Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 32 Siapa ini By?


__ADS_3

Kring.. kring.. kring.....


"Duh udah pasti kacau ini, semuanya udah langsun teleponin gue." Gilang dengan nada suaranya yang panik jelas saja membuatku sebagai anak baru disini ikutan panik.


Sementara Raka masih mematung entah apa yang ia sedang pikirkan dikondisi mencekam ini.


"Apa skenario terburuk?" Aku bertanya pada Gilang sebab aku masih belum paham dengan semua ini.


"Serangan massa."


"Ha? Bagaimana bisa?" Aku bertanya sekali lagi sebab masih belum paham apa yang dibahas oleh Gilang saat ini.


"Angka saham perusahaan ini anjlok karena tersebarnya isu penggeledahan masal sehingga grup Karya sudah melepaskan diri sebagai investor di perusahaan ini." Gilang menjelaskan secara pelan meski aku tahu ia sangat panik dengan kondisi yang terjadi.


Aku mengamati Raka, ia terlihat begitu bingung, entah apa yang dipikirkan. Jika ia hanya seorang pekerja biasa tak mungkin akan terlihat sebingung itu. Sebetulnya, siapa Raka ini?


"By, lo pulang duluan aja sekarang." Perintah Gilang agar aku bisa sampai di rumah lebih awal untuk menghindari kejadian yang mungkin saja akan mencekam.


"Lo bagaimana, Bang?" Aku yang ikutan panik langsung membereskan barang-barangku diatas meja tanpa peduli izin dari Raka yang masih mematung dan diam di sebelah sana.


"Gue mau telepon polisi dulu untuk pengamanan gedung." Jawab Gilang.


"Sudah By, sana pergi." Desaknya yang memintaku agar segera meninggalkan gedung ini.


"Mas Raka...."


"Sudah, sekarang kita semua turun!" Perintah Raka yang sontak membalikkan badannya dan seolah terbangun dari tidurnya walaupun pada saat diam ia tetap membukakan mata.


"Gedung ini bagaimana?" Gilang yang masih kekeh untuk menjaga aset kantor.


"Ini keputusan terbaik yang bisa gue kasih, Lang. Lo ikut turun sekarang!" Perintah Raka yang jelas ini adalah kondisi darurat.


Akhirnya kami bertiga menuruni lift yang untungnya masih berfungsi dengan baik, sebab intuisiku belum ada massa yang berdatangan menuju kantor ini.


Setelah sampai lobi, kami pun melihat masih sepi dari berbagai sisi.

__ADS_1


"Oke, lo pada pulang hati-hati. Jangan pakai apapun identitas kantor ya." Raka yang terlihat terburu-buru langsung berlari menuju pintu keluar mungkin saja menuju parkiran mobilnya.


"Lo naik apa?" Tanya Gilang kepadaku sembari melepaskan lanyard bertuliskan logo perusahaan dan identitas pegawainya.


"Gue pesan ojek online. Gak apa-apa lo pulang duluan aja." Aku mempersilahkan Gilang agar pulang duluan saja, sebab jika ia menungguku pasti akan lama. Proses pemesanan ojek online bukannya ketika pesan langsung dapat, namun harus mengetahui juga posisi driver, seringkali mendapatkan driver dengan posisi keberadaannya jauh sehingga butuh waktu untuk menunggunya hingga sampai di titik penjemputan.


"Udah bareng gue aja. Lo bakal lama nunggu ojek sampai, By." Ajak Gilang.


"Lo bawa helm dua?" Tanyaku kepadanya agar memastikan pula aku mengendarai sepeda motor dalam kondisi yang aman.


"Ada." Ia langsung menarik dan menggandeng tanganku tujuannya adalah untuk mempercepat langkah kaki demi terburunya waktu untuk menghindari massa yang tak tahu kapan tibanya.


Aku mengenakan helm dan menaiki motor maticnya ini. Di sepanjang jalan ibukota ini sudah terlihat beberapa titik kumpul keramaian yang membawa spanduk berukuran besar.


"By, untung cepat geraknya tadi. Kalau tidak udah diseruduk massa." Ucapan Gilang yang terdengar begitu bersyukur bisa cabut dari kantor lebih awal dibandingkan kedatangan massa.


"Kalau massa sampai di kantor, bagaimana dengan kondisi kantor sendiri Bang?" Dari sisi penumpang ini aku bertanya kepadanya dengan intonasi yang sedikit lebih kencang agar ia bisa mendengar apa yang sedang aku tanyakan.


"Tadi gue minta Raka telepon polisi sih, harusnya saat ini sudah ada penjagaan dari mereka juga." Jawab Gilang sembari fokus mengendarai sepeda motornya.


"By... Dari awal sudah gue bilang kan lo jangan cari tahu siapa Raka. Udah biarin aja. Intinya apa yang lo lihat, lo lupakan, apa yang lo dengar juga lo lupakan." Gilang memberikan aku pengertian kembali agar tidak mencari tahu tentang identitas Raka sebenarnya.


Jujur, aku adalah tipe orang yang penasaran. Dengan cara bicara Gilang yang seperti ini aku punya keyakinan bahwa Raka ini ada sesuatu yang ganjil. Namun, aku belum tahu apa yang ia sembunyikan selain identitasnya yang membuatku terus bertanya.


Setelah sampai di depan rumahku, ku ajak Gilang untuk mampir terlebih dahulu.


"Bang, masuk dulu aja, minum." Aku menawarinya masuk.


Ia langsung memarkirkan sepeda motornya, dan masuk ke dalam rumahku.


"Lo baru pertama kali datang kan?" Aku sambil mengingat apakah manusia ini pernah ku undang atau tidak. Namun, dari semua ingatanku, sepertinya ia tak pernah datang ke dalam rumah ini.


"Iya, ini pertama kalinya gue By." Jawabnya sembari melihat beberapa pajangan foto yang terpampang di ruang tamu.


"Silahkan duduk." Aku menyambutnya dengan baik bak seorang tuan rumah yang menyambut tamunya.

__ADS_1


"Lo mau minum apa, Bang?"


"Ada pilihannya?" Baru saja menginjak rumah ini, ia sudah mulai menjadi Gilang yang kukenal lagi, usil, penggoda, dan aneh.


"Iya ada. Lo mau susu, sirup, teh, kopi, atau jus?" Tanyaku sembari mengingat isi di dalam kulkas dan persediaan bahan makanan yang telah ku susun.


"Kalo jus, ada jus apa?"


"Apa perlu gue antar lo ke kulkas gue biar lihat sekalian ada apa aja?" Ucapku dengan tersenyum.


"Loh kalau dibolehin sih ya ayo, By hahaha." Ia justru membalas pertanyaanku padahal itu hanya sebuah candaan.


"Ya sudah gue air putih dingin aja."


Pada akhirnya tetap air putih juga, kenapa harus putar-putar Gilang.........


"Oke sebentar aku ambilkan." Aku langsung menuju ke dapur untuk mengambil gelas tamu dan nampan, lalu ku tuangkan air dingin dari dalam dispenser hingga airnya penuh. Setelahnya, aku membawa nampan tersebut kembali ke ruang tamu untuk memberikannya kepada pria yang telah mengantarku pulang tadi.


"By ini foto lo sama siapa?" Gilang sedang berdiri menunjuk salah satu foto yang terpampang di depan ruang tamuku.


"Kakak gue." Balasku.


"Lo punya kakak? Kok gue baru tahu." Gilang menoleh dan melirik ke arahku.


"Iya punya kakak, tapi dia di luar negeri sih. Gue juga jarang kontakan sama dia." Jawabku.


"Di sebelah abang lo, ini dua orang lagi siapa?" Tanyanya lebih mendetail.


"Gak tahu gue, lupa juga dan gak pernah gue tanya sama orang tua ataupun dengan kakak." Aku juga jadi bertanya-tanya siapa sosok dua pria kecil lagi di dalam foto ini.


"Jarak umur lo dengan abang lo berapa tahun sih? Kok bisa gak seakrab itu."


"Gak jauh sih, cuma 5 tahun doang. Tapi emang dia udah lama di luar negeri jadi ya udah jarang banget komunikasinya."


"Kenapa dia bisa tinggal disana, By?"

__ADS_1


__ADS_2