Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 28 Ruangan Khusus


__ADS_3

"Haaaa??? Manusia paling ga sopan yang pernah gue temuin ya dia!!! Udah nelepon gak pakai salam, ngomong seperlunya langsung ditutup tanpa peduli respon lawan bicara apa, dan harus banget ngasih kabarnya dadakan. Mending ngomong noh sama tembok."


Aku yang sedari tadi masih goleran, langsung terbangun kaget. Tanpa berlama-lama meskipun sambil mengomel aku langsung saja mengambil handuk dan lekas mandi dengan sangat buru-buru berasa sedang ikutan acara uang kaget.


Rekor tercepat mandiku kali ini adalah 10 menit dan langsung aja menggunakan baju seadanya tanpa riasan apapun di wajah. Pagi itu juga tepat jam 6 subuh aku keluar kamar dengan kondisi rapi dan bersiap memesan ojek online.


"Berangkat pakai apa, Nak?" Tanya papa yang sudah stanby di kursi makan menunggu mama selesai masak.


Tanpa ku jawab, aku langsung berlari menghampiri mereka dengan berpamitan.


"Gaby pergi dulu udah ditunggu ojeknya. Byee Mah Pah."


Untungnya abang ojek ini cepat sampai dan langsung saja ku minta ia menancapkan gasnya ketika aku sudah berada dalam posisi duduk yang nyaman dan telah mengenakan helm.


Sepanjang perjalanan aku hanya melihat ponselku yang sedang ku buka kamera depan, terlihat wajahku tanpa riasan make up sedikit pun membuat wajah ini benar-benar terlihat seperti orang yang baru bangun tidur dan gak mandi. Sebab apabila ku sempatkan dandan terlebih dahulu, tentu saja tidak akan keburu, dan nantinya akan telat yang menyebabkan masalah baru lagi dengan Raka itu.


Dari lalu lalang di jalanan, aku bersyukur sebab pagi ini masih amat sepi dan udaranya juga masih sejuk tak seperti ketika pulang kantor yang begitu menyimbang polusi udara tertinggi di jalanan khsusunya ibukota.


Setelah sampai depan kantor, aku menuruni ojek online ini, sembari memberikan helm dan mengucapkan terima kasih, terlihat Raka yang baru saja memasuki pintu utama.


"Ah gue jalan pelan aja deh, daripada barengan sama dia." Sengaja aku menghindar agar tidak satu lift bersamanya.


Dengan pelan aku jalan langkah demi langkah dengan gerakan yang amat lambat, dan beruntungnya kali ini berjalan sesuai dengan rencana. Sebab ketika ku sampai di depan lift terlihat kloter sebelumnya sudah terlebih dahulu naik, ya itu merupakan Raka sebab ia jalan lebih dulu daripadaku.


Setelah menunggu beberapa saat, pintu lift kembali terbuka untuk mengangkut sisa penumpang yang juga akan naik ke gedung pencakar langit ini melalui lift. Setelah sampai di lantai yang ku tuju, aku langsung keluar dari lift dan berjalan menuju meja kerjaku.


"Astaga gue lupa kalo mejanya bukan di sayap ini lagi." Aku yang langsung sadar bahwa tempatku bukan di bagian Gilang lagi langsung memutar badan menuju sayap sebelahnya.

__ADS_1


"Tapi gue belum di kasih tau nih mejanya yang mana." Gerutuku.


Sembari berjalan pelan, aku sambil berpikir, salah satunya yang bisa ku andalkan adalah Kania.


"Ah, Kania harusnya masuk juga dong hari ini." Harapku dan baru juga ingat bahwa sahabatku ini berada dibawah naungan Raka.


[Kania lo udah di kantor?] 18.50


Tak lama dari pesan yang ku kirim terdapat balasan langsung dari sahabatku ini.


[Gue disuruh WFH sih ini By. Lo kok ke kantor?] 18.50


Nah loh. Sepertinya kali ini aku akan menjadi target Raka lagi. Entah dia punya dendam apa denganku hingga selalu saja aku yang dilibatkan.


[Gak tau, mentor lo yang nyuruh gue ke kantor tadi pagi dia nelfon] 18.51


"Sepertinya ini adalah kasus besar." Gumamku.


Aku masih berdiri di depan salah satu meja yang posisinya tepat berhadapan dengan pintu ruangan Raka. Aku bingung harus apa saat ini sebab begitu sepi, seperti tidak berpenghuni.


Cukup lama aku berdiri, hingga sampai tepat pukul 7, ada seorang pria yang keluar dari ruangan besar tersebut. Pria dengan baju hitam polos sembari merapihkan sisi rambutnya menatapku. Mata kami saling bertemu satu sama lain.


"Lo tuh kalo udah datang kan bisa bilang. Jadi gue gak nunggu lama begini." Gerutunya dari jauh hingga mendekat ke arahku.


"Maaf Mas, sebab saya bingung harus kemana." Jawabku dengan alasan yang sesungguhnya.


"Ya kan bisa nanya, ada ponsel itu digunain bukan cuma dilihat atau main game doang."

__ADS_1


"Meja kursi saya dimana Mas?" Aku langsung saja mengalihkan pembicaraannya.


"Wah iya, gue lupa nempatin lo di mana. Di sini semua mejanya keisi staff lagi." Ia terlihat berpikir dimana akan ia letakkan posisi kerjaku sembari memangku dagunya dan melihat seantero ruangan.


"Lah gimana sih, dia yang kekeh buru-buru malah tempat kerja gue pun dia belom tahu bakal dimana." Gerutuku dalam hati.


"Ya sudah lo sementara di ruang kerja gue dulu aja. Bukan di kursi dan meja gue, tapi lo duduk di meja rapat depan gue." Celetuknya.


Aku lantas kaget mendengarnya. Bagaimana bisa aku kerja setiap hari berasa di awasi seperti itu.....


"Gila ini gue bakal kerja rodi yang gak bisa buka ponsel dong." Ucapku dalam hati penuh ketakutan dan beberapa bayangan buruk kian mengancamku kala aku duduk disana sendirian dan ia berperan seperti cctv yang memantau secara detail.


"Maaf Mas, gak ada opsi lain?" Dengan begitu pelan aku melontarkan kalimat tersebut kepadanya agar ia bisa mempertimbangkan lagi lokasi kerjaku yang layak tanpa harus ada pengawasan seperti kerja rodi atau kerja pembantaian.


"Gak ada pilihan! Ikuti saja kalo kamu masih mau disini!" Ketusnya.


Aku hanya mengurut dada sembari terus bergumam dalam hati "sabar By sabar, semua akan berakhir, sabar...."


"Kenapa lo bengong? Ya sudah masuk lo ke dalam ruangan gue."


"Eh eh iya Mas."


Raka kembali memutar postur tubuhnya untuk memasuki ruangan kerjanya. Sementara aku mengikuti jalannya yang terasa begitu berat ketika melangkah seolah membawa beban nyaris ratusan kilo. Bahkan memasuki ruangannya ketika meeting saja sudah berasa masuk neraka. Bagaimana ini selama magang?


Setelah sampai ke ruangannya, aku langsung menarik kursi dan mendudukinya. Lalu ku turunkan tas tanganku untuk selanjutnya ku keluarkan peralatan kerja utama ini yaitu laptop, charger, dan mouse.


"Oke, mumpung udah duduk disini. Gue kasih sedikit briefing selama lo kerja di divisi gue, apa aja yang boleh lakukan dan gak boleh lakukan, terlebih tempat kerja yang lo gunakan adalah ruangan gue, sehingga gue butuh kerjasama dengan lo untuk menjaganya dengan baik-baik.

__ADS_1


"Oke Mas, apa yang bisa gue lakukan dan gak boleh di lakukan selama berada disini?"


__ADS_2