Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 43 Pertaruhan Harga Diri


__ADS_3

"Lo gak punya opsi lain?" Aku sejenak memejamkan mataku, berupaya mengontrol emosi yang kian memuncak.


"Gak punya. Itu opsi satu satunya buat gue nolong perusahaan lo. Ya gimana ya byy, gue tau sih perusahaan itu lagi diujung tanduk sekarang. Coba deh pikir siapa lagi yang bisa nolong lo selain gue......" Ia perlahan menyentuh tanganku, namun refleksnya aku lepaskan.


"Lagian, lo kenapa sih gak mau sama gue? Gue kurang apaa?"


"Kurang baik aja sih..." Gumamku.


"Ha apa? Gue gak denger..."


"Enggak, lupain aja...."


"Jadi gimana? Lo terima gak tawaran gue?" Ia memancingku lagi.


"Gue coba pikir dulu. Thanks waktunya..." Aku langsung berdiri hendak balik badan, Azka pegang lenganku.


"Sebentar..." Ia menghentikan.


"Lo kalo mau macem-macem disini gue teriak nih..." Ancang-ancangku, rasanya masih terus ada rasa trauma yang ia buat sewaktu di rumahku.


"Enggak by. Gue mau ngasih ini..." Ia memberikan sebuah kotak kecil warna merah.


"Isinya apa?" Aku menghentakkan tanganku dari genggamannya.


"Ya buka aja..." Ia tersenyum tipis.


Aku buka perlahan dan isi kotak tersebut adalah kalung....


"Maksud lo apa?" Aku menatapnya tajam.


"Ya itu sebagai hadiah aja karna udah mau maafin gue, calon istri..." Ia tertawa tipis.


"Dih siapa juga yang maafin lo..."


Aku langsung meletakkan kotak merah di atas meja makan, dan beranjak pergi meninggalkannya sendiri.


"By, lo jangan sampe nyesel ya sudah kaya gini..." Ia mengancamku.


Aku gak peduli dan tetap berjalan meninggalkan ruang VIP yang sudah ia pesan tanpa mencicipi sedikitpun makanan bahkan minuman yang sudah tersaji.


"By, gimana?" Gilang menghampiriku.


Aku masih diam dan terus berjalan keluar dari resto ini.


"Gila by, masa gue pesen es teh aja 50 ribu. Buset dah, kalo gak karnaa buat investor gila ini, ogah banget gue kesini..." Celotehnya sepanjang jalan.


Aku menghentikan langkahku. Lalu berbalik badan ke arahnya, sontak dia kaget karna kini wajahku sudah tepat di depan wajahnya.

__ADS_1


"By, looo kenapa...." Ia bertanya pelan.


"Kita harus pikir opsi lain..." Aku mulai berbicara.


"Tadi negosiasinya gagal?"


"Gak gagal, dia mau jadi investornya dengan syarat...." Aku menghentikan.


"Syarat apaaa??? Dokumen kita lengkap loh. Return dan historinya jelas. Kasih tau coba dia minta syarar apalagi..." Gilang menggebu-gebu. Ya wajar saja dia bersih kekeh untuk melayani dan melengkapi apa yang di mau oleh Azka. Karna memang saat ini cuma Azka yang terjangkau oleh kami berdua.


"Gue harus jadi istrinya......" Aku menunduk.


Gilang terdiam beberapa detik. Ia memutarkan badan dan berjalan cepat masuk lagi ke dalam resto.


"Bang...." Aku mengejarnya dan menarik tangannya.


"Bang, tenang dulu.... Lo gak boleh emosi kayak gini. Denger gak!!!!" Aku sedikit meninggikan nada bicaraku agar Gilang bisa kontrol emosinya. Dari wajahnya yang merah padam, dan keringat yang sudah mulai terlihat jelas ia sedang menahan emosinya dan siap untuk menumpahkan emosinya kepada Azka dibalik ruangan VIP itu.


"Gak bisa Gaby. Tuh orang harus dikasih pelajaran!!!" Ia masih berusaha untuk tidak berbicara nada tinggi kepadaku.


"Bang, bang. Bang Gilang. Please jangan kebawa emosi..." Aku coba menenangkan.


***


"Iya halo. Gue mau ketemu sama lo Ka, sekarang juga...."


Tut... Tut... Tut...


Telefon mati


"Ayo by, kita ketemu Raka..." Gilang langsung starter motornya dan pergi meninggalkan resto dengan amarah yang tak jadi ia buang ke Azka.


"Bang, aku takut. Kita belum ada hasil apapun hari ini...." Aku sedikit berbicara dengannya di atas sepeda motor.


"Udah, gak perlu takut. Pokoknya lo tenang aja..." Gilang melajukan motornya, terasa kali ini ia cukup ngebut membawaku dengan motornya. Seperti gak biasa aja dia ngebut kayak gini, seolah memang ada hal urgent yang harus ia bicarakan dengan Raka.


***


"Oke, jadi gimana hasilnya hari ini?" Si pria asisten manager ini menyambut kami dengan topik diskusi.


"Boleh pesen minum dulu aja, mas?" Aku memberanikan diri mengutarakannya karna ini adalah hakku juga untuk minum atas seharian suntuk ku hadapin dengan emosi.


"Ya udah, lo pada pesan dulu aja..." Aku dan Gilang berjalan menuju bartender untuk memesen beberapa menu favorit kami.


Setelah 10 menit, karna cukup antri juga, barulah giliran kami untuk pesan. Dengan catatan sistem papan nomor yang akan diantarkan oleh pihak cafe langsung ke meja kami.


"Bang, gue yang biasa ya.."

__ADS_1


"Machiato?" Tanyanya memastikan.


"Iya. Entar gue transfer aja ke lo..."


Setelah memesan menu minuman, kami berdua langsung menuju meja yang sudah terdapat Raka disana. Jujur saja sebenarnya aku takut juga untuk langsung berhadapan dengan Raka dalam kondisi gak ada hasil kayak gini. Lagian juga, gak tau maksud Gilang ngajak ketemu Raka dengan kondisi kami yang lagi gagal total kecuali sih kalo aku rela menukarkan harga diriku demi perusahaan tempat magang itu. Tapi, aku tidak serendah itu!


"Jadi, apa hasilnya? Kita sudah gak punya waktu banyak lagi loh..." Ucap Raka.


"Hmm gini ya Ka. Kita tuh gak bisa buat ini jadi cuma 3 hari. Ya lo coba deh posisikan diri lo sebagai calon investor, bisa gak lo cuma 3 hari untuk review perusahaan baru yang sama sekali gak lo kenal? Enggak kan? Nah sama kayak yang kami lakuin juga sia-sia......" Gilang seperti mengungkapkan semua kegelisahannya sedari kemarin.


"Ya gue tau, dan benar gue juga gak akan bisa dengan mudah nerima itu. Tapi tetap aja gue mau tau apa usaha yang sudah kalian lakuin.." Ia masih terus menentang kami.


"Lo mau tau apa yang sudah kami lakuin?" Gilang meninggikan nada bicaranya, menatap tajam mata Raka, dan aku melihat tatapan serta ekspresi masing-masing dari mereka.


"Apa?"


"Ini nih anak magang yang ada di kantor lo sampe terancam menukar dirinya demi investor. Lo mau kami kayak gimana lagi?"


Mendengar Gilang mengucapkan kata itu, aku terplongo. Gak nyangka aja Gilang bakal bocorin sedetail itu ke Raka. Ya hal yang gak perlu tau lah untuk Raka dan pasti juga Raka sama sekali gak peduli. Karna jelas yang ia pedulikan sekarang adalah citra perusahaan dan gajinya sendiri.


"M..maks..maksud lo?"


"Kami pergi ke rumah mantan tunangan Gaby karna cuma satu-satunya orang yang bisa kami andalkan saat ini. Tapi bukan bantuan yang kami dapat malah penukaran harga diri manusia yang jadi tumbalnya. Dia mau jadi investor utama di perusahaan ini dengan syarat Gaby jadi istrinya. Apa lo gak bisa mikir impactnya segini besar, Ka?" Gilang masih sibuk dengan omelan yang lama ia pendam selama ini.


"Maksud lo Azka???????" Suaranya begitu keras.


"Sebentar, kok lo tau Azka?"


*


*


*


Teaser Eps selanjutnya:


"Gue gak nyangka selama ini lo bersengkongkol buat jatuhin gue. Gue kecewa banget sama lo!"


"Oh jadi ini maunya papa. Ya sudah aku terima, emang aku harus sadar diri karna aku bukanlah anak yang papa mau...."


"Lo bisa berhenti gak buat melibatkan Gilang di ruangan gue?" Raka melengos seolah memberikan signal cemburu.


"Kok, Azka ada di ruangan Raka...." Deg jantungku berdegup kencang


Jangan lupa vote cerita ini ya sayangnya akuuu dan follow IG aku juga yaaa guysss @catatan_allena. Tiktok juga boleh hehehe @blueofallena


Love love sekebonnn

__ADS_1


__ADS_2