Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 52 Jemputan Raka


__ADS_3

"Gaby, lo dicariin nih sama Raka. Lo udah sampe rumah gue belom?" Kania menghubungiku tepat di jam


makan siang.


 "Loh kenapa dia nyariin gue? Dia gak ada chat apapun sih ke gue. Gue baru sampe kamar lo nih..." Jawabku heran kenapa Raka gak langsung menghubungiku, justru bertanya dulu ke Kania.


 "Katanya mau meeting sama lo sih. Beneran dia gak hubungi lo? Mungkin gue dulu kali ya yang hubungi lo supaya lo langsung chat dia."


 "Yaudah entar aja deh sekalian ketemuan di kantor. Gue mau kasih surat resign..."


"Resign?"


“Iya, udah gak baik kalo gue lama-lama disana. Masalahnya semakin rumit, Nia. See you di kantor…” Aku menutup ponsel.


Meskipun kondisi hati lagi gak baik-baik saja, merasa dunia gak berpihak kepadaku tapi tetap juga harus ku selesaikan satu per satu permasalahan yang ada. Karir, sudah jelas aku kehilangan karir yang baru ku rintis menjadi anak magang, masa depan, ya kalo aku gak pernah melawan apa yang ada di depan mataku, tentu saja harapan hidup membangun karir dan cita-cita yang ku impikan akan pupus karna keegoisan kedua orang tuaku.


“Permisi Mas…” Aku mengetuk pintu ruangan Raka dan langsung memasukinya tanpa menunggu jawaban darinya.


“Kenapa baru masuk?” Raka merespon kehadiranku meski ia berbicara tanpa menatapku.


“Saya mau menyerahkan surat ini..” Aku memberikan sebuah surat beramplop coklat di depan mejanya, sementara fokus Raka masih di depan laptop.


“Ini apa?” Ia sedikit melirik kea rah amplop.


“Surat pengunduran diri saya…”Ucapku ragu.


“Kamu mau resign? Kenapa?” Ia langsung mengambil amplop tersebut dan memindahkan laptop dari pandangannya.


“Kayaknya semua yang ada sudah semakin rumit Mas, daripada membagi urusan pribadi dan professional di satu titik yang sama, saya izin mengundurkan diri aja..” Balasku dengan menunduk.


“Kalo gitu, saya permisi dulu Mas. Terima kasih banyak untuk semuanya..” Aku langsung keluar meninggalkan Raka.


Raka tidak menahan, ia membiarkanku pergi dari ruangan kantornya. Namun, matanya memang menyaksikan kepergianku hingga sampai pintu tertutup, dan tubuhku tidak terlihat lagi olehnya.

__ADS_1


“Gaby…” Suara nyaring nan kencang terdengar pada saat ku berjalan meninggalkan ruang kantor menuju lift.


Spontan aku menoleh ke belakang. Terlihat dua orang teman akrabku datang menghampiriku.


“Lo yakin banget mau resign?” Gilang sepertinya sudah mendapatkan informasi tersebut dari Kania.


“Iya sudah Bang. Sudah cukuplah drama-drama kayak gini. Gue mau jalanin hidup gue tanpa tekanan apapun…”


Kania tidak bergidik, ia hanya diam seakan menahan sesuatu yang ingin ia ungkapkan kepadaku. Mungkin nanti pada saat dia pulang, ia bisa menceritakaan atau menanyakan apapun sebab aku sudah mulai nginep di rumahnya per hari ini dan belum tau sampai kapan. Obrolan singkat di depan lift nyatanya menjadi hari terakhirku ada di kantor ini, melihat Gilang dengan wajah jailnya yang saat ini sedih juga, serta Kania dengan baju kantoran kesayangannya.


“By, terus rencana lo sekarang apa?” Kania seolah paham isi kepalaku yang memikirkan juga apalagi selanjutnya.


“Ini gue lagi apply-apply kerja…” Aku menunjukkan layer laptop yang tengah mengedit curriculum vitae untuk melamar kerja di tempat lain.


“Cari kerja susah lo by, mending lo balik aja lagi pasti Mas Raka bakal pertimbangin…”


“Lah, kemarin lo sendiri yang punya prinsip untuk ninggalin kantor, kok sekarang berubah haluan gini?”


“Bukan berubah haluan, cuma gue berpikir lebih realistis aja. Gue memang mau keluar dari sana dengan banyak pertimbangan salah satunya setelah gue dapat kerja dulu. Gak mungkin gue nekat tanpa ada pegangan keluar dari sana By. Lo tau sendiri kan bokap gue kadang iya kadang engga juga kirim bulanan, bisa melarat hidup gue tanpa ada income…”


**


“Kok Mas disini?” Aku melihat ke arah jam tanganku yang menunjukkan pukul delapan pagi. Lalu melirik lagi ke arah Raka yang tiba-tiba mendatangiku.


“Kamu ikut saya ke kantor, bisa? Lagian juga gak ngapa-ngapain kan cuma siram bunga doang…” Raka menarik tanganku sampai di depan mobilnya.


“T… tapi ada apa Mas?” Aku cukup kaget melihat responnya.


“Saya belum setuju atas surat pengunduran diri kamu kan? Ya artinya kamu masih jadi anak magang saya….”


Ia mempersilahkan ku masuk ke dalam mobil mercedesnya, dengan perasaan yang gak karuan aku mengikuti arahannya untuk masuk ke dalam mobil tersebut.


“Haduh mana masih pakai sendal…” Gumamku dalam hati.

__ADS_1


“Mas, boleh gak saya izin ganti pakaian dan sepatu dulu?” Aku menahannya menancapkan gas mobil.


“Gak perlu, nanti saya minta orang HR aja yang beliin kamu. Udah langsung ikut aja, sudah jam segini, kita gak punya waktu banyak…” Celotehnya.


Aku tidak punya daya untuk menolak, upayaku juga seolah sia-sia karna pasti ia tidak mengizinkanku untuk turun dari mobil ini.


“T.. tapi kenapa dia sampai segininya?” Celetukku dalam hati.


Iya aku tau memang tempo hari dia tiba-tiba mau melamarku, dan sudah jelas statementku adalah penolakan untuknya, ditambah aku juga sudah mengajukan resign dari kantor dan posisinya. Bukannya, ia paham kalo aku beneran gak mau sama dia? Lalu, kenapa dia masih juga kayak gini?


“Kamu, gak kenapa-napa Gaby?” Ia sedikit menoleh ke arahku.


“Gak apa-apa Mas….” Jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


“Ya kalo gak ada apa-apa kenapa mau ngundurin diri gitu secara mendadak?” Ia membuka ruang untuk berbicara. Padahal menurutku sudah jelas apa yang menjadi alasanku.


“Enggak mendadak, kan itu juga dipikirin, Mas..”


“Kamu gak tau kenyataan cari kerja itu susah?” Ia menyindirku sama seperti Kania tadi malam.


Aku terdiam.


“Jawab, apa kamu gak tau? Nih saya kasih tau ya, cari kerja itu susah, jadi kalo ada kesempatan buat kerja ya jangan disia-siain lah. Mana kamu kan juga baru banget lulus, kamu gak lihat berapa banyak lulusan baru yang sampai sekarang belum dapat kerja? Harusnya tuh bersyukur By, bukan malah semenah-menah resign gini….”


Untuk pertama kalinya lagi, Raka memberikan nasihat baik dan ngomong lebih dari 10 kata kepadaku.


“Saya agak kurang nyaman aja dengan situasi yang sedang dihadapin oleh kita…” Aku memberanikan diri membuka statement.


“Karna saya atau?” Ia melirikku.


“Ya semuanya. Aku juga udah kasih tau mama papa yang sebenarnya terjadi, aku udah tau semua rencana kalian, dan aku gak mau untuk dijodoh-jodohin dengan cara kayak gini…”


“Iya, aku paham. Tapi, kamu gak mau coba dulu hal yang gak kamu mau itu?”

__ADS_1


Aku mengernyitkan dahi menatap matanya.


__ADS_2