Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 39 Negosiasi ke Investor


__ADS_3

"E... E.. Aku udah sama Mas Gilang ini..." Aku kaget mendengar ucapan dari mulutnya yang terdengar sangat tidak biasa ku dengar.


"Ya sudah kalau ada yang perlu gue bantu kabarin aja. Hati-hati lo.." Ucapnya sembari menutup telepon.


"Kenapa lagi By?" Gilang menoleh ke arahku.


"Gak tau tuh aneh banget temennya Bang." Aku sambil memasukkan ponsel ke dalam tas tanganku.


"Aneh kenapa? Dia bilang apa lagi?" Jelas saja memancing pertanyaan bertubi-tubi dari Gilang.


"Dia mau ngajakin bareng. Makanya gue bilang kalo gue udah sama lo. Lagian bisa gila kali gue kalo bareng dia, yang bener aja...."


Pertanyaan Gilang sebenarnya simple namun aku bisa jawab ditambah dengan bumbu-bumbu emosi.


"Lah ngapain dia ngajakin kamu... Atau jangan-jangan diaaa......" Gilang tidak meneruskan prediksinya.


"Hssstt ngaco, gak lah gila aja lo..." Aku langsung memotongnya karna akan tau apa yang mau dia sampaikan.


"Hahahaha... Gue jadi merasa gak punya saingan karna lonya yang memang gak mau sama dia. Yes, gue udah jauh lebih unggul!!" Serunya sembari menyalakan starter motornya kembali.


"Ngawur banget Bang hahahaahaha. Udah ah ayo, entar telat nih. Kalo gak dapet hari ini mampus banget nasib gue...." Responku.


Gilang melajukan motornya, sementara aku sibuk membuka file-file yang harus disiapkan untuk presentasi beserta mengingat nama-nama jajaram yang akan aku temui nanti. Tugasnya berat terlebih ini kali pertamaku berurusan dengan masalah besar ini. Namun, betul juga apa yang telah disampaikan oleh Raka, kapan lagi aku sebagai anak magang punya kesempatan untuk terjun dalam misi rahasia kantor, mencari investor dengan nilai fantastis, dan kalo aku sampai bisa menyelesaikan masalah ini, bukannya portofolioku akan menunjang karir selanjutnya?


Gak terasa 15 menit diperjalanan telah mengantarkan kami menuju gedung pencakar langit dengan plang tulisan kantor Adi Karya.


"Abang sudah buat janji sebelumnya?" Aku memastikan sembari berusaha membuka helm.


"Sudah, tapi gak ada respon..." Jawabnya.


"Lo bisa gak buka helmnya? Sini deh biar gue yang bukain kayaknya dari tadi susah banget By..." Gilang tipikal pria act of service ini langsung mengarahkan kedua tangannya ke pengunci helmku.


"Gini loh By cara bukanya....." Gilang menghentikan kalimatnya kala mata kami saling bertemu, bertatapan dalam. Wajah Gilang mendekati wajahku, arah bibirnya sudah mau menuju bibirku, dan aku terdiam bak patung yang kehilangan tenaga.


"Aduh!!!" Sontak suaranya mengagetkanku.

__ADS_1


Kepalanya yang semakin dekat denganku tersentak helm yang masih ada di atas kepalaku.


"Bang.. Gak apa-apa?" Spontan aku menyentuh kepalanya yang tersentak tadi.


"Yah gagal deh padahal tadi momennya udah pas ya...." Ia sedikit kecewa dengan failed kissing yang mau ia berikan untukku.


"Bang, aku gak mau lagi ya kalo lo tiba-tiba begitu....." Dengan perasaan dan degup jantungku yang kencang jelas saja hal tadi membuatku menunggu sekaligus takut. Aku gak menyukainya namun ketika dihadapkan dengan moment tadi, tubuhku bergetar juga...


"Maaf maaf By, gak sengaja tadi juga...." Sanggahnya.


Aku langsung meletakkan helm di sisi motornya. Lalu berjalan pelan menelusuri tempat parkiran yang terletak di underground ini untuk mencari lift menuju lobi.


"By, lo marah sama gue ya?" Ia cukup kencang memanggilku dari belakang.


"Enggak. Lupain aja ya...." Balasku tanpa menengok ke arahnya.


Aku juga gak bisa marah, sebab aku pun terlihat mau setelah ku pikir-pikir lagi. Ya sesederhana kalo aku gak mau, sudah pasti aku menolaknya dari awal kan? Ya jadi aku anggap, aku juga turut mau dalam moment tadi.


"Iya, maaf ya...." Ia tiba-tiba sudah berada disampingku.


Setelahnya kami melangkahkan kaki kembali menuju lift hingga sampai lobi.


"Mba, maaf saya mau ketemu dengan Pak Teguh, bisa?" Ucap Gilang.


"Maaf, Bapak sudah buat janji sebelumnya?" Ia memperhatikan wajah kami seperti mencari sesuatu yang ada di dada kami.


"Kemarin saya sudah coba hubungi sekretaris Beliau, tapi gak ada responnya. By the way, kami dari Clean Oil Energy Mba..." Gilang seolah paham arah mata sang resepsionis ini.


"Oh memang kebetulan sekretaris Pak Teguh lagi cuti sih Mas. Saya coba kontak yang bersangkutan dulu ya mau atau gaknya..." Responnya sinis setelah tau kami dari Clean Oil Energy.


"Lah kok yang begini jadi fronliner sih. Sinis banget..." Gumamku dalam hati.


Ia langsung menghubungi seseorang melalui jalur telpon kantor. Sementara kami masih berdiri untuk menunggu respon Pak Teguh terkait kedatangan kami.


"Hmm silahkan ikuti saya ya lewat sini..." Setelah 2-3 menit ia berkomunikasi melalui jalur telepon akhirnya kami diantarkan menuju ruangan Pak Teguh.

__ADS_1


Aku langsung menghela nafas sebelum memasuki ruangan Beliau. Karna dari dia lah, nyawaku terselamatkan.


"Bismillah semoga tembus....." Ucapku dalam hati.


Gilang melangkahkan kakinya perlahan-lahan memasuki ruangan ini, sementara aku mengikutinya dari belakang.


Aku melihat seorang pria paruh baya yang tengah memandangi gedung-gedung pencakar langit di luar sana dengan setelan jas lengkap.


"Pagi Pak Teguh....." Sapa Gilang.


"Eh pagi pagi.. Silahkan duduk..." Balasnya.


"Pagi Pak, perkenalkan saya Gilang dan ini Gaby." Jawab Gilang lagi.


"Oh iya, salam kenal ya Gaby...." Sapanya yang berjalan pelan menujuku dan duduk juga tepat di depanku. Tatapan pria paruh baya ini begitu tajam, ya sudah jelas ia punya wibawa yang tinggi sebagai investor perusahaan. Gayanya yang rapi, elegan, membuat semua mata juga tertuju padanya meskipun sudah berumur.


"Jadi, apa yang mau kalian bawa dan bahas disini?"


"Begini Pak. Berkaitan dengan hal kemarin...."


"Keputusan saya sudah final kemarin kan, jadi gak bisa lagi ditarik. Imbas dari masalah kalian gak hanya perusahaan kalian aja, tapi juga ke perusahaanku, kolegaku yang berperan dalam pengurusan dananya. Jadi, ya saya rasa sudah cukup dan gak perlu ada bahasan lagi..." Ia memotong pembicaraan Gilang.


"Tapi, apakah Bapak sudah tau kejadian yang sebenarnya seperti apa?" Gilang mengonfirmasi kembali.


"Ya saya rasa sudah clear dari berita yang beredar ya dan gak perlu dijelaskan lagi..." Sanggahnya.


"Pak, tolong berikan kami kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi..." Pintaku pelan.


Sejujurnya juga, aku sangat benci situasi ini apalagi aku langsung terlibat didalamnya. Seolah mengemis penjelasan, karna hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang.


"Saya cuma punya waktu 5 menit. Silahkan jelaskan, tapi dari awal statement saya sudah jelas. Ini tidak akan mempengaruhi keputusan saya!" Ia begitu tegas dan kuat pendirian.


Kesempatan yang ia berikan benar-benar harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Aku sudah jelas harus bisa tenggelam dalam obrolan ini, membantu Gilang untuk meyakinkan sang investor utama dalam perusahaan.


Setelah panjang lebar memberikan penjelasan, Teguh diam cukup lama sembari membuka ponselnya.

__ADS_1


"Pak, bagaimana?" Aku sedikit memberanikan diri bertanya tentang tanggapannya


__ADS_2