
“Iya, aku tau kamu sebelum ini….”
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku heran dengan statement yang dia berikan.
“Lo pasti bingung ya by. Ya wajar aja sih kalo lo bingung, entar lama-lama lo juga ngerti sendiri…” Tambahnya lagi. Lalu percakapan di jeda karna ada barista yang mengantarkan minuman kami.
“Terima kasih kak..” Ucap mbak barista tersebut lalu bergegas pergi.
Aku mengambil minuman yang ada di atas meja, dihadapanku lebih tepatnya. Ku seruputi sebanyak yang ku mau untuk mencerna semua hal yang barusan ia katakan kepadaku.
“Tapi, aku gak pernah liat mas sebelumnya…” Aku masih coba berkelit.
“Iya, memang benar. Gue rasa juga lo gak perlu tau sih sejauh itu tentang gue, Cuma gue mau kasih tau satu hal itu aja, dan Gilang gak terlibat dalam hal apapun….” Ia menutup obrolannya dan beranjak pergi bersama minumannya, meninggalkanku.
**
“Gaby, gue cariin lo disini ternyata….” Pria yang barusan dibahas oleh Raka menghampiriku.
“Bang, gue minta tolong bisa?”
“Apa? Gue selalu bisa buat bantu lo…. Tapi sebelumnya, lo harus percaya sama gue dulu, gue gak terlibat apapun By…..” Ungkapnya.
“Tolong biarin gue sendiri dulu. Gue butuh waktu sendiri, bisa?” Aku menghela nafas.
“Oke, gue hargain kalo memang maunya lo kayak gitu. Gue juga gak tau apa yang terjadi, intinya apapun itu, lo butuh teman cerita, ingat jadikan gue emergency call lo ya!” Baru kali ini aku mendengar Gilang gak memaksa kehendaknya. Baru pertama ini juga aku mendengar Gilang seolah legowo akan
keinginanku.
**
“Drrttt drrttt drrtt…” Telfonku bergetar di dalam saku celana berbahan kain.
“Lo dimana??? Ini udah jam berapa Gaby, gila lo ya minta diomelin sama Raka banget namanya!!!” Kania membentakku.
“Masih ada Raka?” Tanyaku.
“Ya ada, tad ikan lo pergi sama dia, kok dia bisa sampe duluan terus lo gak sampe-sampe sih. Udah waktunya jam kerja ini By….”
“Astaga udah setengah 10!” Batinku yang baru menyadari ku habiskan nyaris setengah hari dengan memikirkan banyak hal di luar urusan kantor.
__ADS_1
Aku bergegas menuju lift.
Karna ini hari pertama semua orang di kantor masuk, jelas saja dari awal memasuki lift sampe menuju ruangan Raka, mata pegawai semua tertuju padauk. Ditambah lagi aku memegang secangkir kopi yang jelas-jelas menjadi sorotan tersendiri bagi mereka. Memang gak ada aturan khusus, gak boleh keluar kantor di jam kerja, tapi memang pegawai di perusahaan ini semuanya cenderung patuh. Mereka tidak akan keluar pada saat jam kerja hanya sekedar membeli kopi, terlebih keluar pada saat jam kerja untuk nongkrong, sama sekali gak mungkin.
Aku perlahan mengetuk pintu besar yang membatasi ruangan Raka dengan meja pegawai umumnya.
“Maaf mas, izin masuk….” Aku memasukinya pelan, terlihat Raka masih fokus memperhatikan laptop di depannya. Ia acuh kepadaku.
“Lo gila ya By, mau mati lo…..” Kania mengoceh.
“Maaf maaff….” Bisikku pelan.
“Lo lagi kenapa sih…. Gak gak, ini bukan Cuma lo tapi mas Raka juga dari tadi aneh….” Tambahnya.
Aku mengabaikannya, karna gak mau begitu jelas cerita di depan Raka.
“Nanti aja..” Jawabku pelan setelah beberapa detik dari celotehannya.
***
“Ini Bang Gilang gak ikutan kita istirahat? Kok tumben banget…”
“Lah, kenapa? Lo masih mikir dia tau semua hal yang gak lo tau?”
“Bukan, bukan itu Nia. Gue butuh waktu sendiri dulu aja…”
“By, Azka gak mungkin datang kan? Dia pasti tau juga gue di perusahaan ini….”
“Ah iya masalah lo ya. Lo udah mikirin gimana baiknya?” Tanyaku, sebab juga ini berhubungan dengan orang yang sama, Azka.
“Gue udah mikirin mateng-mateng untuk ini By, gue mau resign aja minggu depan setelah gue nunjukkin kalo lo sahabat gue ke Azka….”
“Lo yakin dengan keputusan lo? Masuk perusahaan ini gak bisa semua orang masuk loh, Nia…”
“Pertama, untuk apa gue kerja tapi gue gak tenang setelah tau pemiliknya keluarga Azka. Kedua, gue gak mau kerja Cuma karna belas kasihan atau bentuk kompensasi Azka ke gue karna dia minta gugurin anaknya. Gue gak serendah itu Gaby Cuma untuk kerja di perusahaan yang gue mau banget ini.” Ia menjelaskan secara detail yang membuka mata dan pandanganku.
“Raka masih saudara Azka….” Celetukku.
“Feeling gue gak salah sih memang. Tapi lo sama sekali gak pernah lihat?”
__ADS_1
“Sama sekali gue gak pernah lihat Nia. Pikiran gue juga masih gak karuan, masa iya adiknya tunangan, Raka gak datang kan rasanya gak mungkin….”
“Lo jadi mikirin Raka?”Kania tersenyum tipis.
“Bu… bukan arah kesana…. Gue masih coba mencerna semua hal yang terjadi secara tiba-tiba….”
“Sekarang tuh semua keputusan ada di lo Gaby, kalo untuk gue pribadi, gue mau selesaiin dulu tugas-tugas gue di minggu ini sampe ketemu dengan brengsek itu secara tatap mata, baru gue resign…”
**
Obrolan selama jam istirahat dengan Kania betul-betul membuka perspektif baru bagiku. Hal yang paling ku banggakan selama ini dengan masuk ke perusahaan besar nasional, malah berakhir mengecewakan. Perusahaan itu punya keluarga Azka, dan yang lebih kagetnya lagi Raka pun terlibat di dalamnya. Sialnya, aku tau semua hal ini setelah aku merasakan hal beda kepada Raka. Susah bagiku untuk melepas perusahaan ini, meskipun cara masuknya dengan entah jalur apa, tidak bisa ku definisikan, tapi menjadi suatu kebanggaan sekali bisa disini. Namun, gimanapun nantinya keputusan ada di tanganku, ku lanjutkan atau ku hentikan.
“Bang Gilang, dimana?”
“Gue lagi di luar, kenapa By?” Ia mengangkat telfonku.
“Bisa ketemu after jam kantor, Bang?”
“Bisa, hari ini atau?”
“Iya, hari ini aja..”
Rasanya permintaan maaf model seperti apapun itu gak bisa menembus kesalahanku menuduh Gilang terlibat di dalam permainan ini. Tapi setidaknya, untuk saat ini aku hanya punya Gilang, orang satu-satunya yang bisa ku percaya walaupun sementara.
“Lo udah ngerasa lebih baik?”
“Gak juga sih Bang, Cuma aku mau kasih tau aja ke lo…”
“Tentang?”
“Gue bingung mau lanjut atau enggak di kantor. Gue gak tau sih lo udah paham secara benar-benar paham atau belum dengan kondisi yang terjadi. Tapi intinya, gue bingung untuk mutusin hal ini….”
“Gini By, gue rasanya juga udah gak pantas buat larang lo ini itu atau arahin lo ini itu, tapi yang pasti lo tau gue gak terlibat apapun dalam scenario Azka dan gue dukung semua keputusan yang terbaik buat lo…”
“Lo juga bahkan gak tau kalo Raka adalah saudaranya Azka?” Aku memancingnya.
“Gue tau tentang itu, tapi gue gak tau lo masuk ke dalam rencana mereka, By….”
“Dan lo ngerasa semua ini adalah kebetulan?”
__ADS_1