
"Terus, apa yang boleh saya lakukan selama di ruangan ini?" Aku langsung bertanya pada poin pertemuan ini.
Ia menampilkan slide terakhirnya, dan bertuliskan dengan huruf capslock "TIDAK ADA."
Aku mengernyitkan dahiku dengan wajah bingung apa maksud dari tulisan ini.
"Apa maksudnya?" Celetukku dengan intonasi yang tinggi.
"Ya gak ada yang boleh lu lakukan."
"Maksudnya?"
Ia kembali lagi menekan remote sensor layar itu. Lalu muncul tulisan "SEMUA TERGANTUNG PERSETUJUAN RAKA."
"Dih beneran stress nih orang." Bisikku dalam hati.
"Udah paham?" Ia malah bertanya lagi tentang isi dari kelimat tersebut.
"Iya sudah paham." Aku langsung menjawabnya singkat agar bisa segera ku selesaikan obrolan bersama dengannya, karena semakin lama aku berbincang dengannya maka akan semakin kesal yang ku dapat. Khawatir, apabila aku tidak bisa mengontrol emosiku, tentu saja aku akan lebih galak dari bentakan pertama tadi.
"Terus ini Ahmad, kenapa gak datang juga?" Ucapku yang masih dengan suara tinggi menanyakan keberadaan rekan magangku dan kebetulan Ahmad juga statusnya sama sepertiku yaitu anak pindahan ke divisi dibawah naungan Raka ini.
"Dia izin."
"Izin kenapa?" Tanyaku yang masih sedikit galak kepadanya.
"Coba dong bahasanya yang sopan, profesionalismenya mana nih. Apa perlu gue ajarin juga?" Ia coba membahas tentang attitude lagi. Padahal sudah jelas aku sangat kesal dengan perilakunya yang di luar nalar itu!
"Maaf, izin kenapa Mas?" Ucapku yang mencoba mengulang kalimat tadi dengan suara yang lebih lembut sembari menampilkan senyum kepadanya.
__ADS_1
Setelahnya aku memalingkan muka, dan berdesis dalam hati,
"Gila aja gue harus lemah lembut kepada pria ngeselin ini!"
"Katanya kurang sehat, jadi ya sudah gue izinin aja. Toh juga lo bisa menyampaikan pemaparan ini kepada dia, kan?" Ia bertanya kepadaku agar memastikan bisa memberikan informasi kepada Ahmad yang saat ini sedang sakit.
Tak lama dari obrolan terakhir itu, terlihat Gilang memasuki ruangan Raka tanpa ketuk pintu terlebih dahulu.
"By, lo ngapain disini?" Gilang bertanya kepadaku dan menatapku bingung, sebab ia telah memberikanku perintah agar bekerja dari rumah, namun saat ini ketika ia datang untuk urusan kantor, aku sudah berada di ruangan Raka dengan posisi terduduk di meja panjang yang biasa digunakan untuk meeting internal. Sementara Raka masih duduk di meja kerjanya di ujung sana.
"Tadi pagi Mas Raka nelepon gue, Bang." Aku menjawabnya singkat.
"Untuk apa lo panggil Gaby kesini, Bro? Kok cuma dia sendirian pula yang datang kesini?" Gilang melirik sinis Raka, sebab dari lama ia telah menaruh curiga kepada Raka, bahwa Raka ini sebetulnya menyukaiku.
"Gue kasih anak baru ini pemaparan rules selama kerja di ruangan ini."
"Ha? Kerja disini?" Gilang yang masih gak percaya akan perkataan Raka juga menatap mataku. Aku menjawabnya dengan mengangguk pelan yang mengartikan benar apa yang telah Raka katakan barusan.
"Karena kan sudah penuh, Bro. Emang dia mau duduk dimana lagi? Masa di meja kerja gue."
"Ya kan lo bisa minta bagian properti buat menambah meja dan kursi kantor. Kenapa harus di ruangan ini sih!" Gilang yang masih tak terima mendekatiku.
"By, tapi lo gak kenapa-napa kan?" Sudah berapa kali sejak tadi malam ia menanyakan hal ini, benar saja sepertinya intuisinya begitu kuat akan diriku.
"Gak apa-apa kok, Bang." Aku coba menenangkannya.
"Ya kan sekarang semua lagi pada di audit, lo gak lihat di depan sudah pada di beresin. Sementara aja dia disini, sampai semuanya baik." Ucap Raka yang tak ingin mengalah dan masih memaksa agar aku bekerja satu ruangan dengannya.
"Oke kalau begitu, gue juga akan bekerja disini untuk sementara waktu." Gilang memberikan respon yang menguntungkan bagiku, sebab setidaknya aku tidak kesal sendirian disini dalam menghadapi Raka.
__ADS_1
"Loh, lo kan sudah ada meja kerjanya sendiri, kenapa disini?" Raka yang tidak terima atas keputusan Gilang mencoba menolak apa yang telah Gilang sampaikan tadi.
"Tapi gak etis cara lo untuk mempekerjakan Gaby di dalam satu ruangan yang sama dengan lo."
"Terus mau lo bagaimana?" Tanya Raka kepada Gilang agar menemukan solusi yang baik dari posisi dudukku.
"Gini deh, gue jadi heran juga ya. Kenapa Gaby harus masuk di kondisi darurat ini? Apakah semua anak magang memang masuk?" Gilang yang baru ingat, langsung berpikir dan melihat ini ada yang janggal dan ada sesuatu yang mungkin saja sedang direncanakan oleh Raka.
"Gaby, temanmu yang lain ada diminta masuk kantor juga?" Gilang langsung bertanya kepadaku dengan menatap mataku. Sementara Raka terdiam dan dari raut wajahnya jelas ia sedang memikirkan alasan atas pertanyaan Gilang. Untungnya Gilang langsung melemparkan pertanyaan tambahan kepadaku, sehingga aku bisa mengulur waktu sembari menunggu jawaban asli dari mulut sang pria aneh.
"Gak ada Bang. Tadi juga gue udah hubungi Kania, anak magang di bawah divisi langsung Mas Raka, namun tetap saja ia menyampaikan bahwa kini tengah bekerja dari rumah." Ucapku dengan pelan agar emosi Gilang tidak terpancing atas jawabanku.
"Nah kan, terus kenapa lo minta Gaby buat bekerja di masa genting ini?" Timpal pertanyaan Gilang.
"Ya lo yakin kalau kita berdua aja bisa beres?" Justru Raka membalikkan pertanyaan itu kepada Gilang.
"Ya, kenapa tidak?" Gilang menjawab dengan santai.
"Dengerin gue ya Bro. Gue gak tahu apa tujuan lo dengan Gaby, namun saat ini statusnya masih magang, sepertinya kurang cocok aja apabila ia sudah menanggung beban audit yang segitu kompleksnya." Gilang mencoba memberikan pemahaman kepada Raka agar membiarkan Gaby bekerja dari rumah saja dulu untuk sementara waktu.
"Ya justru karena dia anak magang, gue mau memberikan pengalaman ini kepadanya. Terlebih, momen seperti akan jarang atau bahkan mungkin tidak pernah terjadi di kantor manapun itu, namun disini ia bisa merasakan dan melihat langsung kejadian dan cara menyelesaikan permasalahannya dengan bagaimana. Bukannya itu akan menjadi keuntungan baginya?" Ungkap Raka yang memberikan penjelasan sangat kompleks.
"Tapi yang jadi permasalahan gue adalah, kenapa hanya Gaby? Kenapa tidak lo ajak juga anak magang lo yang lain? Bukannya lo juga punya anak magang yang banyak ya?" Gilang yang terlihat begitu geram langsung saja menimpa banyak pertanyaan kepada Raka.
Raka sudah terlihat bingung dan gelagapan kala diminta penjelasannya kepada Gilang.
Aku hanya menonton perdebatan ini yang tak ku mengerti pula apa yang telah mereka bahas.
"Untuk saat ini karena gue mau memberikan pemaparan materi, besok ya semuanya akan gue ajak masuk." Raka terlihat menyerah dan tidak mempertahankan argumennya.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya terjadi dari rencananya terhadapku?