Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 38 Labil


__ADS_3

“By, kenapa mukanya kusut banget. Kerjaan dikantornya lagi banyak?” Sapa mama yang menyambut kedatangan pulangku.


“Iya Mah.” Balasku singkat sembari melepaskan kaos kaki dan membawanya menuju kamarku.


“Sini kaos kakinya, Mama langsung bawa aja ke tempat cucian kotor.” Pinta mama.


“Gak usah Ma, entar aja aku bawa sekalian dengan baju kotor ini.”


“Kamu lagi ada masalah? Ini tumben banget ketus.” Mama sepertinya mulai merasakan perubahan signifikan dari sikapku.


Selang sepuluh detik kemudian, televisi dari ruang tengah menampilkan breaking news dan menceritakan bahwa tengah terjadi keributan di perusahaanku.


Mama yang terpancing melihat ke arah tv di depan kami ini, sontak kaget dan menarik tanganku hingga tepat berada di depan tv.


“By, ini apa? Mama baru banget dengar berita ini.”


“Biasa Ma, masalah kantor.”


“Kamu terlibat di dalamnya?” Ia terlihat seperti menginterviewku.


“Duh gue harus apa ini.” Bisikku dalam hati.


“E… enggak Ma..” Singkatku.


“Ma, aku gerah banget mau mandi dulu ya.” Aku menyela percakapan mama sebab jika terus ku ladeni maka sama dengan aku membongkar semua apa yang telah ada dalam isi perjanjian Raka.


Setelah sampai kamar, aku sedikit lega, setidaknya kali ini bisa lolos dari berbagai pertanyaan yang mungkin saja tanpa terpikirkan olehku jawabannya.


***


“Nak, Papa dengar perusahaanmu lagi bermasalah?” Di meja makan ini mau gak mau dan terpaksa juga aku harus bisa sedikit bersandiwara tentang kondisi sesungguhnya yang terjadi di perusahaanku magang.


“Iya Pa, katanya sih gitu.” Sembari aku menyuap nasi dengan sendok kuning ini.


“Kamu dapat bagian kerja dari rumah dong?”


Deg….


“Mampus kali ini gue bakal jawab apa, sebab papa bukanlah sembarang orang yang bisa dikelabui dengan mudah.” Batinku.


“Kebetulan divisiku masih ngantor sih Pa.” Jawabku pelan sembari memikirkan apalagi pertanyaan yang mungkin muncul dari obrolan ini.

__ADS_1


“Aman kan? Hati-hati aja, kadang ya kalo sudah ada di berita nasional seringnya kacau, tiba-tiba masa tuh menggeruduk kantornya. Cuma kalau memang masih ada kerjaan di divisinya ya harusnya perusahaan sudah menyiapkan standar keamanan yang baik untuk mencegah hal-hal buruk terjadi.” Untungnya kali ini respon papa sangat baik.


“Tadi kata bibi kamu bawa cowok, siapa By?” Mama pun di waktu yang tepat bisa mengalihkan topik pembicaraan.


“Itu yang aku ceritain, abang kelasku SMP dulu. Namanya Gilang.”


“Oh, kenapa cepat banget dia bertamunya, padahal mama kan mau kenalan juga sama mentormu itu.”


“Iya tadi aku juga sempat pergi lagi karena ada panggilan Raka.”


“Duh kalau kamu sebut nama Raka tuh kayanya gak asing banget di telinga Papa, tapi Papa juga gak tahu siapa dia.” Papa yang masih terus yakin mengingat sosok atas nama Raka namun tak jua ingin membuatnya kesal sendiri.


“Mungkin Raka yang beda, Pa.” Mama coba memberikannya ketenangan.


“Iya sih mungkin gitu, soalnya lupa banget nih.”


Setelah bercengkarama dalam obrolan makan ini, aku pamit untuk kembali ke kamarku. Sebab harus mempersiapkan diri lagi untuk mikir bagaimana pendekatan pertama kali kepada klien, bagaimana mengajukan hal-hal penting kepada investor, dan banyak hal lainnya yang perlu ku latih terlebih dahulu malam ini, sebelum besok siap eksekusi bersama dengan Gilang.


***


[Pagi By, lo tunggu aja di rumah ya. Gue bakal jemput lo jam delapan]05.00


Notifikasi dengan dentingan singkat membuatku terbangun lebih awal dibandingkan nada alarm yang telah ku setel di jam setengah enam subuh.


“Gilang, pagi-pagi banget sudah chat. E… eh… sebentar, artinya dia ngajakin bareng ini?” Diriku yang masih separuh sadar mencoba beberapa kali mengedipkan dan mengucek mataku.


“Eh iya benar. Untungnya jam delapan ini, jadi masih ada waktu buat siap-siap dulu.” Batinku.


***


“By, Gaby, ini temannya udah datang. Kamu udah siap kan?” Teriak mama dari halaman depan rumah menggelegarkan seisi rumah beserta rumah tetangga.


“Iya Ma, sabar lagi ambil sepatu.” Balasku dan langsung buru-buru menuju halaman depan tepat sumber suara tersebut berasal.


“Eh Bang, cepat banget ini lo datang belum lagi jam delapan.” Basa-basiku menyambut kedatangan Gilang pagi yang terlihat sedang mengenakan kemeja hitam rapi seirama dengan ranselnya.


“Iya sih, kurang lima menit doang By.” Jawabnya sembari cengar-cengir dihadapan mama.


“Ma, ini Gilang. Abang kelasku waktu SMP dulu pemain basket.” Aku mengenalkan Gilang kepada Mama yang kemarin-kemarin amat penasaran dengan sosok Gilang.


“Hai Tante, aku Gilang.” Masih dengan raut wajahnya yang senyam senyum.

__ADS_1


“Yuk.” Ajakku sembari pamit kepada Mama.


***


Di sepanjang jalan kami mengobrol saling bertanya satu sama lain mau mengerjakan pekerjaan gila ini dimana posisinya. Namun, tidak lama kemudian, ponsel yang berada di tanganku bergetar, artinya mendapatkan sebuah panggilan telepon.


“Raka? Ha? Ada apa dia nelepon!” Aku sedikit berteriak hingga membuat Gilang dengar.


“Kenapa By?”


“Raka nelepon nih, kita pinggir dulu aja kali Bang, biar kedengaran dia ngomong apa.” Pintaku, sebab jika posisinya masih di motor sudah pasti suara dia tidak akan kedengaran dan sangat takut bila ku membuat kesalahan.


Akhirnya, Gilang meminggirkan motornya, di bawah pohon rindang, sementara aku mencoba angkat telepon Raka ini.


“Gaby, lo lagi dimana sekarang?”


“Lagi sama Bang Gilang, Mas. Mau ngerjain untuk approach dokumen.” Singkatku yang semoga sudah tidak ada lagi pertanyaan tambahan darinya.


“Hari ini setidaknya lo sudah ada dapat calon kandidat ya.” Celotehnya.


“Sudah disiapkan Mas, sekarang tuh sedang ditahap eksekusi.” Jelasku.


“Ya ngapain lo bareng Gilang kalau gitu. Harusnya lo langsung aja ke masing-masing kantor buat propse investasinya.” Perintahnya.


“Ya gak bisa gitu, Mas. Bukannya negosiasi dan pengajuan juga butuh orang dengan komunikasi yang baik?”


“Jadi, komunikasimu gak baik?”


Terang saja ini membuatku emosi di pagi hari.


“Bukan gitu, tapi kan memang perlu briefing. Pokoknya hari ini bakal jalan Mas, jangan khawatir.” Celetukku sembari mematikan telepon dan menyimpan ponsel ini ke dalam jaket.


Setelah Gilang juga mendengarkan komunikasiku dengan Raka, akhirnya Gilang memutuskan untuk menyalakan motornya lagi.


“Yuk, naik.”


Aku mulai duduk dan mencari posisi yang paling nyaman disini, sebab motor Raka ini besar dan tentu saja sangat diperlukan kenyamanan pada penumpang agar tidak terjadi apa-apa.


“Eh Bang Bang Bang bentar, ini dia nelepon lagi kayaknya.” Aku menyentuh bahu Gilang memintanya agar berhenti lagi.


“Haduh tuh manusia gak bisa ngomong sekali aja apa ya, mesti banget berkali-kali.” Terdengar Gilang sudah mulai emosi dengan perlakuan Raka.

__ADS_1


“Halo….” Perkataanku sudah langsung diputus oleh Raka.


“Gaby, lo mau bareng gue aja gak?”


__ADS_2