Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 33 Tantangan Smith


__ADS_3

"Bagaimana ini Ka? Bukannya Papa sudah peringatkan jangan sampai tersebar khalayak apalagi ini sudah masuk media!" Ucap Smith dengan intonasi tingginya.


"Ya aku juga tidak tahu kenapa bisa tersebar dengan berbagai segmen issu." Raka mempertahankan argumen dan pendiriannya.


"Lantas, apa yang bisa kamu lakukan untuk mengatasinya? Apa perlu adikmu juga turun tangan?" Smith masih dengan emosi yang mendidih kala perusahaan kebanggannya itu nyaris di titik kehancuran.


"Gak perlu, aku bisa mengatasi hal ini."


"Bagaimana caranya? Grup Karya sudah melepaskan diri menjadi investor, sekarang perusahaan di audit, bahkan bisa sampai ke pemeriksaan detail oleh negara. Kau mau mempertanggungjawabkan semuanya?" Sang papa yang awalnya masih duduk di kursi kerjanya merasa gelisah dan akhirnya ia berdiri sembari mengetuk-ngetuk mejanya menggunakan jarinya.


"Aku yakin kinerja staffku tidak melakukan penggelapan dana apapun, Pa!" Raka masih terus yakin tidak terjadi penggelapan dana sebab ia sudah mengecek secara detail laporan keuangan dan tidak ditemukan adanya indikasi kecurangan bahkan 1 rupiah pun.


"Kau yakin? Lalu kenapa mereka melakukan audit dengan surat perintah penggeledahan?"


"Karena adanya salah paham dan kurang justifikasi dari pihak human resource. Rencana bulan depan akan ada rapat koordinasi yang melibatkan banyak fungsi, dari semua data mutasi yang ada tercantum nominal lebih tinggi daripada tahun-tahun lalu. Hal itu karena adanya anak intern yang baru masuk tahun ini, sehingga kurangnya dokumen justifikasi yang membuat pihak pusat mencurigai adanya indikasi penggelapan dana." Raka yang masih berdiri mencoba menjelaskan secara perlahan kepada ayahnya yang masih terlihat bingung, gelisah, dan penuh ketakutan akan pemeriksaan dari pihak kepolisian.


"Kau yakin?" Mata pria paruh baya ini menatap tajam Raka.


"Aku yang selalu berada di kantor. Apa begitu susah bagi Papa untuk percaya kepadaku?"


"Paaaaaa, sudah sampai ke telinga menteri nih. Semuanya bakal di crosscheck sampai ke akar-akarnya!" Azka yang teriak sembari berlari menyodorkan ponselnya berisi berita terkini.


Raka menatap Azka sinis, sebab selalu saja Azka ikut campur urusan bisnis apapun itu. Pantas saja ia bisa menjadi anak kesayangan sang ayah.


"Kau bisa bantu abangmu untuk membereskannya?" Smith yang terlihat lebih percaya kepada Azka dibandingkan Raka menawarkan agar Azka juga terlibat untuk mengalihkan isu penyelidikan ini.


"Untuk apa sih Pa? Ia juga tidak akan mengerti!" Raka yang sudah kehilangan kesabaran kini berada di puncak emosinya.


"Raka, adikmu ini pembisnis hebat. Ia telah pegang beberapa resto dan semua berjalan dengan lancar. Apa salahnya melibatkan adik tirimu?" Jelas saja Smith mempercayakan Azka untuk membereskan permasalahan ini, bukan Azka yang membantu Raka, melainkan bagi Smith, Azka ini adalah pembisnis hebat yang sudah punya nama dalam memegang perusahaan.

__ADS_1


"Paaaa tolong dong! Ini perusahaan migas yang gak cuma melibatkan stakeholder tetapi juga pemerintah dan rakyat. Beda treatmennya dengan perusahaan restoran yang cuma melibatkan stakeholder aja. Jangan samain dong! Aku ini lulusan manajemen energi dan teknik yang sudah jelas paham apa yang harus dilakukan. Pasti akan beda perspektif meskipun itu hanya diskusi dengan dia." Raka menunjuk adik tirinya yang berada tepat di sampingnya.


"Kalo memang kamu kekeh seperti itu, oke silahkan. Papa kasih waktu kamu tiga hari untuk bersihkan nama baik perusahaan dan tarik lagi satu investor untuk kerjasama dengan kita dalam waktu 1 minggu. Bisa?" Tantang Smith.


"Oke, aku turutin semua yang Papa tantang asal jangan selalu dia ini terlibat dalam urusanku!" Bentak Raka yang langsung meninggalkan ruang kerja papanya di dalam rumah ibu tirinya itu.


Raka keluar dari rumah tanpa pamitan dengan ibu tirinya yang sedang menonton tv di ruang tengah. Ibu tirinya hanya melihatnya berlalu dan tanpa menghentikannya juga.


"Sial! Gue benci banget kenapa selalu anak tengil itu yang dilibatkan! Padahal sudah jelas dia adalah anak pembuat onar sejak dulu, namun tetap saja selalu dibanggakan!" Raka menghentakkan tangannya di atas setir mobil yang masih terparkir di halaman rumah orang tuanya.


"Berharap mama masih ada, pasti semua akan baik-baik saja." Seketika nada suaranya berubah emosional.


Ia kembali mengingat sosok ibunya yang begitu ia cinta sampai dengan nafas terakhirnya.


Raka mengusapkan air mata yang tak sengaja terjatuh di pelipisnya.


"Lo bisa menghadapi ini, Ka! Mama selalu ada dekat lo, cuma sekarang lo gak bisa lihat aja!" Raka mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Selama perjalanan, ia berpikir bagaimana menuntaskan ini dalam tiga hari. Seketika membuat semuanya baik-baik saja. Tentu, kali ini ia tak bisa sendiri, ia butuh beberapa orang untuk membantunya menyelesaikan misi ini.


"Ini tantangan gila! Bahkan pemeriksaan pun biasanya membutuhkan waktu 7 hari kerja, sementara ini harus 3 hari!" Raka yang masih terbayang akan tantangan sang papa mulai berpikir keras bagaimana strategi yang cepat untuk menuntaskannya.


Di jalan panjang ini, ia melihat sebuah kafe yang mungkin saja ia butuh istirahat dan rileks sembari menyeruput kopi supaya pikirannya fresh dan bisa berpikir lebih jernih. Ia langsung memasang lampu tanda belok kiri untuk memasuki kawasan kafe tersebut. Raka parkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk kafe agar tak jauh ia harus berjalan.


Ia melepaskan sabuk pengamannya sembari mengeluarkan ponsel dari saku celana.


"Sepertinya gue perlu bantuan Gilang." Ucapnya.


Raka langsung menuruni mobil dan masuk ke dalam kafe untuk memesan menu kopi favoritnya.

__ADS_1


"Mba, caramel machiato. Susunya diganti almond dan less ice." Begitulah menu yang selalu ia pesankan ketika berkunjung ke kafe untuk memesan kopi.


"Makanannya mau sekalian, Kak?" Tawar sang barista yang menunjuk gerai roti-roti ala Perancis itu.


"Boleh deh, gue mau chocolate croissant." Tambah Raka.


"Kakak mau saosnya butter atau strawberry?"


"Boleh butter aja."


Raka langsung menyodorkan kartu debitnya sebagai cara pembayaran.


"Silahkan pinnya kak."


Setelah selesai transaksi pembayaran, ia langsung menuju meja yang telah ia pilih sedari pertama datang dan langsung duduk di meja yang langsung berhadapan dengan lalu lintas jalan ibukota di sore hari.


"Hai Kak, ini pesanannya ya." Ujar Barista yang memberikan pesanan tamunya dan diletakkan di atas meja.


Setelah barista itu pamit, Raka mengeluarkan ponselnya lagi mencari nama Gilang di dalam kontaknya.


"Gilang, lo dimana?" Untungnya Gilang cepat mengangkat teleponnya ini.


"Masih di rumah Gaby. Kenapa?" Gilang bertanya balik.


Raka yang justru lebih penasaran apa yang dilakukan Gilang di rumah wanita itu justru menanyakan lebih dulu apa yang tengah dilakukan olehnya disana.


"Lo lagi ngapain?" Tak terduga nadanya sedikit tinggi


"Habis antar Gaby." Ujarnya dengan singkat.

__ADS_1


"Lo kok emosi?"


__ADS_2