Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 21 Gosip Kantor!


__ADS_3

"Gila tuh manusia!!!" Gilang yang terdengar mengumpat membuatku bergidik melihatnya.


Setelah Raka pergi dengan segala hinaannya kepadaku, Gilang tak lantas tinggal diam. Ia menyiapkan kuda-kudanya sebagai bentuk pertarungan yang akan ia lakukan. Namun untungnya genggaman tanganku cukup kuat menahannya, belum lagi seantero ruangan sudah berdiri untuk memisahkan wajah-wajah ketegangan di depan mejaku.


Raka yang sudah merasa suasana tidak kondusif memilih pergi dan masuk ke ruangannya, meninggalkan tanda tanya besar di pikiran penonton yang bingung dengan sikapnya begitu kasar.


Sementara Gilang sudah berhasil aku tenangkan dengan berbagai cara agar ia tak serta merta langsung menghajar si pria arogan yang punya kuasa itu.


"Udah Bang. Minum dulu coba." Aku yang masih mencoba menenangkan Gilang.


Raut wajahnya merah padam dan dari wajahnya jelas banget keringat bercucuran.


"Gimana? Sudah tenang?" Aku menyapanya dengan pelan memastikan kondisinya aman dan terkendali dari segi emosi.


Ia hanya menganggukkan kepalanya.


Sesekali aku melihat seantero ruangan yang terlihat jelas sedang membicarakan tentang kami. Entah apa isi obrolan mereka, namun jelas saja sesekali tatapan mata mereka mengarah kepada kami.


"Lo gak apa-apa, By?" Gilang juga memastikan kondisiku.


"Gue gak apa-apa kok, aman Bang. Udah lo jangan emosi lagi ya, gue bisa kok menghadapi pria aneh itu." Aku yang terus mencoba memberikan ketenangan kepada Gilang agar ia bisa melupakan kejadian ini.


"Besok kalo pria gila itu menghardik lo, lo harus bilang ke gue ya." Jelas banget terlihat dari tatapannya yang tajam bahwa pria yang sedang berada di depanku amat khawatir dengan kondisiku setelah pindah ke divisi Raka.


"Iya Bang. Tenang aja."


"Jangan tenang-tenang, By. Lo harus janji!" Ujarnya yang seperti tidak butuh kata-kata ketenangan lagi, dan justru ia menyodorkan jari kelingkingnya agar berkaitan dengan kelingkingku sebagai bentuk ucapan janji yang harus segera ditepati.

__ADS_1


"Astaga iya, Bang. Mungkin ini juga kesempatan gue untuk belajar sabar dalam menghadapi bos gila seperti Mas Raka. Gak apa-apa, ya gue anggap sih bagian dari pembelajaran menuju tahap dewasa hehehe." Ujarku sembari menyeringai. Aku terus mencairkan suasana agar ia tidak terlalu mengkhawatirkan kondisiku besok yang juga sebetulnya aku sama khawatirnya dengan nasibku pasca pindah ke divisi Raka.


Setelah Gilang tampak tenang, aku kembali ke mejaku untuk melanjutkan aktivitas sebagai anak magang, sekaligus menghindari fitnah ibu-ibu yang sedari tadi memperhatikan kami.


Selama 30 menit aku kembali dari meja Gilang, aku berdiri lagi untuk ke toilet yang berada di pojok sana, sehingga harus melewati beberapa meja yang kebanyakan adalah ibu-ibu. Selama menyusuri jalan antar meja ini, aku tetap menunduk sembari mengedepankan tangan kananku dengan kondisi telapak terbuka sebagai wujud ungkapan permisi pada orang yang lebih tua.


"Permisi Bu saya izin lewat. Permisi Bu, permisi Bu." Hingga sampai tepat berada di depan pintu toilet.


Ketika masuk ke dalam toilet, ternyata bersamaan pula dengan Kania yang baru saja keluar dari toilet, sehingga kami berpapasan dan saling sapa. Oh ya, di dalam lantai kantor ini, meskipun terdapat dua divisi yang berbeda, namun fasilitas umum hanya satu, satu toilet wanita, satu toilet pria, satu pantry, satu pintu masuk, dan satu musholla. Sehingga mau bagaimanapun sebetulnya kesempatan untuk bertemu antar divisi sangat besar. Namun, karena aku hanya keseringan duduk dan mungkin pula karena waktunya tidak tepat, sehingga aku tidak pernah berkesempatan bertemu ataupun berpapasan dengan Kania.


"Eh tumben banget kita berpapasan." Tegur wanita seumuranku ini yang menyapa dengan paras cantiknya.


"Eh Nia, iya ya. Biasanya malah kita gak pernah bertemu gini meskipun satu lantai hahaha." Jawabku.


"Nah, mumpung ada orangnya langsung, gue mau menanyakan perihal yang tadi."


Kania yang harusnya kembali ke meja kerjanya, justru menarik tanganku lagi ke dalam toilet wanita ini.


"Buru By cerita. Parah banget soalnya di sayap kerja gue gosip cinta segitiga lo berhembus kuat banget sampai tadi gue mau ke toilet ini, gue masih dengar orang-orang pada gosipin lo." Ungkap Kania yang memberikan sedikit informasi terkait fitnah ini.


"Serius Nia?" Tanyaku yang tak langsung percaya dengan apa yang ia ungkapkan. Sebab sepertinya sangat tidak mungkin berita receh begini mudah untuk mereka serap secara mentah-mentah tanpa ada sumber yang valid.


"Iya. Makanya gue kaget banget, dan niatnya pulang nanti gue mau langsung ke meja lo dan mengajak lo untuk makan malam bersama sembari menceritakan selengkap-lengkapnya tentang kejadian hari ini."


"Duh, apa yah isi topik pembicaraan mereka. Gue merasa gak nyaman banget jadinya, mana gue baru banget masuk dan statusnya juga cuma anak magang, Nia." Jawabku dengan raut wajah panik seperti tidak menerima segala bentuk komentar staff permanen disini, terlebih dari sisi umur punya gap yang lebih jauh.


"Gue cuma dengar beberapa kata doang sih tadi waktu lewat."

__ADS_1


"Apa yang lo dengar, Nia?" Aku begitu penasaran tentang isi gosip dan fitnahnya.


"Ya mereka ada nyebut skandal, cinta segitiga, dan bahkan ada yang sampai bilang mentang-mentang cuma anak magang terus seenaknya saja rayu sana sini."


Deg...


Seolah perasaan ini dicambuk.


Mendengar apa yang telah disampaikan oleh Nia membuatku nangis kejer, seolah tidak terima atas segala ucapan yang mereka gaungkan. Lebih tak terbayang lagi apabila obrolan gosip dari sini, mereka bawa ke divisi-divisi lain.


"Gimana caranya supaya gue perbaiki citra gue disini ya, Nia?" Tanyaku dengan terbata-bata.


"Menurut gue lo gak harus melakukan apa-apa atau butuh cara apapun karena badai akan berlalu, kan? Sekarang tugas lo fokus dulu untuk pindah program divisi, dan jangan kepikiran apapun tentang gosip itu. Lo cukup hadapi saja kencangnya badai ini." Pesan Kania yang membuatku terdiam.


"Apakah gue sanggup menjalaninya?" Tanyaku lagi yang tak sekuat dibayangkan.


"Astaga Gaby, lo pasti sanggup kok. Ini cuma gosip semata dan diantara kalian juga faktanya tidak saling berhubungan kan? Lantas apa yang lo takuti?" Ungkap Kania yang masih terus mencoba menenangkan sahabatnya ini.


"Lo kapan emangnya bakal pindah ke sayap gue?" Tambah Kania seolah mengalihkan topik pembicaraan.


"Besok Nia."


"Ha? Serius? Gue kira masih minggu depan!" Celoteh Kania yang tentu saja diluar dugaannya, aku bisa pindah divisi secepat itu.


"Iya serius. Ya sama juga kagetnya gue dengan lo. Gue kira masih minggu depan sehingga gue masih cukup tenang untuk sementara waktu. Namun, karena harus besok banget ya apa boleh buat." Ucapku lirih dan pasrah akan keadaan yang harus ku hadapi hari demi hari.


"Jujur ya By, selama gue kerja dengan Mas Raka dia baik banget kok. Dia pasti memberikan pelatihan terlebih dahulu, kan?" Ungkap Kania yang sepertinya sudah paham seluk-beluk atau prosedur ketika ada anak baru yang ditempatkan di bawah divisi Raka.

__ADS_1


"Tadi sih katanya ada prosedur dulu, cuma gue juga gak tahu, Nia. Mungkin lo bisa bantu gue dengan memberikan daftar bacaan yang bisa jadi referensi?" Aku memastikan agar tetap memiliki support system untuk mengaktualkan misi yang sudah terkonsep di dalam kepala.


__ADS_2