Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Sebelas


__ADS_3

Sejak kejadian balapan motor yang dibubarkan oleh polisi, Bintang belum menampakan batang hidungnya ke markas. Tentu saja hal tersebut membuat semua anggota geng motor Mortal Enemy bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan ketua mereka. Apalagi nomor ponsel Bintang tidak bisa dihubungi.


"Sebaiknya kita telepon ke nomor rumahnya untuk mencari tahu. Siapa tahu dia memang sudah pulang, tapi lupa menghubungi kita," ujar Deny kepada anggota geng motor yang lain.


"Tapi, kalau gara-gara itu orang tuanya marah sama Bos gimana? Lo kan tahu, kedua orang tua si Bos paling benci anaknya bergabung dengan geng motor?" sahut Aditya.


Deny terdiam. Yang dikatakan Aditya ada benarnya juga. "Terus gimana caranya kita tahu kalau Bintang baik-baik saja? Nomor telepon dia aja nggak bisa kita hubungi," desis Deny.


"Apa jangan-jangan dia ketangkep lagi sama polisi karena balapan liar semalam?" tambah anggota yang lainnya yang bernama Eros.


"Nggak mungkin, si Mario aja bisa meloloskan diri dari polisi, masa Bintang kagak? Itu hal mustahil," balas Deny.


"Terus kalau bukan karena ketangkep polisi kenapa dia belum ke markas sampai sekarang? Menurut kalian aneh nggak sih?" kini giliran Faza yang berbicara.


Anggota geng motor Mortal Enemy terdiri dari 5 orang, Aditya, Deny, Eros, Faza, dan Bintang sebagai ketuanya.


"Apa jangan-jangan dia kecelakaan?" Aditya mencoba menerka-nerka.


"Kalau dia kecelakaan pasti beritanya sudah sampai ketelinga kita. Tapi ini kan enggak," sahut Deny.


"Bener juga sih, apalagi jika kejadiannya semalam. Kalau dia ditemukan warga atau polisi, pasti akan ada polisi yang bakal mencari kita untuk dimintai keterangan seputar kejadian semalam. Tapi, ini kan enggak." Lagi Eros ikut berkomentar.


"Den, tapi semalam gue nggak lihat lo di lokasi balapan. Lo kemana?" Aditya memberikan pertanyaan kepada Deny.


"Gue dateng sesaat setelah si Bintang dan Mario tancap gas. Pas gue mau nyusul, ternyata ada polisi patroli datang. Jadi, gue ikut lari lah," terang Deny menjelaskan.


"Benarkah?" tanya Aditya lagi.


"Kenapa? Lo curiga kalau gue yang lapor polisi soal balapan semalam?" Deny sedikit tersinggung dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Aditya.


"Bukan. Gue cuma tanya doang, soalnya kan pas kita berempat ke lokasi balapan cuma lo yang awalnya nggak kelihatan," balas Aditya lagi.


"Iya, itu karena motor gue bannya bocor." Deny memberikan alasan. "Tapi, pas balapan dimulai gue udah tiba kok di lokasi. Noh, Si Eros saksinya karena kita berdua sembunyi di tempat yang sama waktu ada polisi."


"Ouh, begitu." Aditya manggut-manggut.

__ADS_1


Saat itulah ponsel milik Eros berdering. Dia pun menjawab telepon itu terlebih dulu.


Entah siapa yang saat ini sedang menelpon Eros, akan tetapi Aditya, Faza, dan Deny langsung menatap ke arahnya ketika Eros tiba-tiba meninggikan suaranya sambil berdiri. Dari ekspresi yang terlihat, Eros seperti baru mendengar sesuatu yang tidak mengenakkan.


"Ros, ada apa?"


"Apa yang terjadi?"


"Siapa yang telepon?"


Tanya Faza, Aditya, dan Deny bersamaan. Eros belum menjawab. Dia menatap ketiganya dan terlihat bingung untuk menjawab.


***


Bintang kembali membuka mulutnya untuk menunjukkan senyum tiga jari. Entah sudah yang keberapa kali dia harus berpose yang sama dengan pengunjung yang berbeda-beda.


"Satu... dua... senyum!" Tante Laksmi memberikan interuksi.


Cekrek!


Kamera ponsel mengarah ke arah Bintang dan pengunjung yang didominasi oleh kaum hawa itu sedang berpose.


"Yah... Kalau harus beli 5 porsi bisa tekor dong saya," keluh seorang pembeli yang baru saja berfoto dengan Bintang.


"Itu urusan kamu," balas Tante Laksmi tak peduli. Yang penting hari ini dia bisa dapat keuntungan besar dengan adanya Bintang.


"Semua sudah selesai berfoto kan?" tanya Tante Laksmi memastikan bahwa pembeli yang hadir sudah selesai berfoto. "Yo wes, kalau sudah nggak ada yang ketinggalan kalian bisa makan makanan kalian."


"Bintang kamu juga boleh beristirahat!" Tante Laksmi menyuruh Bintang untuk beristirahat.


"Lho Tante, terus siapa yang bantuin Aya?" tanya Cahaya. Karena ramainya pembeli yang datang, Cahaya belum sempat beristirahat. Selain harus mengantarkan pesanan, dia juga harus bolak-bolik mengambil piring dan gelas yang kotor untuk dicuci. Belum lagi kalau Tante Laksmi sedang sibuk mengatur mereka yang mau berfoto dengan Bintang, Cahaya juga harus menggantikan pekerjaan tantenya.


"Nanti, Tante bantu. Sekarang biarkan Bintang istirahat. Siapa tahu nanti ada pembeli yang datang lagi dan mau berfoto sama dia. Dia kan nggak boleh terlihat kucel," jawab Tante Laksmi.


Cahaya hanya bisa mendesis kesal.

__ADS_1


"Bintang, kamu lapar tidak?" tanya Tante Laksmi.


"Lapar, Tante. Kalau aku tidak makan sekarang bisa-bisa aku pingsan saat ada yang minta berfoto," jawab Bintang.


"Aya, kamu dengarkan? Bawakan makanan untuk Bintang! Dia ini jimat keberuntungan untuk kita, jangan sampai dia kelaparan!" seru Tante Laksmi.


"Iya," jawab Cahaya ketus. Niat hati memberikan Bintang pelajaran dengan ide tinggal di rumah tantenya, kini malah dia yang justru kepayahan.


"Tante, perutku sudah lapar banget nih." Bintang melirik Cahaya, dia tahu wanita itu sedang kesal. Dan dia ingin membuatnya tambah kesal.


"Aya cepet dong! Kasihan, Bintang sudah kelaparan tuh!" suruh Tante Laksmi lagi.


"Iya-iya, ini sudah selesai kok," jawab Cahaya malas. Dia membawa piring berisi nasi, ayam goreng, sambal dan lalapan dengan nampan lalu menghidangkannya di hadapan Bintang.


"Minumnya, Tan." Bintang sengaja meminta meminta minuman kepada Tante Laksmi.


"Kamu mau minum apa? Teh, jeruk, atau apa? Biar Aya yang buatkan?" tawar Tante Laksmi.


"Aku mau teh manis, Tante."


Cahaya pun membuatkan teh manis dan memberikannya kepada Bintang. Tidak lama kemudian Bintang meminta minumanya diganti dengan jeruk hangat, setelah dibuatkan. Laki-laki itu kembali meminta dibuatkan kopi dengan alasan matanya mulai mengantuk.


"Kita kan nggak punya kopi, Tante," jawab Cahaya.


"Ah, iya. Tante lupa. Bintang, di warung Tante kan nggak nyediain kopi. Air putih aja gimana?"


"Yah, Tante. Tapi, mataku udah malai sepet ini." Bintang berpura-pura mengantuk. "Bagaiaman kalau pas ada yang minta foto lagi, Bintang malah merem?"


Tentu saja Tante Laksmi tidak bisa membiarkan hal tersebut.


"Aya, kamu beli kopi sachet sana di warung depan. Ntar kamu tuang sendiri, kalau langsung dituang mahal!" suruh Tante Laksmi.


Cahaya melotot ke arah Bintang. Namun, pria itu tidak peduli. Dia terlihat senang saat melihat ekspresi kesal Cahaya. Dengan terpaksa Cahaya melakukan hal yang disuruh oleh Tantenya. Dia kemudian menyeduh kopi sachet yang dibelinya. Untuk membalas Bintang yang dari tadi terus mengerjainya, Cahaya memasukkan sesuatu kedalam kopi buatannya tersebut.


"Lihat saja, apa setelah ini kamu masih akan mengerjaiku lagi?" gumam Cahaya. Wanita itu kemudian membawa kopi buatannya ke hadapan Bintang.

__ADS_1


"Silakan diminum!" Sambil tersenyum Cahaya mempersilakan.


"Terima kasih," ucap Bintang. Bintang mengangkat gelas berisi kopi itu dan meniupnya. Perlahan dia mulai mendekatkan kopi tersebut ke mulutnya.


__ADS_2