Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 17 Tiba-Tiba jadi Tim Raka


__ADS_3

"Pagi Bang." Sapaku yang sudah siap menyambut pekan baru di hari senin ini.


"Lo ceria banget By." Sapanya balik tanpa mengucapkan pagi juga atau salam apapun.


"Enggak, justru gue kebalikannya." Jawabku sembari mengeluarkan laptop dari dalam tas tangan.


"Kemarin gimana? Sudah tahu siapa orangnya?" Ia memastikan lagi siapa pelaku yang hampir menyerupainya itu.


"Gak tahu gue, Bang. Ya sudahlah ya mungkin orang iseng atau gimana."


"Ada yang mau lo ceritain?" Tanyanya sembari menyalakan laptop yang berada di hadapannya.


"Entar aja deh pas istirahat, lebih minta saran aja Bang." Balasku.


"Oh ya, hari ini ada yang bisa gue bantu gak?" Tambahku lagi.


"Sepertinya belum ada sih By. Sementara lo bisa baca-baca dulu aja, entar kalo ada hal yang bisa gue sortir untuk lo bantu kerjakan pasti gue langsung info."


"Oke deh Bang, gue lanjut baca dulu ya."


Sesekali aku mengamati Gilang, pria yang hari ini mengenakan baju putih dengan tampilan rambut klinis. Ia terlihat fokus banget menghadap ke laptopnya, dari intipan sedikit ini, bisa jelas terlihat bahwa ia sedang mengerjakan persiapan untuk presentasi. Ku coba tolehkan kepalaku ke arah berlawanan, terlihat Ahmad asik bermain dengan ponselnya, sementara Alfi sibuk memberikan highlight pada bacaan yang sedang ia buka.


"Duh bosan juga ya kalo begini mulu." Desisku dalam hati.


Aku memperhatikan ponselku dan terlihat ada beberapa notifikasi yang baru muncul setelah ku cek. Sebab kondisi ponsel yang silent tentu saja aku tidak dapat mendengar bunyi pesan-pesan yang masuk.


Pesan teratas atau yang paling terbaru sampai dari Azka.


[By, nanti malam keluar yuk.] 08.50


[Balas dulu By] 08.55

__ADS_1


"Dih gila ini orang." bisikku dalam hati yang langsung keluar dari room chatnya tanpa ada pesan yang ku respon.


Lalu di daftar kedua terdapat pesan dari Kania.


[By, setelah gue berpikir ulang tentang obrolan kita kemarin. Gue minta maaf banget kalo ada kata-kata gue yang menyakiti lo atau membuat lo jadi benci dengan Azka.] 05.45


Tanpa menundanya, aku langsung membalas pesan dari Kania.


[Kania, gue gak pernah terganggu apapun. Dari awal emang gue sudah gak bisa dengan Azka. Jadi, jangan menyalahkan diri lo sendiri ya. Justru gue terima kasih banget lo udah mau terbuka dengan gue, sehingga membuat diri gue semakin yakin bahwa ia bukan yang terbaik buat sisa hidup gue.] 09.10


Belum lagi menutup aplikasi chat online ini, sudah terdapat pesan baru dari Azka lagi.


[Online sih tapi gak dibalas.] 09.10


"Sumpah ini orang toxic banget." Ucapku yang tanpa sadar terdengar oleh Gilang.


"By, ada apa?" Tanyanya memastikan aku berada di kondisi yang baik-baik saja.


"Bukannya kerja malah main ponsel dan ngobrol. Ini bagaimana sih, Lang?" Tegur pria yang sumber suaranya berada di depanku berhasil membuatku kaget seperti ingin melemparkan ponsel yang sedang ku pegang ke wajah pria di hadapanku ini.


"Baru juga ini nanya." Jawab Gilang dengan ketus seolah sudah amat kesal dengan perilaku Raka.


"Ini anak-anak intern pada mengerjakan apa?" Tanyanya dengan tatapan mata ke arahku dan kedua temanku.


"Belum ada Mas, masih diminta baca-baca dulu aja." Ucap Alfi si wanita cuek yang benar-benar tidak bisa diajak kerjasama.


"Yang benar saja, bro! Udah hari ke berapa ini mereka belum ada beban kerja yang pasti. Sementara di divisi gue lagi sibuk-sibuknya. Apa dua anak magang dari divisi lo gue transfer ke divisi gue aja ya? Soalnya kan gap banget nih, lo masih gabut sementara gue lagi hectic." Ujar Raka yang mencoba memberikan tawaran kepada Gilang terkait prosedur transfer anak magang.


"Ya sudah kalo memang di divisi lo lagi urgent banget dan butuh sumber daya, silahkan disesuaikan saja, bro." Jawab Gilang namun sorotan matanya masih fokus kepada layar laptop.


"Boleh deh, nanti gue urus ke human resource dulu ya. Kalo bisa hari ini udah bisa transfer supaya anak barunya paham dulu alur kerja dan data-data yang dibutuhkan untuk studi. Siap ya diantara kalian bakal gabung dengan divisi gue." Ungkap Raka yang begitu semangat untuk memanfaatkan anak-anak intern ini.

__ADS_1


Gilang tak menjawab lagi, mungkin sudah terlalu jengah baginya mendengar celotehan dari Raka. Setelah Raka pergi yang katanya mau urus ke human resource, aku menghampiri Gilang.


"Bang, yakin kalo anak magang di divisi lo jadi tinggal satu doang?" Tanyaku yang masih memastikan atas keputusan terserahnya pria ini.


"Gak akan permanen sih harusnya kalo dari perspektif human resource, sebab asalnya tetap dari divisi ini, jadi kayaknya hanya permintaan transfer dengan durasi berapa lama gitu." Jelasnya dengan tatapan matanya masih mengarah ke persiapan presentasi.


"Syukur deh, gue kira bakal sampe akhir periode magang pindahnya."


"Engga kok, biasanya per project. Jadi ada beberapa orang untuk pegang atau urus satu project. Nah tim sebelah lagi kewalahan karena begitu banyak project untuk memenuhi kegiatan development." Jawabnya dengan santai.


Meski cuma sementara berada dibawah naungan divisi Raka, jika aku yang terpilih juga pasti akan berat menjalaninya sebab Raka tipikal pria keras dan menuntut perfeksionis, justru akan sulit bagiku kerja dibawah tekanan olehnya.


"Semoga bukan gue." Hanya satu kalimat itu yang bisa aku latunkan dan sekaligus doakan agar bisa terhindar dari pria yang serba aneh tersebut.


Selang 30 menit, Raka kembali lagi ke hadapan meja Gilang, namun aku masih bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang mereka bicarakan.


"Bro, gue sudah urus masalah transfer anak magang. Prosedurnya cuma berikan memo doang ke human resource terus dari lo juga udah setuju kan. Tadi gue mengajukan dua nama yaitu Gaby dan Ahmad." Ujarnya.


"Sial!!!! Nama gue disebut lagi." Ucapku dalam hati.


"Lo kenapa wajahnya merah gitu? Lo nguping pembicaraan kami?" Tanya Raka kepadaku yang sudah jelas wajah ini langsung memberikan respon terlihat oleh khalayak yang menatapnya.


"Iya terdengar." Ucapku ketus.


Gilang menoleh ke arahku, dan langsung berucap sembari menatap tajam mata Raka yang berada di depan matanya.


"Lo bisa ajukan Alfina dan Ahmad kan? Kenapa harus Gaby?" Ucap Gilang yang sepertinya paham bahwa aku butuh pembelaan dari mulutnya.


"Apa dasar lo untuk memihak Gaby agar tidak boleh gabung bersama divisi gue?" Tanya Raka dengan menampilkan senyum sinis ke arah Gilang.


"Kondisinya kemarin Gaby sudah ikut meeting juga kan. Sementara Ahmad dan Alfina beneran belum mengerjakan tugas apapun. Sehingga ya akan lebih baik apabila mereka diberikan kejelasan dalam pekerjaannya." Ucap Gilang yang mencoba memberikan arahan kepada Raka agar ia melepasku saja dan menggantikannya dengan Alfina yang jauh lebih pintar dan teliti dibandingkan diriku.

__ADS_1


__ADS_2