Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 51 Aku bukan Bisnis!


__ADS_3

"Dan aku mau menikah dengan kamu...."


 "Gak, maaf gak bisa Mas....." Aku langsung lari meninggalkan Raka.


 Tanganku gemetar, nafasku sesak, entah kalimat apa yang tadi ia sebutkan hingga buatku sedemikian gelisahnya. Aku gak mungkin lagi berhubungan dengan keluarga Azka, belum lagi status Raka sendiri masih belum jelas. Malam ini bisa-bisanya ia mengucapkan kalimat yang sama sekali gak masuk akal secara tiba-tiba ia ingin menikah denganku.


Semalaman suntuk, raut wajah dan ucapan kata demi kata yang ia lontarkan terus terngiang dalam bayangku. Aku gak bisa tidur, bahkan saat ini jam sudah berjalan menuju pukul 3 pagi dan aku masih terjaga dalam lamunanku serta bayangannya yang hadir Ketika aku memejamkan mata.


 “Gue harus resign besok. Gue gak bisa terus-terusan ada disana….” Batinku sembari membuka ponsel untuk mencari tau tentang seorang Raka.


Laman website tidak ada informasi pribadi tentang Raka, bahkan di dalam website itu pun gak ada nama Raka tercantum. Di sosial medianya, ia hanya memposting satu buah foto, selembar foto lama yang sudah tercabik, terlihat anak balita dan seorang ibu muda di dalamnya. Aku zoom pelan-pelan untuk memperhatikan secara detail.


“Ini gak mirip mamanya Azka….”


Aku semakin penasaran, ku lihat isi following dari Raka yang ternyata kebanyakan teman-teman laki-lakinya. Ku buka satu per satu sosial media mereka untuk melihat apakah ada keterlibatan Raka dalam galeri mereka. Hingga di pencarian yang ke 250, aku menemukan postingan lelaki Bernama Arthur. Mereka tengah berpose di depan kuburan, dengan caption “Ka, lo pasti bisa lewatin ini…”


“Raka ini adalah saudara tiri Azka, satu ayah tapi beda mama….” Aku bisa menarik kesimpulan yang sepertinya tepat.


***


“Bang, boleh ngobrol sebentar?” Aku mengajak Gery, abangku untuk sebentar ke taman belakang. Karna sepertinya hanya dia yang tau semuanya.


“Tumben banget lo ngajak ngobrol. Ada apa?” Seperti biasa, karna aku gak akrab dengan Gery, ia justru melihatku aneh mengajak dia berbicara.


 “Udah ikut aja, sebentar…” Aku menarik tangannya yang tengah menonton tv.


“Bang, lo tau tentang keluarga Azka?” Aku langsung menyampaikan ke poin inti pertanyaanku.


 “Lo baru mau nanya sekarang? Udah berubah pikiran buat balikan sama dia?”


“Jangan berharap deh, bahkan gue aja udah block semua kontak akses dia…” Balasku.


“Ya makanya, dia juga nanyain lo ke gue, dan dari kemarin gue kan gak nemuin lo di rumah…”

__ADS_1


 “Ya lo mau bilang gimanapun tentang Azka, bagi gue udah selesai….”


“Oh lo sama kakak tirinya ya?” Abang langsung menarik kesimpulan.


 “Gak penting, dan bukan urusan abang. Yang aku tanya kan, abang tau tentang keluarga mereka?” Aku terpaksa mengulang pertanyaanku lagi.


“Kalo Raka sih gue baru tau kemarin waktu Azka cerita semuanya. Menurut Azka, si Raka tuh naksir sama lo. Makanya, dari kemarin Azka terus-terusan mastiin lo gak punya perasaan yang sama dengan Raka….”


“Segitunya?” Aku mengernyitkan dahiku heran.


 “Iya, menurut gue ya dan karna orang tua kita juga udah minta lo banget buat nikah, lo coba dekat lagi deh dengan Azka. Lagian, lo gak rugi juga nikah sama dia…”


“Mama papa bukannya sudah gak setuju atas pernikahanku?”


“Siapa bilang? Kemarin itu papa Cuma menunda aja karna kesalahan Azka…”


“Sebentar, maksud lo?” Aku semakin bingung dengan jawaban abangku satu-satunya ini.


 “Dengar ya By, lo kayaknya gak paham apa realita yang sebenarnya. Walaupun kemarin itu kesalahan Azka, tapi tetap bagaimanapun lo bakal menikah dengan salah satu anak dari Smith..” Ia menghela nafas pelan, sembari meneguk jus jeruk yang sedari tadi tersaji dihadapannya.


 “Ya karna bisnis keluarga. Gak mungkin papa dan Smith mau melepaskan anak-anaknya untuk nikah sama orang lain, dan gue beruntung bisa memilih karna anak Smith gak ada yang cewek. Sementara lo, ya harus menikah sama salah satunya, tapi cenderung ke Azka karna ibu Azka yang masih ada di dunia ini ingin anaknya menikah sama kamu….”


Aku terdiam.


Lidahku begitu keluh untuk merespon apa yang sudah diutarakan oleh abangku. Kenapa harus aku yang terus-terusan terlibat dalam situasi yang rumit.


 “Jadi, sekarang lo gak perlu terlalu gigih untuk apapun, karna pada akhirnya lo tetap akan menikah dengan anak Smith…”


 Rasa kesalku memuncak, tapi sayangnya gak bisa ku ungkapkan. Aku ingin marah kepada semua orang yang ada di rumah ini juga pun terlihat percuma kalo pada akhirnya aku tetap harus menikah dengan Azka.


Aku beranjak pergi meninggalkan abang yang masih duduk dan menikmati jusnya, ku beranikan diri datangi kedua orang tuaku yang ada di meja makan.


 “Gaby, kamu kok belum siap-siap, ini udah jam berapa….”

__ADS_1


“Aku mau resign…” Jawabku ketus sembari menarik bangku yang berada di sebelah mama.


“Loh kenapa?” Jelas saja mereka cukup jago menjalankan peran mereka seolah tidak terjadi sesuatu.


“Aku gak mau jadi pertukaran bisnis kalian dengan Smith.” Ketusku.


Mereka berdua saling melirik dan menatap satu sama lain, dan tentu saja langsung mereka hentikan pula aktivitas makan mereka.


“Aku udah tau semua Mah, Pah. Dan rasanya juga sudah cukup lah untuk aku ada di posisi yang kayak gini. Harusnya kan aku bebas milih, termasuk juga pasanganku….”


“Gak bisa By, takdirmu adalah Azka…”


“Ma, mama gak ingat gimana dia perlakukan aku kemarin waktu di rumah? Papa gak ingat gimana marahnya papa pada saat kejadian itu?” Tangisku pada akhirnya juga tidak terbendung.


“Itu cuma kekhilafan Azka, Gaby. Udahlah jangan diperbesar…” Ucap papa.


“Gak ada kekhilafan paaa, dia lakukan itu dengan sadar! Lagian juga harusnya kalian kasih aku pilihan sendiri bukan atas bisnis kalian!” Aku berlari menuju kamarku. Ku hentakkan pintu kamar hingga berbunyi begitu nyaring. Tangisku beneran pecah. Rasa kecewa dan berantakan semuanya jadi satu. Aku gak mau lagi ada di tengah kehebohan bisnis keluarga ini, aku berhenti…..


“Kania, lo dimana?” Aku langsung menghubungi sahabatku satu-satunya yang bisa ku andalkan ini.


“Gue di kantor lah, kenapa By kok lo nangis? Lo juga gak berangkat kantor ini?


“Gue bisa nginep di rumah lo sementara gak?” Aku masih terisak dan tengah berpikir satu-satunya jalan agar aku terhindar dari perjodohan gila ini yaitu dengan keluar rumah.


 “Iya bisa bisa… Lo langsung aja ke rumah gue ya, ada asisten rumah tangga gue…” Kania terdengar ikutan panik.


Setelah mendapat aba-aba dan persetujuan Kania, aku langsung bergegas membawa baju secukupnya saja untuk sejenak pergi meninggalkan kekusutan yang ada di dalam rumah ini.


“Mau kemana kamu??” Abang menahanku di depan sofa ruang tamu.


“Gue mau nginep di rumah Kania. Gue mau melipir sebentar Bang….”


“By, lo jangan aneh-aneh ya.. Bisnis keluarga ini tergantung dari tindakan lo….”

__ADS_1


 “Sial, kenapa gak lo aja yang dinikah paksakan, kenapa harus gue?”


__ADS_2