
"Tenang aja, nanti malam gue bakal share apa yang perlu lo pelajari dulu. Setidaknya ya ketika lo ditanya sama Mas Raka, lo gak cuma diam atau bingung kan. Ekspresi lo tuh ketahuan banget kalo lagi bingungnya, By hahaha." Masih sempat-sempatnya pula Kania menggodaku padahal ia pun tahu kondisinya amat mencekam saat ini. Semua pasang mata tertuju padaku dan semua mulut pun kian berbisik satu sama lain yang seperti angin.
"Lo bawa mobil sekarang?"
"Enggak, tadi pagi gue naik ojek online sih karena memang lagi capek aja habis huru-hara kemarin itu. Lo bawa mobil, motor atau diantar, Nia?"
"Hari ini gue bawa motor nih. Kenapa lo mau bareng? Kalo iya gue minta tolong sopir gue aja buat anterin helm, karena gue cuma bawa satu helm doang." Nia dengan gaya hidup mewahnya bisa sesuka hati beli ini itu dan memerintah apapun kepada asisten rumah tangganya, termasuk hal receh seperti mengantarkan helm.
"Jangan jangan. Tenang aja, entar gue pulang paling juga pesan taksi online."
"Kalo lo lagi suntuk banget karena berita hari ini, kita pergi clubbing aja." Ajak Kania dengan wajah sumringahnya, karena baginya hidup adalah party. Apapun masalahnya tetap saja jalan keluar yang tepat adalah clubbing.
Namun aku sudah meninggalkan kenakalan clubbing sejak akhir semester perkuliahan ya bisa dibilang nyaris saja aku kehilangan kehormatanku sebagai wanita karena akan direbut oleh om-om yang tak bertanggung jawab itu.
"Gue udah gak pernah kesana." Gumamku.
"Nah karena lo udah lama banget gak kesana makanya harus main-main lagi By." Balasnya dengan siasat rayuan maut yang sering membuatku terbawa akan sarannya Kania. Perempuan dengan mata coklat ini benar-benar influencer terbaik dalam hidupku.
"Hahaha gak deh, gue merasa udah cukup lah bagi gue minum dan mabuk-mabukan kaya masa kuliah di awal-awal semester."
Belum lagi sempat ku ungkapkan semua kalimat, terdengar suara tarikan pintu kamar mandi yang berarti terdapat wanita lain masuk ke dalam toilet ini.
"Ssstttt...." Desisku agar Kania tidak melanjutkan percakapan ini lagi.
__ADS_1
Tanpa ada komando dari manapun, aku langsung melangkahkan kaki menuju depan pintu sembari melambaikan tangan kepada Kania pertanda aku ingin pergi dahulu keluar toilet ini.
Mata kami bertemu dan saling memberikan pesan tersirat satu sama lain, terlebih yang masuk tadi merupakan Alfina.
Setelah meninggalkan toilet dan Kania, aku langsung menuju mejaku lagi. Dari jauh sudah terlihat beberapa orang yang umumnya adalah ibu-ibu sedang mengerumuni sekitar mejaku dan Gilang.
"Ada apa sih ramai-ramai?" Bisikku dalam hati.
Langkah kaki ini ku pelankan temponya berharap sebelum tiba disana, mereka sudah pada bubar dari keramaian yang terjadi berdampingan dengan mejaku.
Seolah sulap, betul saja kurang dari 10 langkahku menuju meja panjang berwarna putih ini, orang-orang yang sedari tadi berkerumunun, kini sudah semakin menyusut alias pada kembali ke meja kerjanya masing-masing.
Sesampainya aku di meja kerja ini, ku tolehkan sedikit wajahku kepada Ahmad, pria dengan status kerja yang sama denganku sebagai anak magang, dan di awal pertemuan juga sebetulnya ia sempat menggodaku, kini justru aku sangat jarang berinteraksi dengannya.
"Tadi sih kalo gak salah dengar masalah restrukturisasi, By." Jawabnya namun sorotan matanya tidak mengarah kepadaku.
"Restrukturisasi perombakan maksud lo?" Aku mencoba memastikan apa yang aku yakini dan ketahui tentang restrukturisasi oganisasi.
"Iya, jadi mereka pada panik tiba-tiba ada pesan siaran dari pusat tentang restrukturisasi. Nah kebetulan mas mentor ini bagian pengurusan manajemen juga makanya tadi pada ramai-ramai mengerumuninya untuk meminta penjelasan terkait edaran yang sudah ada." Ahmad yang mencoba menjelaskan secara rinci karena ku pikir ia bakal tidak tahu menahu apa yang tengah terjadi disebelahnya.
"Ohh gitu kirain ada apa." Ujarku yang sedikit lega karena tidak berkaitan dengan berita-berita barusan yang sedang berhembus antara aku, Raka, dan Gilang.
"Bukan masalah skandal lo By." Jawabnya ketus namun sorotan matanya masih tetap mengarah ke layar laptop yang sedang nyala.
__ADS_1
Aku meliriknya sinis, "Enak aja lo bilang skandal!"
Aku langsung kembali ke mejaku lagi, ku lirikkan sedikit pinggir mata ini untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh Gilang, namun ia tak peka akan lirikanku sehingga ia hanya fokus pada laptop dan pertemuannya secara online.
Karena tidak ada hal yang bisa ku kerjakan lagi, sehingga aku memilih untuk membuka ponsel sembari sekali kali mengecek email masuk yang ada di dalam laptop. Bisa dibilang sejauh ini aku merasa tidak terlalu dimaksimalkan sebagai anak magang, melainkan hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan administrasi saja yang tidak bisa mengangkat pengetahuan berdasarkan latar belakang bidang studi.
"Mas Gilang, kok bisa tiba-tiba restrukturisasi sih?" Suara yang sedikit melengking berhasil membuat kantuk yang sedari ditahan seketika langsung hilang.
"Iya Bu, saya juga sebetulnya kaget ini kok bisa secara tiba-tiba banget. Nanti saya coba konfirmasi ke pusat ya terkait ini Bu. Semoga kita mendapatkan jawaban yang terbaik deh karena ya Ibu juga tahu sendiri berkaitan dengan pusat yang susahnya minta ampun.
"Saya lebih rela bayar kompensasi dibandingkan harus pindah-pindah sehingga membuat saya dan keluarga juga menjauh." Tambah sang ibu paruh baya dengan tampilan pakaian yang selalu berwarna di setiap harinya, sebab ibu ini duduk di sudut sana yang ku lihat setiap masuk ke kantor namun tak pernah bertegur sapa karena beliau terlihat begitu sibuk.
"Segera saya infokan ya Bu. Saya harus ngobrol dulu nih dengan pusat berkaitan penyesuaian harga apabila bisa dinegosiasikan dengan denda pegawai dan kondisi fasilitas kerja." Jelas Gilang yang masih berusaha sabar dalam menghadapi bom waktu yang sedang meledak secara perlahan.
"Iya Mas, tolong ya. Soalnya ada case tahun lalu, si pekerja permanen tiba-tiba diminta tanda tangan oleh staff baru tanpa ada pemberitahuan dulu di awal ternyata terkait restrukturisasi yang tiba-tiba di rolling."
"Iya Bu, saya pasti akan membantu periksa terkait skema ini. Semoga bisa segera direspon juga oleh pusat. Dari tadi juga udah pada komplen dan minta saya agar koordinasi dengan pusat sebetulnya apa hal yang sedang terjadi disana sampai kita harus rolling secara tiba-tiba." Gilang coba menjelaskan secara pelan kepada wanita paruh baya ini agar si pendengar juga bisa mengontrol emosinya dan paham apa yang disampaikan oleh Gilang.
Ponsel Gilang yang sedari tadi sepi, secara tiba-tiba menjadi ramai dengan bunyi tang ting yang tak kunjung berhenti, mungkin saja karena ocehan grup kantor yang semuanya tertuju pada Gilang.
"Selamat siang Mas Raka. Kami dari pusat mau menginformasikan bahwa akan ada restrukturisasi secara terpusat karena ada dugaan penggelapan dana di kantor Anda. Mohon kerjasamanya untuk kami melalukan audit darurat."
Deg....
__ADS_1