
Semenjak kejadian kemarin, aku merasa sudah empat hari Raka seolah menjauhiku. Entah karna perasaanku saja atau memang benar dia lagi berbagi jarak denganku. Sudah tidak ada lagi perintah aneh-aneh dari dia, bahkan aku pun langsung dipindahkan ke tempatku semula bersama Gilang. Ia jadi asing, kadang lewat pun hanya sebatas sapa anggukan. Ia sudah gak lagi komunikasi denganku.
"Lo sama Mas Raka beneran gak teguran?" Di tengah jam makan siang, seperti biasa aku, Kania dan Gilang kumpul di satu tempat makan yang sama.
"Enggak. Gak tau deh dia kenapa..."
"Bang Gilang nih kayanya tau.." Lempar Kania.
"Gue juga gak tau dia kenapa. Lagi ada masalah kali di keluarganya." Celetuk Gilang.
"Tapi sebenarnya hand over dari lo kemarin juga belum clear kan By? Lo masih ada yang harus di kasih ke Masnya kan?"
"Iya. Mungkin siang ini gue ke ruangan dia lagi. Tapi kok jadi agak canggung ya..." Aku menghentikan suapanku.
"Perasaan lo gak karuan?" Kania senyum tipis. Tau persis pasti wanita ini tengah meledekku.
"Hahaah ngaco lo mah. Bukan kesana, cuma yaaa awkward aja jadinya. Lo temenin ya entar..." Pintaku kepada anak magang yang beneran langsung ke Raka.
"Lo tuh pasti lagi merasa kehilangan orang yang selalu jailin lo sih..." Jail Kania lagi sembari tertawa.
***
"Mas, maaf izin masuk..." Aku mengetuk pelan pintu yang tengah tertutup sembari mengintip di celah-celah.
"Iya. Kenapa?" Balasnya ketus.
Sialnya, aku gak jadi ditemenin Kania. Ia harus mengejar deadline yang diberikan oleh Raka dan harus selesai sore ini sebelum pulang.
"Mas, untuk dokumen yang kemarin, ini saya sudah coba draft..." Aku menghampiri meja kerjanya, ia sama sekali tidak menggubrisku.
"Sudah?"
"Iya Mas..." Aku meletakkan tepat di depan mejanya.
"Terus ada apa lagi?" Ia menjadi sosok Raka yang dingin lagi. Seperti di awal pertemuan yang menyebalkan.
__ADS_1
"Mas, saya ada salah?" Aku sedikit memberanikan diri...
"Enggak. Kenapa bisa nanya gitu?" Ia mulai mengalihkan pandangannya ke arah mataku.
"Soalnya Mas ketus banget. Kalo saya ada salah bilang aja Mas, gak apa-apa..." Tanpa berpikir 2-3 kali aku bisa mengungkapkannya.
"Ada hal yang mau gue kasih tau, tapi gak mungkin sekarang..." Ia membalikkan badannya mengarah ke jendela gedung pencakar langit.
Sementara aku malah tambah kaku merespon manusia penuh dengan teka-teki ini.
"Kalo lo bisa, pulang kantor temuin gue di Cafe Albana. Sekarang lo bisa melanjutkan pekerjaan kantor dulu..." Ia secara halus mengusirku keluar.
Aku hanya mengangguk dan beranjak pergi meninggalkan ruangannya dengan penuh rasa penasaran dan kekhawatiran. Apa yang sebenarnya ingin dia bicarakan dan kenapa jadi seserius itu yang padahal aku pun sama sekali gak marah terucap karna masalah kemarin.
Setelah dari ruangannya, aku melanjutkan pekerjaan dengan hati yang gelisah. Coba menerka-nerka apalagi setelah ini. Jika dia mau menemuiku hanya karna membujuk untuk bersama adiknya, Azka, sudah jelas keputusanku udah bulat. Aku gak mau sama lelaki brengsek itu, bahkan saat ini aku sudah menghentikan semua jalur komunikasi yang mungkin akan dilakukan Azka. Aku gak benci, cuma aku gak mau terus-terusan seolah diteror olehnya.
Akhirnya jam pulang yang ditunggu-tunggu datang juga, tepat pukul 4 sore aku melihat Raka keluar dari ruangannya. Sama sekali tidak melirik ke arahku. Dia begitu dingin.
"Lo pulang sendiri atau mau bareng?" Seperti biasa Gilang yang baik hati ini menawariku pulang bersamanya.
"Siapa?" Ia bertanya agak penasaran.
"Raka. Tapi lo jangan salah paham dulu..." Aku tau persis Gilang pasti kesal.
"By, udah. Gue bilang juga udah kan..." Benar saja dia terlihat kesal.
"Bang, kemarin lo yang bilang sendiri kan gak mau atur-atur gue lagi...."
"Iya benar gue bilang gitu. Tapi kecuali untuk Raka, berhenti By...." Lagi ia meletakkan rasa cemburunya tidak di situasi dan waktu yang tepat.
"Emangnya kenapa sih? Gue udah cukup untuk diam ya selama ini. Bahkan gue masuk jebakan ini aja gue masih diam. Entah awalnya karna siapa yang mau menjebak gue ada di perusahaan Azka...."
"Gue gak bisa kasih tau lo By. Kalo memang lo kekeh untuk tau, silahkan lo tanya langsung dengan Azka atau Raka. Porsi gue kayaknya udah sampai sini aja..." Ucap Gilang.
***
__ADS_1
Aku meninggalkan Gilang dengan perasaan kesal. Kesal karna sikap Raka yang berubah dingin lagi, kesal dengan kenyataan kalo aku di perusahaan ini hanya karna Azka dan keluarganya, kesal juga dengan Gilang yang seolah menutupi semua hal.
"Udah dari tadi?" Suara yang begitu jelas ku kenal tepat berada di belakangku.
"Belum Mas..." Aku jawab pelan dengan perasaan gak karuan juga.
"Maaf sudah melibatkan lo.." Ia duduk dan membuka statement.
"Mas, sebenarnya ada apa? Gini maksudnya, kalo memang saya gak capable buat kerja di perusahaan ini, ya gak apa. Asalkan jelas maksudnya..." Aku berusaha tenang.
"Kamu ngerasa gak nyaman?"
"Ya jelas Mas, maaf banget nih Mas.."
"Apa yang buat kamu gak nyaman?"
"Ya semuanya. Kalo boleh jujur, dari sisi Mas yang angin-anginan, kadang baik selangit, kadang nyebelin banget. Belum lagi sekarang aku tau semuanya karna Azka dan papanya. Aku merasa berat banget..."
"Kalo menurut lo karna Azka, lo salah By..." Pertama kalinya dia mengucapkan namaku dengan lembut.
"Gue gak bisa juga main sembarangan masukin orang yang gak sesuai kualifikasi ke perusahaan ini." Ia mencoba mengalihkan perspektifku.
"Tapi, tetap aja ada kaitannya dengan Azka. Dan yang seperti Mas tau juga, aku sama sekali gak bisa nerima dia. Jadi, kalo memang dengan masukin aku kerja disini cuma untuk mancing buat nikahin aku ya lebih baik jangan, Mas..." Aku coba jelaskan apa yang dari kemarin terpendam.
"Gak, kan udah gue bilang di awal. Satu hal lagi, perusahaan ini bukan punya Azka. Ini beneran punya gue dan atas kontrol apa yang gue mau..."
Aku hanya diam, gak memberikan respon apapun, meskipun ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan di moment ini. Tapi rasanya agak kurang etis untuk ku sampaikan.
"Lo gak nanya kenapa terus-terusan lo yang gue jailin?" Deg! Ia bisa membaca pikiranku!
"Oke, mungkin lo gak mau nanya pertanyaan aneh itu. Tapi gue rasanya sudah punya jawaban sebagai persiapan suatu hari lo nanya. Bukan karna kemampuan lo yang kurang apalagi lo sampe berpikir ini karna Azka yang bawa lo, sama sekali bukan..." Dan baru pertama ini juga ia bisa menjelaskan secara detail tanpa diminta. Belum lagi tatapan matanya yang malam ini cukup beda dari biasanya.
"Iya terus karna apa, Mas?"
"Maaf karna selama ini cinta sama lo!"
__ADS_1