Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 42 Ketemu Azka


__ADS_3

"Azka, kita bisa ketemu?" Sengaja langsung siang itu juga aku memberanikan diri menghubungi pria kurang ajar itu.


"Lo ngomong gini sadar, By?"


"Maksud lo?" Tanyaku balik yang masih gak paham maksud pertanyaannya.


"Lo kemarin block gue, terus sekarang lo un-block langsung ngajak ketemuan. Udah merasa cinta sama gue ya?" Ia terkikih dari seberang sana.


Jika saja ini bukan melalui ponsel, mungkin wajahnya sudah kena telapak tanganku kali. Pria yang tingkat kepercayaan dirinya melebihi apapun itu, sudah bisa dengan gagah bicara seperti ini kepadaku. Ya, kalo aku punya pilihan juga, gak akan mau hubungi dia dan akan terus block semua sosial media dia yang terhubung denganku.


"Ada yang mau gue obrolin, cukup penting..." Aku langsung to do point memaparkan apa yang aku tuju.


"Obrolin apa? Kalo mau ketemu, gue yang pilihin tempat dan waktu ya. Deal?" Lagi lagi ia dengan kuasanya itu bisa dengan mudah mengendalikan orang lain.


"Iya, gue ikut jadwal lo..."


"Malam ini jam 7 di cafe rooftop Senayan. Pake dress hitam ya sayang...."


Terang aja bahasa yang ia sampaikan dengan nada bicara yang begitu menjengkelkan itu pun membuatku kesal setengah mampus. Aku remas kertas struk minuman di depanku. Gilang yang berada di depanku pun lantas tak kalah keponya ingin tau apa yang aku dengar.


"Iya yaudah.. Thanks", aku langsung menutup ponselku.


"Gimana By?" Gilang langsung menyergap seolah punya banyak pertanyaan sekaligus harapan untuk misi ini.


"Huft, sumpah ini tuh kalo ga karna anceman Raka, gue gak akan urusan sama manusia narsis itu seumur hidup!!!!!" Aku menuntaskan emosi yang dari tadi ku pendam.


"Besok gue temenin ya?" Gilang sedikit berhati-hati.


"Iyalah, lo harus temenin gue, Bang. Ogah banget ketemu dia empat mata gitu, yang ada tuh orang bakal geer mampus..." Aku masih mengoceh meluapkan rasa kesal.


Setelahnya aku pamit pulang. Sengaja gak mau diantar olehnya, karna aku tau pasti akan banyak waktu yang terbuang jika dia harus bolak balik antar jemputku. Aku masih punya beberapa jam berpikir menjelang ketemu dan memohon ke Azka buat menjadi investor di perusahaanku. Sembari ku ingat-ingat lagi siapa temanku atau saudaraku yang bisa bantuku di kondisi saat ini.


"Ayo dong By, lo berpikir......" Berulang-ulang aku menepuk jidatku di atas ojek online yang sedang mengantarkanku ke rumah.

__ADS_1


"Kania..... Gue bisa coba tanya Kania...." Satu nama yang langsung terbesit di dalam pikiranku, Kania, teman baikku.


Sesampainya aku di rumah, aku langsung masuk ke dalam kamar dan membuka ponsel.


"By, kenapa?" Suara wanita nan lembut itu menyambutku.


"Lo lagi dimana Nia?" Aku memastikan ia tidak lagi sibuk dan berada di kondisi yang kondusif, sebab benar saja aku masih takut sahabatku ini shock jika ku sebut nama Azka.


"Gue lagi di kamar. Habis kirim dokumen yang diminta Mas Raka. Kenapa By?"


"Gue mau ngobrol sebentar, bisa?"


"Bisa, ada apa?"


"Nia, lo tau kan sekarang perusahaan lagi drop banget, investor juga pada cabut, dan lo tau juga kan gue tetap diminta work from office?" Aku mencoba mengaitkan satu demi satu kejadian supaya ia cepat paham apa maksudku.


"I... Iyaaa.. Terus apa hubungannya sama cerita lo?" Sialnya ia masih belum nangkap apa yang menjadi topik obrolan ini.


"Raka minta gue cari investor dalam waktu 3 hari dengan hari pertama tuh ya hari ini...."


"Wey sakit telinga gue Niaaaa!!!!" Aku gak kalah teriaknya sedikit tertawa mendengar teriakan dan auto kebayang ekspresi kagetnya.


"Gaby, yang bener aja 3 hari By. Lo mau cari dimana 3 hari ada orang yang mau kasih lo duit dengan nominal yang gak mungkin kecil...." Celotehnya.


"Nah itu, gue udah coba approach mantan investor aja gagal, gimana orang yang baru kan?"


"Jadi, apa rencana lo? Jujur aja, gue gak punya uang sebanyak itu, dan bokap gue ya mungkin aja ada, tapi lo tau sendiri keluarga gue lagi broken banget....." Ia sudah menyerah padahal aku belum sempat bilang tujuanku.


"Gue mau coba approach Azka....." Aku sedikit memelankan suaraku. Karna aku takut ia akan lebih ekspresif daripada tadi.


Ia diam sejenak. Hening sekitar 3 detik.


"Nia, lo masih dengar gue kan?" Aku memastikannya begitu pelan.

__ADS_1


"Iya masih, gue lagi mikir aja. Siapa lagi selain cowo brengsek itu yang bisa lo andelin." Ia dengan nada bicaranya yang kasar sudah jelas saat ini ekspresinya begitu emosi.


"Itu juga yang dari tadi gue pikirin, Nia. Bahkan gue belum sempat cerita sama lo masalah gue sama dia kan? Huft sebal nih karna kesibukan ini...."


"Emangnya apa yang belom lo ceritain ke gue??" Ia justru penasaran dengan statement ku terakhir.


"Nanti aja setelah masalah ini beres, gue janji bakal cerita dengan lo sama Gilang. Untuk sekarang fokus gue kejar target Raka ini dulu, karna kalo gak tercapai gue harus denda Nia...." Aku mengeluh.


"Oke oke. Sekarang fokus kesini dulu ya. Gue sama sekali gak bisa bantu lo sekarang, tapi kalo lo mau ketemu sama si brengsek itu tolong banget tetap waras dan pake logika. Karna tuh oramg gila banget, bisa memutarkan semuanya dan jadi apa yang dia mau....." Sahabatku ini sudah memberikan peringatan sedari awal.


****


"Lo yakin gak mau gandengan sama gue untuk nemuin dia?" Gilang sekali lagi memastikan aku memasuki ruangannya hanya sendiri atau bersamanya. Aku memilih sendiri tapi tetap minta Gilang stanby didekatku, ya supaya kalo terjadi apa-apa, aku bisa dengan mudah teriak.


"Yakin Bang. Tolong amati gue ya..." Pesanku.


Lalu aku berjalan mendahului Gilang dengan setelan dress hitam panjang dan berhiasan kalung berlian ala pesta. Aku masih melihat sekeliling mencari sosok Azka.


"Maaf Mba, ada yang bisa dibantu?" Seorang wanita yang masih seumuranku menegur sebab mungkin terlalu kelihatan kalo aku sedang mencari seseorang.


"Aku mau tanya, reservasi atas nama Azka dimana ya?" Tanyaki karna masih juga gak menemukan sosok Azka dari pusat ini


"Oh ada Mba, Beliau pesannya private room, ada disebelah sana...." Sang waiters pun mengantarkanku menuju ruangan yang dikira sebagai kantor justru karoke.


Aku berjalan pelan menelusuri orang-orang yang sedang makan, karna manusia ini ternyata private dinner. Duh jelas saja, aku berharap Gilang gak terlalu jauh dariku.


"Eh cantik udah sampe.... Macet banget ya??" Baru juga aku menongolkan wajah, sudah ada aja sapaan centil dari mulutnya.


"Gue mau langsung aja ngomong, bisa ya Ka?" Aku duduk tepat di depannya. Sorotan matanya jelas saja ku tatap balik dengan penuh ketajaman sinis bukan cinta.


"Apa cinta?" Ia masih mengeluarkan kata-kata menjijikkan itu.


"Lo bisa bantu gue jadi investor di perusahaan magang gue gak?" Blak blakan.

__ADS_1


"Bisa, dengan syarat lo jadi istri gue...."


__ADS_2