Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 31 Penyitaan Tiba-Tiba


__ADS_3

"Maaf nih ya Mas-Mas, dibandingkan kalian saling berdebat, saya ingin tahu aja sekarang saya harus melakukan apa?" Aku berusaha menengahi perdebatan diantara Gilang dan Raka yang sepertinya tak kunjung usai cuma karena mempermasalahkan posisi dudukku selama kerja.


"Pokoknya sampai dengan ada kejelasan atau ada temannya Gaby disini, gue bakal disini juga." Ucap Gilang yang sepertinya tidak ingin mengalah.


Aku meliriknya,


"Bang, udah entar gak beres-beres nih." Ucapku kepadanya agar ia menyudahi perdebatan itu. Sementara Raka sudah terlihat diam meski sebetulnya ia juga tak terima atas argumen Gilang.


"Gimana Mas Raka, saya mengerjakan apa hari ini?" Aku kembali menatap pria yang tengah duduk di ujung sana itu dengan tajam.


"Gini aja, karena sedang ada kondisi huru-hara oleh fungsi lain, kita periksa aja apa yang sebetulnya mereka telisik lebih dalam."


"Tapi lo udah tahu apa penyebab mereka melakukan serangan seperti ini?" Tanya Gilang.


"Jadi, mereka itu melakukan pengecekan secara tiba-tiba, karena fungsi human resouce di lantai ini mau mengadakan rapat koordinasi di Bandung pekan depan. Nah, ada beberapa nominal yang menurut mereka kurang masuk akal, seperti biaya transportasi, jumlah peserta yang hadir, dan fasilitas akomodasi lainnya." Ungkap Raka yang menjelaskan secara detail pokok permasalahan yang sedang terjadi di kantor ini sehingga menyebabkan beberapa barang disita untuk diperiksa entah apa juga yang diperiksa oleh badan terkait.


"Hanya itu?" Gilang yang masih tak percaya akan alasan yang dituturkan oleh Raka barusan.


"Iya, nih gue tunjukkin bukti yang mereka kasih ke gue kemarin."


Raka terlihat mengotak-atik laptopnya untuk menampilkan beberapa dokumen yang diterimanya melalui surat elektronik. Lalu ia melakukan double klik pada salah satu dokumen excel, dan terlihat semua laporan mutasi beserta rincian yang telah ditandai oleh tim keuangan pusat.


"Nah ini, karena jumlah nominalnya yang sedikit lebih besar ini, membuat tim pusat menggeledah kantor kita."


"Tapi publik gak sampai tahu kan, Ka?" Gilang memastikan sekali lagi sebab akan bahaya jika publik sampai mengetahui isu yang tak mendasar ini.


"Makanya kemarin gue minta semuanya untuk tutup mulut, sebab akan menjadi bencana bagi kantor ini apabila publik sampai termakan isu yang tidak benar asal usulnya." Balas Raka yang kali ini sedikit tenang sebab ia sudah mengetahui bahwa total keuangan yang disinyalir sebagai kasus penggelapan dana bukan merupakan fakta sesungguhnya, melainkan memang karena adanya anak-anak intern sehingga terdapat penambahan pada biaya akomodasi.


"Terus kalau gitu, sekarang kita ngapain?" Gilang yang tak kalah bingungnya juga dari aku.

__ADS_1


"Ya kita memantau aja apa yang mereka lakukan. Ini belum jelas juga kapan mau dilakukan pemeriksaannya." Respon Raka.


"Permisi...."


Tak berapa lama selang Raka berbicara, terdapat tiga orang pria dengan tubuh besar berada di depan ruangan ini.


"Iya, ada apa, Pak?" Ucap Gilang yang langsung jalan ke arah tiga pemuda tersebut.


"Kami dari tim audit mau menginfokan saat ini ada beberapa penyitaan dan untuk menjalankan tugas kami, kami butuh sterilisasi ruangan ini." Ucapnya seolah mengusir kami agar tidak menganggu jalannya pemeriksaan mereka.


"Atas dasar apa?" Raka yang tadinya masih berada di belakangku, tanpa sadar kini ia sudah tepat berada di sampingku mengambil alih pembicaraan yang sebelumnya adalah Gilang.


"Iya, atasan kami menyampaikan demikian, Pak. Bapak atas nama Raka?" Tanyanya memastikan tidak salah orang.


"Loh atasan Anda tidak memberitahu saya secara legal ini. Ya, saya Raka." Raka kembali menjadi sosok yang ku kenal, dingin, ketus dan terlihat sangat bijaksana ketika mengendalikan kantor ini.


"Pak Yudha kemana?" Tanya salah satu dari mereka.


"Oke, kalau begitu kami siap melakukan penggeledahan juga di ruangan Beliau. Mohon diberikan petunjuk mana ruangan yang bersangkutan." Ujar pria yang berkacamata dengan postur tegap ini.


"Gini-gini. Mana surat penggeledahannya secara detail? Saya tidak menerima itu, sehingga saya wajar untuk menolak tanpa adanya surat izin resmi." Raka yang masih kekeh tidak ingin digeledah mencoba berbagai cara untuk mematahkan niat pria bertubuh besar ini.


"Surat tidak bisa diproses secepat itu, Pak. Sementara kami butuh cepat untuk menyelesaikan proses penggeledahan." Jawab mereka.


"Gak bisa dong! Gak masuk akal, bisa saja kalian semua penipu jika tanpa surat resmi dan tanda pengenal!" Aku yang ikut kesal dengan tingkah ketiga pria bertubuh besar ini lantas ikut campur untuk mencegah penggeledahan mereka tanpa dasar yang bisa diterima dan diperkuat.


"Saya setuju. Anda tidak berhak untuk melakukan ini jika tidak dengan memberikan surat perintah yang jelas!" Begitu juga Gilang satu suara dengan kami.


"Ya sudah jika Anda tidak bersedia, kami akan melaporkan kejadian ini kepada tim pusat." Ucap salah satu dari mereka dengan nada bicara yang penuh ancaman.

__ADS_1


****


"Sepertinya mereka sedang mencari sesuatu." Celetukku mencairkan suasana ketika Gilang dan Raka sama-sama sedang berpikir apa yang sedang terjadi dan terasa begitu cepat.


"Jujur, gue lihat sama sekali pengenal dari tubuh mereka." Tambah Gilang yang membuatku semakin yakin jika mereka bukan bagian dari tim yang diperintahkan untuk memeriksa keuangan perusahaan ini.


Raka yang tak bergeming satu patah katapun seketika melirikku,


"Gue punya rasa kecurigaan itu sejak pertama kali kasus ini di blow up. Apa tujuan mereka?" Raka merasa ada yang ganjal dari pemberitahuan secara tiba-tiba dan ada oknum yang mungkin saja menyamar demi memuluskan kepentingannya.


"Ka, sebaiknya lo telepon deh orang keuangan. Apakah betul mereka mengirimkan orang untuk penggeledahan di ruangan lo dan Pak Yudha." Saran Gilang.


Raka masih terdiam seolah mengabaikan saran dari Gilang. Ia berjalan menuju keluar dari ruangannya. Namun, baru saja kakinya melangkah mendekati pintu keluar, ponselnya berbunyi nyaring.


"Kau dimana?" Tanya pria dengan suara yang berat.


"Masih di kantor. Kenapa Pa?" Tanyanya dengan menyebut akhirannya adalah Pa, tentu saja aku sudah yakin orang yang sedang ia telepon adalah ayahnya.


"Kau sudah lihat berita?"


"Ada apa???" Tanyanya pria yang sedang tersambung oleh Raka dengan penuh ketegangan sebab kemungkinan paling terburuknya adalah kami dijebak oleh kemacetan sebab pasti massa akan datang dan berdemo ria untuk menggagalkan perusahaan ini atas nama pencemaran.


"Coba nyalakan tv." Perintah Raka yang memintaku menyalakan berita terkini hari ini.


"Sial!!!" Gerutu Raka yang langsung mematikan sambungan telepon sang ayah.


Tampilan tv hari ini menampilkan tentang kasus yang sedang terjadi, termasuk salah satunya penolakan Grup Karya sebagai investor sebab saat ini perusahaan minyak sedang anjlok, sehingga diperlukan pangkasan nominal pengeluaran agar tidak menjadi perhatian oleh publik.


"Lalu kita harus bagaimana?" Ujarku yang bingung harus pergi kemana dengan kondisi hujan seperti ini."

__ADS_1


"Kondisi saat ini kita terjebak, keluar gak bisa, di dalam juga cukup melelahkan." Ujar Gilang yang kecewa dengan pembongkar rahasia itu.


"Apakah sudah gak bisa jika kita keluar sekarang juga?"


__ADS_2