya lah yang menjabat sebagai ketua geng motor Mortal Enemy untuk sementara waktu.


"Gimana, Za? Lo setuju?" tanya Eros kepada Faza yang berdiri sedikit jauh dari tempatnya.


"Ya udah deh, kalau lo dan Deny udah setuju Adit yang jadi ketua, gue juga setuju," jawab Faza.


"Lo nggak keberatan kan, Dit, buat gantiin si Bintang?" tanya Deny.


Aditya menatap ketiga rekannya bergantian. "Kalau kalian nggak keberatan, gue sih nggak masalah," jawabnya.


***


Pukul 3 pagi Bintang membuka matanya karena ingin buang air kecil. Usai melakukan itu dia pun beranjak kembali untuk tidur. Namun, dia kembali bangun ketika mendengar suara seseorang sedang mengaji. Suaranya begitu lembut dan mententramkan hati. Sudah lama Bintang tidak pernah mendengar suara orang mengaji.

__ADS_1


Bintang pun bangun dari posisinya untuk mencari dari mana sumber suara mengaji itu berasal. Dan ternyata suara itu berasal dari kamar Cahaya. Dengan sangat hati-hati dia membuka pintu kamar itu dan melihat Cahaya yang sedang duduk membelakangi dirinya sambil mengenakan mukenah. Wanita itu terlihat sangat khusyu' membaca ayat-ayat suci al-qur'an sampai-sampai tidak menyadari kehadiran Bintang di sana.


"Shadaqallahul-'adzim." Cahaya mengakhiri bacaannya. Dia menutup al-qur'an dan meletakannya di atas meja. Tidak lupa ia juga melepas mukena dan melipatnya sebelum ditaruh di lemari.


"Astaghfirullah hal adzim," teriak Cahaya ketika melihat Bintang berdiri di tengah-tengah pintu pada saat ia akan kembali ke tempat tidur. "Ada apa? Kenapa kamu berdiri di situ? Bikin jantung orang mau copot aja," omel Cahaya.


Bintang masih diam. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Cahaya.


"Atau kamu kebangun karena suaraku ya? Maaf, aku nggak bermaksud buat ganggu tidur kamu. Lain kali aku akan lebih memelankan suaraku," ujar Cahaya. Dia takut pemuda yang saat ini berdiri di hadapannya terganggu karena suaranya.


Lagi. Bintang masih diam.


"Sekarang aku mau tidur lagi, lumayan masih ada waktu 1 jam lebih sebelum subuh. Tolong, tutup pintunya lagi ya!" pinta Cahaya sambil tersenyum.

__ADS_1


Lagi-lagi Bintang masih diam dan tidak menanggapi perkataan Cahaya. Tentu saja hal itu membuat Cahaya sedikit emosi. Dia kemudian menghampiri Bintang yang masih berdiri di tengah-tengah pintu.


"Aku mau tidur, silakan pergi dari sini!" usir Cahaya sambil berusaha menutup pintu. Namun sebelum pintu itu benar-benar tertutup Cahaya mendengar Bintang mengatakan sesuatu.


__ADS_2