
"Tadi lo ngobrol sama siapa?" Belum lagi seutuhnya badan Azka masuk sudah langsung ku todongkan pertanyaan.
Ia diam beberapa saat untuk memastikan tubuhnya duduk dengan posisi yang nyaman dan pintu tertutup. Lalu ia meletakkan bawaannya ke arah belakang.
"Haa? Apa By?" Entah pura-pura tak dengar atau aktivitas barusan yang ia lakukan merupakan cara ia berpikir dengan cepat atas jawaban yang ku tunggu.
"Iya, gue nanya tadi lo ngobrol dengan siapa? Sekali lagi ku lontarkan pertanyaan yang sama.
"Ohhh, gak usah dibahas ya. Gak penting juga." Ia langsung menyalakan mobil sementara sosok yang ku kenal sebagai Raka melihat mobil kami melaju pergi.
Justru hal ini sangat menarik di mataku. Apalagi rahasia yang belum ku ketahui berhubungan dengan Azka dan Raka? Bagaimana keduanya bisa kenal? Apakah tadi Raka melihatku? Dan masih banyak detail pertanyaan yang harus ku temukan sendiri jawabannya. Bukan dengan menyatakan Raka adalah mentorku, atau aku bertanya kepada Raka tentang Azka, melainkan aku akan bongkar sendiri sebetulnya ada apa diantara keduanya.
Setelah Azka menjawab sedikit ketus pertanyaanku, ia diam di sepanjang jalan.
"Ka, lo gak lagi melamun kan?" Aku melihat ke arahnya agar ia tak menatap kosong ruas jalan yang bisa saja mengakibatkan hal fatal untuk kami berdua.
"Enggak kok." Jawabnya singkat.
Dari raut wajah dan tatapan matanya jelas kebaca ada yang salah dari pertemuan tadi. Ssbab sebelumnya pria disebelahku ini amat menjengkelkan, namun setelah bertemu dengan Raka, ia menjadi diam dan entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Lo gak apa-apa?" Aku memastikan kembali kondisinya dalam menyetir ini.
"Ka, kalo lo lagi gak fit buat bawa mobil, gak apa-apa tukaran aja sini sama gue." Aku mencoba menawarkan diri demi menjaga keselamatan bersama di jalan.
"Aman By. Sebentar lagi juga sampe kan rumah lo." Tetap saja ia mencoba menenangkan.
Setelah percakapan terakhir dia menyatakan aman untuk mengendarai mobil meski tatapannya sedikit kosong, akhirnya kami sampai juga di rumahku. Dari halaman depan sudah terlihat sebuah mobil yang juga mewah telah terparkir rapi di depan rumah.
"Benar saja orang tuanya datang." Bisikku lagi yang masih belum siap untuk membahas soal pernikahan terlebih langsung menyusun agenda pernikahan, waduh pusingnya minta ampun! Padahal aku dengan sengaja meminta waktu pengunduran agar aku bisa mencari celah untuk menolak. Satu bukti kuat sudah ku kumpulkan, namun hari ini aku menemukan teka-teki baru tentang hubungan dan Raka yang tampak tidak baik-baik saja, justru membuatku semakin penasaran dan butuh waktu yang makin panjang untuk mencari tahu apa yang terjadi diantara keduanya.
"Yuk By. Papi dan mami kayaknya udah di dalam." Ujar Azka basa basi.
__ADS_1
Aku tidak menggubris ucapannya, langsung saja ku lepaskan sabuk pengaman, dan berjalan menuju pintu masuk.
"Malam Mah, Pah, Oom dan Tante.." Sapaku dengan wajah yang jelas lusuh karena sengaja aku tidak touch up lagi agar mereka tahu aku tak secantik ketika wajah dalam kondisi fresh.
"Eh akhirnya calon pengantin datang juga." Jawab mami Azka yang heboh sendiri akan kedatangan kami.
"Ini loh Pi calon menantu kita. Gak dandan aja udah cantik banget ya."
"Sial gue udah lusuh begini aja masih bisa dibilang cantik. Lantas, aku harus dandan seperti apalagi agar merubah penilaian mereka terhadapku?" Ucapku dalam hati.
"Wah, cantik sekali kamu." Respon papi Azka dengan terbata-bata sebab ia belum terlalu lancar berbicara dalam bahasa Indonesia. Pria berumur ini bernama Mike. Ia merupakan asli penduduk Belanda yang menikah dengan orang Indonesia, sehingga wajar saja wajah Azka blasteran.
"Thank you Om dan Tante." Balasku singkat sebagai wujud kesopanan.
Mereka terus menyeringai menatapku, aku pun tak kuasa menutup mulut ini dari pancaran senyuman.
"Azka, kamu jadi beli makanan, kan?" Maminya bertanya agar bisa langsung dihidangkan makanan yang sudah dibawa oleh Azka dan aku.
"Iya jadi kok Mi. Ini aku di tangan aku." Sembari menunjukkan apa yang sedang ia genggam sekarang.
"Gaby, coba temenin Azkanya." Tambah mama yang sepertinya aku tahu persisi akal bulusnya.
Aku langsung saja berjalan dan berharap juga ia mengikuti dari belakang. Aku memasuki dapur dan menyiapkan beberapa piring untuk dihidangkan di meja makan. Namun sampai piring tersusun rapi belum juga Azka ikut masuk ke dalam dapur ini. Entah apa yang ia lakukan hingga menghambat perjalanannya menyusulku ke dapur. Aku yang gak sabaran langsung saja membawa piring ini menuju ruang makan.
"Eh eh eh maaf tadi gue ngobrol dulu. Sini dibantuin calon istriku." Ia langsung mengambil piring ini dari genggamanku.
Tanpa menjawab apapun, aku langsung memberikannya dan mengikutinya kembali menuju meja makan yang sudah terlihat anggota keluargaku dan keluarganya berkumpul dan bersiap untuk makan malam.
"Mah Pah, aku naik dulu ya. Mau bersih bersih."
"Loh makan dulu dong." Ucap mama yang tidak mengizinkanku.
__ADS_1
"Gerah mah." Masih juga ku lawan agar bisa menghindar dari obrolan yang aku sudah tahu arahnya akan kemana.
"Ya sudah jeng, biarin aja dulu Gaby bersih-bersih, biar segeran kan nanti enak moodnya bagus. Gih sayangnya Mami mandi dulu." Ujar mami Azka.
Tanpa peduli pendapat mama, aku langsung saja naik dengan menapaki setiap anak tangga menuju kamarku.
"Krek...."
"Akhirnya sampai juga disini........"
Langsung saja pintu ku kunci, dan ku cari handuk agar segera menepi di dalam kamar mandi untuk menikmati setiap tetesan air yang membasahi wajah dan tubuh ini dari pancuran shower.
Setelah berdiam diri menikmati air, aku keluar dari kamar mandi dan mengenakan baju piyama tanpa peduli masih ada tamu yang mungkin saja mereka sedang menungguku.
Belum lagi selesai aku mengancingkan baju ini, alias masih ada 2 kancing dari atas yang terbuka, sudah ada panggilan dari luar kamar. Suara pria yang tentu saja itu Azka.
"By, dipanggil mama..... Ayo turun sayang!"
"Dih najis apaan pede banget panggil sayang sayang!" Desisku yang masih terus mengancingkan baju hingga selesai.
"Iya sabar." Balasku ketus.
Setelah dirasa sudah beres, aku membukakan pintu yang terlihat Azka sudah berada tepat di depan pintu kamarku. Ia mendekati wajahku, lalu aku menghindar darinya yang tanpa sengaja justru jalan mundur memasuki kamar.
"Aku akan menciummu kali ini." Suara Azka yang berubah dengan sedikit berat.
Aku menghindarinya, namun tangannya begitu kuat mencekam bahuku. Sampai ia pentokkan aku ke dinding. Aku tak bisa berteriak seolah mulutku terkunci karena begitu ketakutan.
Ia mengarahkan bibirnya ke arah bibirku sembari membukakan kancing pertama dari piyama ini.
Hampir saja bibir ini bersentuhan, entah kekuatan dari mana aku bisa mendorongnya sekuat tenaga sembari menangis.
__ADS_1
"Kurang ajar lo!!!!!!!!" Aku berteriak yang mungkin saja seantero rumah mendengar teriakan ini.
Aku berlari menuju keluar kamar untuk meminta pertolongan, namun langkahnya yang begitu cepat berhasil mencekam tubuhku lagi.