Cahaya Untuk Bintang

Cahaya Untuk Bintang
Bab Delapan belas


__ADS_3

Tante Laksmi dan Paman Cahyono masih duduk di depan rumah sakit. Keduanya bingung caranya untuk pulang ke rumah. Padahal malam sudah semakin larut. Bahkan sudah tidak ada lagi pasien yang ada di sana kecuali pasien ranap inap.


"Apa kita jalan kaki saja ya, Mas?" tanya Laksmi kepada suaminya duduk di kursi roda.


"Tapi, apa kamu tidak capek, Mi? Jarak rumah sakit ke rumah kita kan lumayan jauh?" jawab Cahyono.


"Tapi, Mas, kalau kita nggak pulang-pulang, Cahaya pasti khawatir sama kita."


"Iya, sih. Tapi, aku kasihan sama kamu, Mi kalau harus jalan kaki dan mendorongku," ujar Cahyono.


"Ya mau gimana lagi, Mas. Masih untung tadi kita nggak perlu bayar biaya obat dan check up karena bertemu dengan dokter yang baik hati. Coba kalau enggak? Ini gara-gara aku kurang hati-hati. Makanya tasku sampai dicuri orang," sesal Laksmi.


Iya, pagi tadi saat naik bus menuju ke rumah sakit, Laksmi kehilangan tas dan seluruh isinya. Beruntung dia bertemu dengan seorang dokter yang mau membawanya ke rumah sakit dan membiayai semuanya.


"Apa kita nggak sebaiknya telepon Aya saja, suruh dia jemput ke sini?" tanya Cahyono.


"Saat ini Aya pasti masih di lapak jualan, kasihan kalau dia kita suruh jemput ke sini."


"Terus?"


"Ya udah kita jalan kaki saja, Mas. Nggak apa-apa kalau sampai rumahnya kemaleman yang penting kita nggak nyusahin Aya. Sejak pagi dia pasti sudah sibuk ngurusin jualan kita."


"Yo wes, Mi, terserah kamu. Tapi, kalau kamu capek kita istirahat ya? Aku nggak mau kamu malah ikutan sakit ntar," balas Cahyono.


"Iyo, Mas," jawab Laksmi. Dia mulai mendoronv kursi roda suaminya.


"Lho, Kalian berdua belum pulang?" tanya seorang dokter yang baru saja keluar dari rumah sakit. "Apa keluarganya belum datang menjemput?" tanya Dokter itu lagi.


Laksmi dan Cahyono hanya saling tatap. Keduanya tadi memang sempat berbohong kepada sang dokter bahwa mereka akan dijemput oleh keluarganya saat pulang nanti.


"Oh... itu, keponakan saya masih di jalan. Jadi, sambil nunggu dia sampai kita mau jalan kaki dulu. Soalnya bosan kalau harus nunggu di sini kelamaan," dusta Tante Laksmi.


"Mi, apa nggak sebaiknya kita minta tolong lagi saja sama Pak Dokter itu?" pertanyaan Cahyono kepada istrinya membuat dokter tersebut kembali menatap mereka penuh tanya.


"Mas, nggak enak kalau kita harus minta tolong terus," jawab Laksmi setengah berbisik.

__ADS_1


"Tapi, Mi.... "


"Hust...." Laksmi menyuruh suaminya untuk diam.


"Jangan-jangan kalian belum menghubungi keponakan kalian ya?" tebak dokter itu. "Ah, saya lupa tas kalian kan dicuri gimana kalian saja nggak punya uang. Jadi, kalian pasti belum menghubungi keponakan kalian."


Kali ini Tante Laksmi dan Cahyono kembali diam.


"Berapa nomor telepon keponakan kalian biar saya telepon!" Dokter itu sudah bersiap dengan telepon genggamnya.


"Biasanya jam segini keponakan kami sedang jualan, dia pasti sangat sibuk. Memang sih kalau dia tahu kami terlunta begini, dia pasti akan meninggalkan tempat jualannya dan menjemput kami. Tapi masalahnya, keponakan kami itu perempuan. Kami yang khawatir kalau dia menjemput kami sendirian pakai angkot apalagi malam begini. Jadi, kami memutuskan untuk jalan kaki saja," jelas Tante Laksmi.


Dokter itu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Jam itu menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Ya sudah. Biar saya yang antar kalian pulang. Kebetulan saya sudah free."


"Tidak usah, Dok!" tolak Laksmi dan Cahyono bersamaan.


"Kenapa?"


"Kami sudah merepotkan Anda sejak pagi tadi. Anda sudah bayarin biaya check up dan obat suami saya. Masa sekarang kami masih harus ngerepotin dokter lagi," jawab Tante Laksmi.


"Kami jualan pecel lele, ayam goreng, dan ayam bakar," jawab Tante Laksmi lagi.


"Nah, kebetulan saya lagi pingin makan itu. Jadi, gimana kalau sebagai bayaran atas tumpangan yang saya berikan kali ini, kalian memberikan makanan itu secara gratis buat saya. Bagaimana?" Dokter itu memberikan tawaran. Ia tahu kalau ia terus memaksa untuk mengantar pulang tanpa minta imbalan, pasti mereka akan menolak bantuannya. Jadi, dokter itu sengaja menawarkan hal tersebut.


"Kalau begitu baiklah, kami setuju," jawab Tante Laksmi yang akhirnya mau menerima bantuan dari dokter itu lagi.


"Saya ambil mobil dulu ya, kalian tunggu di sini dan jangan kemana-mana!" suruh dokter itu.


"Iya, Dok. Sekali lagi terima kasih." Dokter itu tersenyum. Gegas dia pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya.


Tidak lama dokter itu kembali dengan mobil mewah miliknya. Dokter itu turun untuk membantu Cahyono masuk ke dalam mobilnya.


"Dimana alamat kalian?" tanya Sang Dokter.

__ADS_1


"Jalan Melati nomor 235A. Sekali lagi terima kasih ya, Dok. Dan maaf karena ngerepotin," jawab Tante Laksmi.


"Iya, sama-sama."


"Oh iya, Dok. Kalau boleh tahu siapa nama Dokter?" tanya Tante Laksmi.


"Mi, Mi, masa tulisan gede di jubah dokternya tadi kamu lihat?" desis Cahyono.


"Aku kan nggak merhatiin, Mas. Memangnya Mas lihat?" jawab Laksmi.


"Lihat lah, kalau tidak salah namanya Dokter Cakrawala Satya Bimantara. Bener nggak, Dok?"


"Iya, benar. Nama saya memang itu. Kalian cukup panggil saya Cakra saja," jawab sang donter yang bernama Cakrawala. "Saya sudah bisa menjalankan mobilnya sekarang kan?"


"Iya, Dok. Bisa-bisa," jawab Laksmi dan Cahyono bersamaan.


Mobil yang dikendarai Cakrawala itu pun mulai melaju meninggalkan rumah sakit.


Perjalanan dari rumah sakit menuju ke rumah Tante Laksmi membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam. Setelah menempuh perjalanan selama itu, akhirnya mobil itu pun tiba di rumah yang sangat sederhana milik Laksmi dan Cahyono.


"Kok lampunya masih mati? Apa mereka belum pulang ya?" gumam Laksmi saat melihat rumahnya masih dalam keadaan gelap.


"Sebentar ya, Dok. Saya ambil kunci di tempatnya Pak Mantri dulu," pamit Laksmi.


"Iya, silakan," jawab Cakrawala.


Gegas Laksmi pergi ke rumah Pak Mantri untuk mengambil kunci rumahnya. Tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa kunci di tangan.


"Mi, kamu antar saja Dokter Cakra ke lapak dagangan kita!" seru Cahyono.


"Tapi, kamu gimana, Mas?" tanya Laksmi.


"Kita sampai rumah, jadi jangan khawatir. Lagian kasihan kan Dokter Cakra dia pasti sudah lapar," jawab Cahyono.


"Yo wes, aku ke lapak sekarang. Sekalian nanti aku bawain kamu nasi dari sana." Cahyono mengangguk.

__ADS_1


"Ayo, Dok. Kita ke lapak jualan keponakan saya!" ajak Tante Laksmi.


"E... baiklah," jawab Cakrawala. Padahal dia bohong soal ingin makan ayam tadi. Tapi, mau menolak rasanya juga tidak enak. Akhirnya ia pun setuju untuk ke tempat jualan keponakan Tante Laksmi.


__ADS_2