
"Selamat siang Mas Raka. Kami dari pusat mau menginformasikan bahwa akan ada restrukturisasi secara terpusat karena ada dugaan penggelapan dana di kantor Anda. Mohon kerjasamanya untuk kami melalukan audit darurat."
Deg.......
Raka kaget dan terdiam beberapa saat, sebab ia sudah terbayang kondisi di luar ruangannya tengah hiruk pikuk sebab staff yang tidak terdampak juga butuh penjelasan terkait restrukturisasi yang secara tiba-tiba. Namun, di lantai ini ia memiliki kuasa untuk tetap profesional.
"Apa bukti kalian bahwa disini terjadi penggelapan dana?" Sekali lagi Raka mencoba memposisikan dirinya sebagai orang yang bertanggung jawab di lantai ini.
"Kami akan segera mengirimkan dokumen bukti terkait kepada email Mas, sehingga mohon dikondisikan staffnya dan diharapkan kerjasamanya ya Mas." Jawab wanita dengan suara tegas melalui sambungan ponsel.
Raka berjalan pelan melihat kondisi staff dari balik tirai yang menjadi pembatas antara ruangannya dan meja kerja staff.
"Waduh sudah ricuh." Matanya yang masih melihat sekeliling melalui media kaca ini bersamaan pula dengan otaknya yang kian berpikir bagaimana menjelaskan kepada staffnya saat ini. Belum lagi tidak diketahui secara jelas kapan audit akan memporak-porandakan meja keuangan di lantai ini.
Kring... Kringg... Kring...
Dering ponsel yang nyaring memecahkan lamunannya kala melihat seantero ruangan.
"Sial, papa!" Gerutunya, ketika ia melihat jelas nama di layar ponsel bertuliskan Papa Money.
Dengan wajah yang sedikit bingung harus berkata apa, ia menyentuh dan menggeserkan sentuhan jarinya hingga terhubung kepada pria yang ia sebut sebagai Papa Money itu.
"Raka, apa yang terjadi?" Jelas saja informasi ini sudah menyebar ke Papa yang memiliki kuasa penting dalam perjalanan karirnya.
"Informasi apa Pap?" Bahkan di kondisi genting, Raka masih bisa untuk pura-pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Pusat belum telepon kamu?" Suara nyaring yang terdengar jelas saja menandakan lawan bicaranya tengah panik dan kesal.
__ADS_1
"Telepon tentang apa?" Masih ia terus pancing emosi papanya.
"Audit, dugaan penggelapan dana di lantaimu!" Kali ini sang papa beneran teriak.
"Barusan sudah ada pemberitahuan sih Pa."
"Lantas?"
"Aku masih menunggu surat resmi penggeledahan dan bukti tuduhan." Masih bisa Raka mengontrol emosinya kala nyawanya jelas-jelas terancam kali ini.
"Kamu harus selesaikan masalah ini, jangan sampai keburu diliput oleh media! Malam ini kau harus datang ke rumah untuk memberikan laporan lengkap kepada Papa. Bisa dipahami?" Bentak sang ayah yang tidak kenal bagaimana kondisi eksternal, namun yang terpenting baginya title keluarga jangan sampai terkuak di media massa.
"Iya Pa." Jawab Raka singkat.
Setelah menutup teleponnya dengan papa, ia kembali berpikir untuk menyelesaikan ini secara instan. Sebab apabila pusat sudah membongkar habis seluruh dokumen dan ditemukan penggelapan dana meskipun itu hanya 1 rupiah, tentu saja negara akan ikut turun tangan. Hal ini yang sangat dihindari oleh papanya sehingga Raka memiliki beban besar untuk membatasi penyebaran berita ini hingga ke ranah publik.
Ia kembali duduk, sedikit memutar-mutarkan kursinya dan memegang pena di antara jari telunjuk dan jempolnya sembari berpikir apa yang bisa ia lakukan pertama kali sebagai upaya mitigasi.
Raka kembali berdiri dan perlahan membuka pintu ruangannya. Baru saja ia melangkahkan kaki sudah terlihat begitu banyak pasang mata yang menantinya keluar dari ruangan tersebut, termasuk salah satunya adalah Gilang.
Gilang dengan kondisi panik juga langsung saja berlari dan menghampiri Raka untuk klarifikasi kondisi genting yang sedang terjadi.
"Raka, bagaimana ini?" Gilang mengeluarkan sepatah kalimat dengan volume terendah yang ia bisa agar staff tidak mendengar obrolan mereka.
"Kondisinya genting, gue coba ambil alih dulu." Bisik Raka yang memastikan juga suaranya tidak terdengar oleh orang lain.
Gilang yang paham langsung memposisikan diri untuk berdiri di samping Raka.
__ADS_1
"Oke, karena suasananya tidak akan kondusif apabila saya menjelaskan secara langsung dengan space yang terbatas ini, sehingga kita akan melakukan meeting darurat sekarang ya. Tolong Gilang buatkan segera link meeting agar kita bisa bertemu online."
Tanpa ada aba-aba lanjutan, Gilang berlari kembali menuju mejanya untuk segera membuat link meeting online. Sementara Raka kembali lagi ke dalam ruangannya untuk mempersiapkan diri mengklarifikasi apa yang sedang terjadi kepada staff.
Selang beberapa detik ia duduk, terdapat email baru yang muncul dalam pop up notifikasi yang bertuliskan "Surat Penggeledahan Audit." Raka langsung mengunduh surat tersebut untuk membacanya lebih detail termasuk di dalamnya pula akan ada bukti terlampir. Setelah berhasil diunduh, ia pelan-pelan membaca isi surat tersebut.
"Oh ternyata karena masalah ini...."
Baru beberapa informasi penting yang ia baca, tiba-tiba ponsel berdering kembali. Tanpa Raka lihat terlebih dahulu peneleponnya, ia langsung saja menjawab panggilan itu.
"Ka, linknya sudah ada, gue dan staff sudah pada stanby juga dalam roomnya." Ujar Gilang.
"Oke, thanks."
Raka kembali ke menu chat untuk menemukan link meeting yang dimaksud oleh Gilang, lalu ia klik dan seketika ia langsung berada di dalam panggilan meeting tersebut.
"Oke sepertinya akan ada yang gak bisa hadir juga meeting darurat saat ini, dan menjelang jam pulang juga saya langsung aja izin mengklarifikasi apa yang tengah terjadi sore ini sehingga membuat kepanikan semua staff di lantai ini. Sebelumnya saya minta maaf atas huru-hara yang terjadi karena saya juga baru mendapatkan informasi perihal ini. Intinya besok semua staff work from home dulu atau WFH, kecuali staff keuangan, manajemen sumber daya, dan tentunya saya." Raka menjelaskan secara kulit permasalahannya saja, sengaja ia tidak perincikan apa yang tengah terjadi.
"Maaf mau bertanya Mas, sampai kapan status kami WFH?" Ucap salah satu pegawai kantor.
"Mungkin sekitar 1-2 hari, untuk lebih detailnya pasti akan saya update melalui grup kantor."
"Mas, sebetulnya ada apa sih ini? Apakah kami bakal di rolling seperti dulu?" Celetuk pria dengan suaranya yang berat.
"Maaf, saya juga belum tahu secara detailnya ada apa, intinya besok saya, manajemen sumber daya, dan keuangan akan kedatangan tamu sehingga hal ini lah yang akan kami telusuri terkait visi dari kedatangan mereka. Di harapkan teman-teman tetap bekerja maksimal selama WFH. Satu lagi pesan saya, jangan ada yang terprovokasi ataupun menyebarkan berita hoax terkait divisi ini. Saya berharap banget hal ini bisa kita selesaikan secara internal tanpa adanya campur tangan media" Pesan Raka sebagai penutup klarifikasi masalah internal ini.
Ia terlihat lega sebab telah membuat staff yang dibawah naungannya merasa lebih tenang dibandingkan tadi yang tanpa kejelasan sepatah katapun dari mulutnya.
__ADS_1
Raka kembali lagi membaca poin per poin permasalahan dugaan penggelapan dana ini, justru isi dalam surat ini berhasil membuatnya senyam senyum tanpa ada ketakutan sedikit pun.
"Kalo karena ini doang mah gue gak perlu ketar ketir buat ketemu bokap memberikan laporan hahaha."