Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 44 Perdebatan


__ADS_3

"Lo dimana sekarang?" Suara bentakan yg cukup mengagetkan seisi cafe di tengah ibukota.


"Kenapa?"


"Gue tanya lo sekarang dimana!" Masih dengan bentakan yang sama.


"Gue mau pulang ke rumah." Jawab sang lawan bicara polos.


"Gue mau ketemu lo. Lo share lokasi dimanapun, gue bakal datang. Sekarang juga!"


"Ya udah di rumah..." Pria lawan bicaranya ini enggan menanggapi.


"Gak, selain di rumah!"


"Ya sudah gue ikut maunya lo aja."


"Temuin gue di Cafe Arteri. Sekarang ya..."


Lalu Raka menutup teleponnya. Ia kembali melihat ponselnya.


"Duh sialan banget. Siapa yang bisa nolong gue..." Ia melengos kesal.


Sekitar 20 menit setelahnya, pria postur tubuh tinggi dengan wajah blasteran menghampiri Raka.


"Kenapa?" Ia perlahan duduk tepat dihadapannya.


"Lo beneran ngancem ke Gaby?" Raka tanpa ada aba-aba langsung ke masalah inti.


"Gue gak ngancem. Dia yang gue mau, dan karna ada momentnya ya gue manfaatin lah..."


"Gila lo ya! Kalo gak karna lo adik tiri gue, udah habis lo!" Raka mengancam angkuh.


"Ya lagian juga lo gak akan bisa ngalangin gue. Kenapa juga lo ngalangin gue kecuali sih karna lo suka Gaby....." Azka melirik sinis ke arah Raka.


Raka diam. Ia tidak bergeming.


"Kenapa gak bisa jawab? Lo suka beneran?" Lagi, Azka memancing pertanyaan jebakan.


"Bukan urusan lo!" Ucap Raka.


"Ya urusan gue. Karna dia itu yang gue mau! Papa juga setuju..."


"Setuju?"


"Setuju buat gue bantuin Gaby buat jadi investor di perusahaan lo..."


"M... Maksudnya? Maksudnya lo bersengkongkol dengan papa?" Raka cukup kaget.


"Gue gak kerjasama buat jatuhin lo. Tapi ya harusnya lo juga harus realistis lah. Perusahaan lo sudah nyaris bangkrut itu, coba lo pikir siapa lagi yang bisa nolong lo selain gue..." Ia mengerahkan kerah bajunya.

__ADS_1


"Dan Gaby????"


"Ya Gaby hanya kebetulan aja. Papa mama mau gue nikah sama Gaby, gue juga cinta sama dia. Terus dia butuh gue, apalagi yang gue tunggu?" Celetuknya.


"Tapi lo gak bisa manfaatin dia untuk rebut perusahaan gue!!!" Balas Raka yang sudah terlihat emosi dengan saudara tirinya ini.


"Lo masih gegabah buat berusaha sendiri setelah semua ini terjadi?" Azka masih terus menentangnya.


"Gini deh, gue gak tau apa yang sedang lo rencanakan dengan papa dan keluarga lo itu. Tapi yang perlu lo


ingat, gue gak mau lo ganggu perusahaan gue dan Gaby. Bisa?"


"Gaby???? Lo suka sama dia?"


"Lo gak perlu tau tentang itu." Jawab Raka ketus.


"Ya gue perlu tau karna dia anak magang gue..." Tambahnya lagi


"Gak, gak masuk akal alasan lo Ka...."


****


Setelah perdebatan panjang dengan Azka, adik tirinya itu, pikiran Raka kacau. Semua masalah yang terjadi dengannya kini sudah tidak bisa lagi ia tangani sendiri. Meskipun tantangan papanya semakin dekat dan nyata, ia masih terus berpikir gimana bisa menyelesaikan masalah yang terlanjur terjadi. Belum lagi, anak magangnya yang terancam direnggut oleh Azka, menambah kepusingan Raka hari ini.


"Halo, kenapa Lang?" Ia mengangkat telfon sembari menyetir di tengah malam dan heningnya ibukota Jakarta.


"Bro, lo udah beneran ngecek audit kemarin?" Gilang memberikan pertanyaan yang seharusnya gak perlu


"Ya untuk apa lagi, semua udah kesebar...."


"Bukan, maksud gue itu benar orang audit atau?" Gilang memutuskan opsi pertanyaannya.


"Kenapa lo bisa bilang gini?" Pertanyaan ini jelas saja menimbulkan tanda tanya besar pada diri Raka. Mengingat apa yang terjadi kemarin berdampak pada sekarang dan rasanya keterlaluan jika ini adalah bagian skenario seseorang yang jahat kepadanya.


"Nih ya, gue barusan banget tanya temen gue dari kementerian, katanya sih gak ada pengecekan apa-apa. Malah mereka tuh mikirnya itu audit dari kantor kita sendiri..." Terang Gilang melalui sambungan telepon.


"Wait, tapi bukannya kemarin orang kementerian sudah dengar?" Raka tiba-tiba ingat ucapan Azka pada saat diminta Roger untuk klarifikasi tentang permasalahan ini.


"Ya itu mereka dengarnya karna audit internal. Cuma mereka juga heran kok beritanya sampe nasional.


Menurut gue sih ini ada yang gak beres, Bro!" Terang Gilang yang mencoba merunutkan peristiwa semuanya dan pihak-pihak yang terlibat.


"Gue coba cari tau dan pelajari dulu. Thank you untuk pertimbangannya, Bro.." Balas Raka.


"Ka, by the way lo gak mau coba konfirmasi ke manajer dulu tentang ini?" Gilang pun sebenarnya menaruh curiga besar terhadap Raka sebab dari lama semua hal itu dari keputusan Raka, padahal yang memutuskan apapun itu seharusnya manajer.


"Jangan dulu, Gue mau coba observasi semua yang mungkin terjadi..." Raka langsung menutup teleponnya.


"Gue tau ini ulah siapa...." Celetuk Raka sembari meletakkan ponselnya lagi di atas dashboard mobil.

__ADS_1


****


"Bukannya tadi udah kelar? Lo mau minta gue jauhin Gaby? Sorry Bro, tanpa lo jelasin apapun gue udah tau kalo lo demen sama Gaby. Untuk masalah satu itu, gue gak akan mau buat lepasin Gaby buat lo. Dia milik gue dan akan terus jadi milik gue….” Azka menyambut kedatangan Raka di depan pintu kayu dengan ketusnya.


“Gue bisa masuk dulu gak?” Jelas saja Raka membalasnya dengan lebih ketus. Ia masih berdiri di depan pintu dan dihalangi oleh Azka yang menahan pintu dengan tubuhnya sehingga Raka terhalang untuk masuk.


Azka membuka lebar pintu utama dan membiarkan Raka masuk. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda mama Azka.


“Papa kemana?”


“Sejak kapan lo peduli sama papa Kaa…” Azka memberikan senyum tipis dan sinis yang begitu menyakitkan.


“Gue tanya sekali lagi. Kemana bokap?” Ia menaikkan nada bicaranya satu oktaf lebih tinggi dari biasanya.


Wajahnya begitu serius, dan alisnya yang terangkat satu jelas saja membuat suasana begitu menegangkan.


“Ada di ruangan atas…” Jawab singkat Azka.


Tanpa basa basi, Raka langsung naik ke ruangan atas petunjuk Azka. Ya begitu pula Azka mengikuti dari belakangnya seolah punya feeling akan terjadi sesuatu.


Raka langsung membuka pintu kantor pribadi ini tanpa mengucapkan salam atau mengetuk terlebih dahulu, jelas saja tingkahnya ini membuat Azka kaget.


“Oh jadi ini maunya papa. Ya sudah aku terima, emang aku harus sadar diri karna aku bukanlah anak yang


papa mau....”


“Kamu kenapa? Tiba-tiba datang bilang gini…” Roger terkejut, ia membalikkan badannya menghadapku


dengan kursi putarnya. Ia sedang membaca beberapa buku di ruangan favoritnya yang seperti perpustakaan ini.


“Pa, aku sudah tau semua. Gak ada yang namanya audit tiba-tiba, gak ada yang namanya penyeberan ke media online kalo gak karena emang ada yang sebar. Semua ini tuh palsu kan, media seolah-olah dibuat dan menyudutkan aku satu pihak. Aku sudah cape Pa. Papa sengaja kasih aku target investor dan lain-lain demi menambah bisniss dibawah Kelola Azka, semuanya Azka. Apa papa gak bisa sepercaya itu dengan aku? Pa, aku ini anak papa juga….” Raka tidak getar meluapkan emosinya.


“Ini demi kebaikan keluarga kita Ka. Kamu harus sadar kalo adikmu ini jauh lebih kompeten. Gak maksud membandingkan tapi ya dia bisa Kelola perusahaan dengan baik.”


“Okelah untuk perusahaan sekarang lebih ke terserah, Cuma aku sakit hati aja rasanya ditusuk dari belakang sama keluarga sendiri. Sakit pa, rasanya tuh dikhianatin tanpa ada sisa sedikitpun, kenapa kalian bisa setega itu sih menjebak aku dan gilanya kalian harus melibatkan Gaby?”


"Karena dia bisa menjadi umpan untuk kekayaan keluarga kita..."


"Maksudnya?"


***


Teaser Next Eps:


"Lo bisa berhenti gak buat melibatkan Gilang di ruangan gue?" Raka melengos seolah memberikan signal cemburu.


"Gue gak akan biarin lo gitu aja untuk merebut Gaby dari gue..."


"Kok, Azka ada di ruangan Raka...." Deg jantungku berdegup kencang

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen cerita ini ya sayangnya akuuu dan follow IG aku juga yaaa guysss @catatan_allena. Tiktok juga boleh hehehe @blueofallena (biar author makin semangat hehehe)


Love love sekebonnn


__ADS_2