Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 48 Pengakuan Raka


__ADS_3

“Kamu kok tumben banget, datang sepagi ini biasa kan nyaris telat mulu…” Pria muda yang mungkin lebih tua 5 tahun dari ku itu sedang mengumpulkan beberapa dokumen di meja kerjanya.


“Iya mas…” Aku membalasnya.


“Iya aja jawabannya?” Dia meletakkan tumpukan kertas tersebut di atas mejanya, lalu mengangkat kepalanya dan melihatku yang masih sibuk buka laptop dan perkakas lainnya persiapan untuk kerja di ruangan Raka.


“Ha? Maksudnya gimana mas?” Aku pun tak kalah bingungnya.


“Udah deh lupain aja…” Dia menanggapiku kesal.


“Jadi, ini tumpukan data laporan tahunan perusahaan. Kamu bisa buat chart yang menarik untuk menumbuhkan angka investor kan? Di dalam situ ada sih beberapa hal keunggulan kita dari tahun ke tahun…” Jelasnya panjang lebar.


“Oke mas, paham. Aku coba cek dulu…” Aku menerima tumpukan kertas yang ia terima.


“Ta.. tapi Mas….” Aku menjeda pergerakan tanganku menerima tumpukan tersebut.


“Tapi kenapa?” Tangannya juga ketahan.


“Ini aku kerjainnya nanti pas masuk jam kerja dan dengan Kania, kan?” Aku melihat matanya.


Sorotan mata kami saling bertemu, dan ia menatapku begitu dalam.


“Mas….” Aku menegurnya ulang.


“I… iya…” Dia langsung menyerahkan tumpukan itu di atas tanganku dan salah tingkah.


“Lah kenapa dia salah tingkah, gue kan ngomong biasa aja….” Batinku dalam hati sembari tersenyum tipis.


Sementara Raka langsung Kembali ke meja kerjanya.


“Mas Raka….” Aku coba memanggilnya lagi.


“Kenapa lagi? Belum mulai kerja aja kamu tuh udah bawel banget ya!”


“Maaf Mas…. Tadi niatnya mau nanya, tapi nanti aja deh…” Aku mengurungkan niatku karena belum lagi mulai nanya sudah diomelin duluan.


“Saya paling gak suka dengan orang yang labil. Mau ngomong ya ngomong aja, jangan ditahan-tahan….”


“Lah ada gila-gilanya nih orang….” Dalam hatiku yang masih pagi moodku sudah dibuat naik roller coaster dengan Raka.


“Jadi, mau bicara apa?” Ia menatapku lagi. Aku paling suka dengan sorotan matanya, refleks langsung ku tatap balik tatapan mata itu, tapi ia tidak bisa bertahan lama bertatapan denganku. Entahlah, kenapa. Padahal aku hanya menatapnya seperti biasa.


“Mas, ada hubungan apa sama Azka?” Aku memberanikan diri bertanya tentang hal ini.


Dia menatapku Kembali, diam untuk beberapa detik.

__ADS_1


Aku masih dengan tatapan yang butuh dan menunggu jawaban.


“Penting untuk kamu tau?” Ia begitu judes meresponku. Matanya pun langsung memerah seolah ingin mengeluarkan kemarahan yang begitu hebat. Aku hanya bertanya tentang hubungannya dengan Azka….


“Ya penting, karna ini menyangkut saya, Mas….”


“Apa hubungannya dengan kamu saya kenal atau enggak dengan nama itu?” Sialnya si pria ini masih bersikap dingin denganku.


“Pagi Ka, Gaby….” Gilang memasuki ruangan Raka.


“Kok tegang banget, lagi bahas apaan nih….” Gilang melihat arloji di tangannya.


“Masih pagi belum pada kerja kan…..” Dia memastikan lagi.


Aku yang masih kesal dengan Gilang, bersikap acuh dengannya.


“Loh, kok lo keluar By?” Gilang menahanku.


“Lepas gak?” Aku menatap sinis matanya.


“By, gue mau ngomong sama lo….” Dia menjawabku dan lenganku masih ada dalam cengkramannya.


“Bro, kalo cewek minta lepas tuh ya lepas…” Raka menghampiriku dan memaksa melepaskan cengkraman tangan Gilang dari lenganku.


Aku gak peduli dengan aksi mereka, dan bergegas lari keluar.


Aku mengabaikan Kania, dan langsung turun lift. Aku berjalan menuju sofa lobi, terdapat 3 panggilan tidak terjawab dari Gilang dan sebuah chat darinya. [By, gue mau ngomong sebentar].


**


Sekitar 30 menit sampai pukul 08.00 aku berada di sofa lobi ini. Aku sudah gak nangis karna kesal lagi. Seperti percuma juga menghabiskan air mata untuk orang yang menjahati dan mengelabuiku. Setelah hati terasa lebih baik, aku putuskan untuk naik lagi menuju ruangan kerja karna gimanapun aku harus sadar diri, setidaknya meskipun aku berada di perusahaan besar negeri ini melalui jalur orang dalam alias bukan karna kemampuanku sendiri, tapi aku harus menunjukkan kalo diriku juga kompeten  dan professional kok.


Aku memasuki Kembali ruangan Raka. Sudah tau persis pasti dia akan ceramahiku karna masuknya telat, dan aku telah menerima konsekuensi itu.


“Maaf Pak, baru balik kesini lagi….” Aku menunduk dan memasuki ruangannya, mengarahkan diri untuk duduk disebelah Kania.


“Lo darimana dah…” Kania membisikku.


“Entar…” Aku membalas bisikannya.


“Kok dia responnya Cuma iya aja, kok Raka gak ngomel kaya biasa….” Batinku gelisah.


“Apa dia marah ya karna gue perginya kelamaan…” Segala macam pertanyaan terbesit dipikiran, karna gak biasanya dia gak ngomel.


“Mas Raka kenapa?” Aku berbisik pelan lagi ke Kania, yang ku harap juga isi bisikan ini tidak dapat didiengarnya.

__ADS_1


“Gak tau, pokoknya dari tadi gue sampe disini, dia udah diam gitu aja. Gue jadi takut, By……” Balasnya.


“Bisik-bisikannya sudah?” Tiba-tiba pria yang ada di depan kami itu beranjak dari bangkunya, mendekati kami secara perlahan-lahan dan dengan tampilan gentle, berbalut jas hitam dengan dalaman kemeja putihnya, belum lagi parfum yang semerbak hingga sampai tepat di depan kami.


Jantungku sudah degdegan, karna gak biasanya dia seperti ini, beneran kaya roller coaster dari pagi.


“Gaby, bisa bicara di luar?” Sorotan matanya lagi lagi berhasil buat jantungku berdebar gak karuan.


Kania menyenggolku. “Jawab woy…..” Ia berbisik.


“I.. iya bisa mas….” Aku beranjak dari bangkuku, dan mengikutinya dari belakang.


“Turun ke lobi?” Aku memastikan karna arah berjalannya seperti menuju lift.


Untungnya, di ruangan ini lagi gak ada Gilang, jadi gak ada yang menghambat atau yang gangguku.


Raka masih gak menjawab apapun sampai lift terbuka dan kami berdua memasukinya.


Suasana di dalam lift begitu awkward, aku hanya bisa melihat-lihat ponselku sementara pria yang ada di depanku masih dengan postur tubuhnya yang tegap menatap pintu lift yang berlapis kaca itu. Sehingga apapun yang ia lakukan, dan aku lakukan dapat terpantul dan terlihat dengan mudah.


“Ting….” Pintu lift terbuka.


Pria ini masih berjalan di depanku. Entah mau kemana, aku Cuma bisa mengikutinya.


Lalu ia memasuki sebuah café yang kemarin tempatku menemukan Azka dan abangku.


“Dia mau ngapain disini….” Batinku.


“Lo mau pesan apa?” Ia memulai pembicaraan.


“Terserah mas aja…”


“Gak ada kata terserah, kenapa sih cewe kebanyakan terserahnya….” Balasnya kesal.


“Maaf mas, macchiato mas….” Jawabku sedikit ketus.


Ia pergi memesan minuman dan Kembali lagi di hadapanku. Aku gak berani buka mulut karna takut ia patahkan lagi dan malah buatku kesal.


“Gue sama Azka saudara….” Dia membuka pembicaraan.


"Dan aku tau kamu...." Tambahnya lagi.


Aku menganga heran….


“Apa yang sedang dia lakukan…….!!!!!”

__ADS_1


****


__ADS_2