
"Ini lo mau ajak kerjasama kami dengan seperti ini, Ka?" Tentu saja kalimat ini keluar dari mulut Gilang yang masih penuh dengan tanda tanya tujuan teman prianya apa sampai buat perjanjian dengan isi segitunya.
"Kan udah jelas supaya rencana kita berhasil, kalian berdua harus dibawah naungan gue dan jangan berkhianat." Ujarnya dengan tegas sembari menyeruput es kopinya.
Jujur saja ini membuatku hampir gila memikirkan siapa sesungguhnya sosok Raka ini dengan semua teka-teki yang ia bangun sedar awal pertemuan dan puncaknya adalah sekarang ketika meminta kerjasama, namun, karena statusku yang cuma anak magang aku tidak bisa berkata lebih banyak. Semua ku percayakan saja kepada Gilang yang tentunya lebih paham tentang ini.
"Gimana Bang?" Aku berbisik kepada pria yang tepat berada disampingku.
Ia meletakkan kertas yang tadi tengah ia baca dan menoleh bertatapan mata denganku. Terlihat mata coklatnya yang begitu indah bertemu dengan kedua mataku.
"Lo gak keberatan dengan isinya?" Justru ia bertanya balik atas kesediaanku dalam misi ini.
"Hadeh, jangan lama. Kita gak punya banyak waktu. Kalau kalian mau mesra-mesraan entar aja setelah gue pergi." Celetuk Raka.
"Huft, ya sudah nih gue tandatangan." Balasku secara spontan yang sebetulnya tanpa sengaja juga terucap karena melihat manusia di depanku ini amat menyebalkan, sehingga akan aku turuti dan terlibat dalam misi ini sekaligus berharap agar aku bisa tahu siapa sebenarnya sosok Raka di dalam perusahaan ini.
Gilang menahan tanganku.
"Lo yakin?" Ia bertanya sekali lagi seolah memintaku berpikir lebih lama untuk menyetujui atau menolak rencana ini. Aku pun jadinya berdegup sebab sepertinya akan ada hal yang besar secara tidak langsung yang telah dikode oleh Gilang, namun tak ia terangkan dengan jelas.
"Yakin." Dengan cepat aku langsung menandatanganinya.
__ADS_1
Ya meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, yang pasti saat ini aku ingin menantang Raka bahwa aku sanggup menjalankan misi yang katanya mau ia handle dengan bantuanku dan Gilang. Tentu saja yang kedua, karena aku tahu Gilang pasti selalu disamping untuk melindungiku sehingga tak ada kekhawatiran yang berlebihan.
Setelah Gilang melihat ku menandatangani lembar dokumen itu satu per satu, ia menghembuskan nafasnya seolah tidak punya pilihan lain sehingga ia pun turut menandatanganinya.
"Oke bagus. Sekarang kalian masing-masing pegang satu lembar sebagai bentuk perjanjian kita dalam misi ini." Ucap Raka sembari mengambil satu lembar untuk ia pegang.
"Mas, belum tandatangan di lembar yang kami pegang." Celetukku sebab bubuhan tandatangan ini tidak lengkap karena ia belum menandatanganinya di depan kami.
"Gue perlu tandatangan depan kalian juga?" Tanyanya. Jelas saja ini orang sangat buat perasaan, otak, tubuh kian mendidih kepanasan.
"Ya iya, kan Mas minta kami tandatangan perjanjian, ya Mas juga harus tandatangan dong. Gimana kalau justru Mas yang membocorkan semua rahasianya? Kan kami gak tahu." Balasku seolah tidak ingin mengalah dari pria aneh ini dan memang sangat menjengkelkan jika dilihat-lihat dari tingkahnya.
"Ya sudah mana lembar kalian." Pintanya.
"Puas?" Dengan sinis ia menatapku.
"Ya memang gitu aturannya, jadi gak perlu juga ada state kepuasan dari gue." Jawabku dengan ketus kali ini pasti sengaja.
Setelah aku dan Gilang menyimpan lembar kertas ini ke dalam tas, ia langsung mengutarakan apa yang menjadi misi dia dalam waktu tiga hari ini untuk membungkam semua informasi media sekaligus menarik investor secara tertutup.
"Gue akan membagi tugas mulai dari sekarang, dan gue harap lo sebagai anak yang baru kerja sudah bisa langsung adaptasi." Ia menekankan berulang-ulang kalimat itu.
__ADS_1
"Memang apa sih Ka?" Tanya Gilang yang masih bingung juga dengan tujuan pria ini.
"Jadi, dalam waktu tiga hari ini, kita bagi tugas. Gue akan masuk ke dalam atasan audit untuk memberikan justifikasi yang kemarin telah kita obrolin, kedua lo Gilang, bicara dengan kepala pusat penyiaran untuk menghentikan semua informasi terkait audit ini, dan lo anak baru, lo harus cari investor dalam waktu tiga hari. Bisa? Sanggup?" Ujarnya dengan sedikit berbisik sebab tidak ingin orang lain yang melintas mendengar percakapan ini.
"Ha? Gue diminta cari investor? Cari dimana?" Tanyaku kaget. Gila aja, selama sekolah, kuliah, boro-boro cari investor atau sponsor untuk pengadaan acara, bahkan ikut kepanitiaannya aja enggak.
"Ya lo harus bisa cari, dan gue gak peduli gimanapun cara lo, lo harus bisa mencari investor itu." Jawabnya yang seperti melepaskan sepenuhnya kepadaku.
Gilang menatapku seolah bertanya apakah aku bisa menjalani misi berat ini.
"Wah gila aja Mas, dalam waktu tiga hari gue harus cari dimana tuh investor." Kali ini aku tidak bisa bungkam lagi, aku ungkapkan seutuhnya apa yang ada dipikiranku. Sebab ini tugas yang amat berat, ditambah aku pun tidak punya koneksi atau jejaring ke siapapun apalagi sampai ke orang-orang yang berduit kecuali.......
Azka.
"Ya itu tantangan untuk lo, jangan lembek dong. Coba dulu cari, screening, terus lo dekatin calon investor lo, kasih proposal yang buat mereka tertarik untuk investasi di perusahaan kita." Celotehnya.
"Tapi berita tentang perusahaan ini sudah membuat stigma negatif, bagaimana?" Aku yang tidak mau kalah sembari mengajaknya diskusi juga untuk memberikan pencerahan kepada aku yang baru belajar dengan semua ini agar bisa melampaui apa yang ia tantang.
"Ya itu kuncinya. Bagaimana lo bisa meyakinkan calon investor ini untuk bekerjasama dengan kita meskipun ada stigma negatif yang kini terjadi. Buat proposal yang menarik, minta sama abangmu itu data-data keuangan perusahaan seperti keuntungan perusahaan setiap tahunnya, data minyak yang terambil dan terjual. Intinya buat semenarik mungkin." Ia sembari menunjuk Gilang agar turut membantuku dalam membuat proposal yang gak main-main ini, sebab hanya proposal lah kunci utama dalam penarikan investor. Ya, ditambah dengan cara penyampaiannya juga sih, sehingga calon investor tergiur untuk menginvestasikan dananya kepada perusahaan yang telah diambang kebangkrutan ini.
"Berapa persen yang Mas mau untuk mereka berinvestasi?"
__ADS_1
"Ya, gue biasa menargetkan sih kepemilikian empat puluh persen atau senilai dengan sepuluh miliar rupiah sebagai batas minimalnya." Ia berbicara tanpa berpikir bahwa mencari orang yang mau membuat uang dengan nominal itu pasti tidak mudah.
"Wah banyak juga." Ucapku sembari berpikir siapa lagi yang bisa ku tawarkan proposal ini selain Azka. Ya meskipun permasalahanku belum selesai dengannya, namun hanya dia yang kali ini bisa untuk menolongku, terlebih ayahnya juga merupakan pengusaha besar tentu saja bisa. Tapi satu yang kupikirkan jika akan meminta ia menolongku yakni apa yang akan ia minta juga dariku? Apakah ia akan menukarkan hal itu untuk aku bersedia menikah dengannya?