
Aku dan kedua teman lainnya sesama anak intern yang tidak mengikuti meeting darurat, lantas menanyakan status mereka bagaimana. Berhubung yang paling dekat dengan Gilang adalah aku, sehingga aku langsung saja berinisiatif untuk tanya kepada Gilang yang berada di sebelahnya.
"Bang, lo lagi sibuk ya?" Aku memastikan ia tidak dalam kondisi hectic.
"Iya lumayan ini semuanya nyerang ke gue, jadi gue udah kayak admin olshop balasin satu per satu chat dari bawah hahaha." Pria ini benar-benar luar biasa di tengah kesibukannya masih sempat bergurau kepadaku. Aku yang awalnya sangat takut menyapanya jadi ikut ketawa karena responnya.
"Astaga Bang. Gue pikir lo bakal jutek karena kan gue lihat-lihat lo sampai lari, wajahnya tegang, dan sibuk banget ngetak ngetik ponsel."
"Ya memang sibuk, Neng. Cuma kalo lo yang nanya mah ya gue fleksibel aja hahaha." Masih juga ia sempat menggoda.
"Lo mau tanya ya pasti?" Seperti dia telah membaca semua isi pikiranku.
"Iya. Lo tahu juga gak apa yang mau gue tanya?"
"Ya gak tahu emang gue dukun." Celetuknya dengan tersenyum meskipun matanya tak menatapku karena sibuk dengan balas chat di ponselnya.
"Hahaha kirain lo bisa tahu juga kan, bahaya kalo gitu. Bang, besok gue dan teman-teman intern gimana?" Aku langsung bertanya inti dari pertanyaan yang terpikirkan antara aku, Alfina dan Ahmad.
"Oh ya tadi kalian gak join meeting ya. Gini-gini gue jelasin bentar ya. Jadi besok semua staff work from home. Udah pernah dengar istilah itu?" Gilang meletakkan ponselnya dan mendekatkan bangkunya ke mejaku.
"Sebentar Bang, gue ajak aja ya Alfina dan Ahmadnya biar sekalian lo jelasin juga jadi bukan dari mulut gue penjelasannya." Saranku.
"Boleh ajak aja, karena kalo dari mulut lo khawatir udah ditambahkan bumbu-bumbu penyedap ya hahaha." Godanya yang secara tidak langsung menyebutku sebagai biang gosip.
Aku meliriknya sinis, lalu ku palingkan wajahku menuju meja Ahmad agar memberinya kode untuk segera berkumpul di mejaku tentu bersama Alfina juga.
__ADS_1
Ahmad yang merasa ditatap olehku langsung paham apa yang ku maksud, dan ia juga memanggil Alfina untuk segera datang ke arahku. Setelah semuanya berkumpul, Gilang memberikan penjelasan terkait status kerja kami pasca adanya restrukturisasi ini.
"Oke udah kumpul semua ya. Boleh kalian ambil bangku dulu aja nih biar gak pada berdiri." Ujar Gilang yang memastikan agar kami dapat mendengarkan dengan nyaman.
Setelah Alfi dan Ahmad kembali lagi ke mejaku dengan membawa kursi masing-masing, Gilang seolah ingin kami membentuk lingkaran agar penyampaiannya bisa langsung didengar oleh kami bertiga. Setelah posisi yang Gilang inginkan terpenuhi, ia langsung memberikan sambutan sekaligus informasi kepada anak magangnya.
"Oke sudah nyaman ya posisinya. Jadi gue langsung saja sebelumnya maaf banget kalo semenjak kalian join belum ada role job yang jelas, karena memang gue masih urus hal-hal yang mendesak koordinasi dengan pusat estimasinya sekitar akhir minggu ini selesai dan berencana untuk buat project bareng kalian. Namun ternyata kemarin dapat komando baru dari Mas Raka yang meminta Gaby dan Ahmad untuk sementara waktu pindah ke divisi sebelah. Nah mungkin nanti Alfi bisa bantu gue untuk persiapan project ini. Lalu yang kedua, seperti yang kalian saksikan sendiri beberapa menit yang lalu terjadi kekacauan di meja ini bahkan selantai karena ada restrukturisasi darurat, sehingga besok semua staff work from home. Kalian sudah tahu istilah ini?" Gilang memastikan agar anak magangnya paham dengan mekanisme kerja dari rumah ini.
"Kerja dari rumah kan maksudnya, Mas?" Ucap Alfi.
"Iya terjemahannya kerja dari rumah, namun sedikit ku jelaskan mekanismenya ya. Jadi, meskipun kita kerja dari rumah tetap harus bertanggung jawab dengan tugas, komunikasi, dan yang terpenting adalah absen ya. Misalnya saat ini belum ada kerjaan, mungkin kalian bisa baca-baca materi dulu. Lakukan sefleksibel mungkin tapi tetap on track."
"Terus kapan kami masuk lagi?" Tanya Ahmad.
"Nanti gue bakal berikan informasi melalui grup. Oh ya satu lagi, tolong masalah wfh ini jangan disebarluaskan ke eksternal ya."
Aku meliriknya dan langsung menutupi mulutku agar tak ketahuan bahwa aku menahan tawa atas tanggapannya. Sementara Gilang langsung saja tertawa mendengar respon Alfi.
"Hahahaa. Sorry gue salah, maksud gue tuh teman-teman beda lantai. Kalo orang tua tahu ya silahkan aja."
Alfi yang mengerti akan maksud Gilang hanya membalasnya dengan anggukan.
"Masih ada yang mau ditanya? Atau ada yang bingung?" Gilang memastikan sekali lagi agar semua clear dan anak magangnya ini juga bisa paham.
"Dari saya udah cukup, Mas." Jawab Alfi.
__ADS_1
Aku dan Ahmad hanya mengangguk pertanda kami pun setuju dengan Alfi yang sudah paham apa yang telah Gilang sampaikan tadi.
Setelah semua dirasa sudah cukup Gilang menutup meeting kecil ini, dan mereka kembali ke meja masing-masing.
"Udah jam empat By, yuk pulang." Ajak Gilang yang baru saja beranjak dari mejaku.
"Lah iya, gak berasa banget ya tiba-tiba udah mau pulang aja." Celetukku.
"Bagi gue hari ini berasa banget hahaha. Benar-benar hectic." Ungkapnya sembari menggulung kabel chargeran laptop.
"Hahaha bukannya ketika sibuk waktu lebih gak berasa, Bang? Ya dibandingkan gak ngapa-ngapain pasti lebih berasa lama." Aku menyanggah pendapatnya.
"Betul juga sih harusnya begitu ya. Kayaknya gue melawan hukum dah ini. Justru ketika chaos, gue merasa lama, sementara kalo lagi slow di pekerjaan, waktu berasa cepat aja tiba-tiba udah sore dan persiapan pulang." Ia sudah terlihat rapi dan siap untuk pulang dengan tas ranselnya berwarna coklat kulit, ia begitu serasi dengan kemeja coklatnya.
"Lo pulang bawa mobil, By?" Tanyanya.
"Enggak, tadi gue berangkat naik ojek online, jadi kemungkinan besar ya pulangnya juga pakai itu lagi."
"Atau lo mau gue anterin aja? Gue lagi bawa motor dan ada helm dua sih." Gilang mencoba menawarkan agar aku diantar olehnya.
"Lo gak jauh banget kalo harus ngantar gue? Rumah lo di utara sementara gue di selatan, ah jangan deh Bang, gue gak mau membuat lo susah." Setelah aku jabarkan posisinya, langsung saja ku tolak niat baiknya, karena terlalu kasihan apabila ia mengantarku sejauh itu, dan harus pulang lagi yang berada di ujung sana.
"Ya sudah kalo lo gak mau, paling tidak izinkan gue buat nungguin lo sampe lo naik ke ojek onlinenya ya." Lagi-lagi kebaikannya sangat luar biasa untuk seukuran kakak kelas dan mentor.
Aku mengangguk pertanda setuju, dan kami langsung turun dari lantai ini melalui lift. Ketika keluar dari pintu utama kantor, aku melihat sosok yang gak asing tengah bersender di mobil sedan silver. Pria itu mengenakan jas dan sangat rapi sehingga membuat pasang mata melirik kepadanya, belum lagi wajah bulenya yang sudah jelas menambah nilai plus dikalangan pria.
__ADS_1
Ia menatapku begitu pun aku sebaliknya.
"Gaby......" Pria itu memanggil dan melambaikan tangannya ke arahku dengan tersenyum lebar menghias wajahnya.