
"Saya sudah bilang sesuai dengan statement awal saya tadi. Jadi, dari tadi Anda berdua ngomong panjang lebar juga gak membuat saya merubah keputusan akhir..." Teguh menatap kami sinis.
"Pak, maaf banget. Apa gak bisa dipertimbangkan lagi?" Pintaku.
"Apa ada alasan saya untuk merubah keputusan saya?" Teguh memberikan tantangan kepada kami.
"Pak, kasus ini akan mereda, jika Bapak kembali lagi ke perusahaan kami, tentu saja return yang akan Bapak dapat jauh lebih tinggi. Terlebih saat ini juga kami akan mengadakan proyek bahan bakar baru untuk mendemonstrasikan zero net emission. Jelas saja secara exposure, Bapak akan terangkat mengingat ini merupakan salah satu proyek target 2030 dunia. Ya selain itu, return investasi bisa dikalkulasi sekitar 2x lipat dari kemarin..." Aku menjelaskan dengan gamblang meskipun ini terkesan sok tau karna sama sekali aku belum mengadakan riset. Tapi lagi dan lagi, inilah yang bisa aku usahakan agar Teguh mempertimbangkan lagi akan keputusannya.
Gilang menyentuh tanganku, seolah memberikan aba-aba untuk tidak sembarang menjelaskan kepada Teguh tanpa data yang lengkap.
"Kamu memaparkan gini berdasarkan apa? Sok tau kamu saja atau?" Feelingku memang tepat!
Aku menoleh ke arah Gilang, berharap ia bisa membantuku memberikan jawaban. Namun nihil, Gilang tak bergeming.
"Sa... Saya.. Saya baca rencana kerja perusahaan Pak...." Tiba-tiba Gilang menyeletuk.
"Oke, ya sudah. Beri saya waktu selama 3 hari untuk berpikir. Kalian bisa kirim ke saya rencana kerja dan cara penanganan kasus yang sekarang sedang terjadi. Jika sudah tidak ada, silahkan kalian keluar..."
"Pak, apakah bisa keputusannya besok?" Aku menegosiasi lagi untuk keputusannya, sebab Raka memintaku dalam 3 hari sudah harus ada investor. Jika harus menunggu Teguh jelas saja melebihi dari yang ditargetkan, dan ini juga belum sepenuhnya pasti ku dapatkan. Sial!!!!!!
"Saya tidak bisa ditekan-tekan seperti ini. Semuanya butuh pendalaman lebih detail. Terima kasih.." Tangannya sudah mengarahkan kami untuk segera keluar dari ruangannya.
Aku dan Gilang pun sudah kehabisan waktu, lalu kami berjalan pelan hingga menutup kembali pintu ruangan Teguh.
"Bang gimana nihh?" Sepanjang jalan menuju parkiran pikiranku benar-benar semerawut.
"Haduh, kita masih punya beberapa list lagi sih..."
"Tapi, sebenarnya aku cukup pesimis...." Gumamku. Sembari memasukkan laptop ke dalam tas lengan yang ku bawa.
"Kita harus approach semua hari ini, kan? Gak punya waktu lagi kalo dibesokkan..." Gilang memberikan helmnya kepadaku.
__ADS_1
"Bisa gak makenya?" Ia melihatku yang kesulitan karena harus megang dokumen dan tas lengan.
"Sudah sini deh gue pakein aja..." Gilang langsung memasukkan helm di kepalaku, lalu ia kunci juga helmnya agar tidak terlepas dari kepalaku. Aku sengaja menunduk tidak melihat tatapannya lagi, sebab takut terulang hal seperti tadi pagi.
"Jadi, kita harus gimana?" Sembari naik di bangku penumpang.
"By, ini kalo ya kalo aja..."
"Iya, kalo apa? Ngomongnya yang lebih detail deh, kita gak punya banyak waktu. Ini aja udah mau jam 11 Bang. Duh keputus jam makan siang dong!" Celotehku sembari melihat jam pintar yang sudah ada di tangan kiriku.
"Kalo kita app...."
"Eh sebentar Bang, sebentar..." Aku tergesa-gesa membuka tas tanganku.
"Kenapa By?" Ia berusaha mengendalikan motornya yang sedikit bergoyang karena kegelisahanku di bangku penumpang.
"Haa? Raka lagiii???" Aku sedikit histeris.
"Gimana?"
"Gimana apanya Mas?" Tanyaku balik.
"Dih, ya investornya lah. Gimana updatenya? Kamu gak ada laporan sama saya!" Nadanya cukup ketus. Untung aku sudah biasa dengan suara ketusan seperti ini.
"Hih. Untung atasan, kalo temen gue modelan begini udah gue abisin kali..." Gumamku dalam hati menahan emosi.
"Baru abis dari ruangan Pak Teguh Mas..."
"Ya hasilnya gimana? Saya gak peduli kamu mau kemana aja, saya butuh hasil bukan proses!!"
"Iya, gak ada hasilnya..."
__ADS_1
"Maksud kamu gimana?"
"Ya yang bersangkutan mau pelajari rencana kerja dulu, pelajari strategi kita nutupin ini kasus gimana. Intinya mereka mau berhati-hati untuk investasi lagi ataupun calon investor baru..." Jawabku singkat.
"Calon investor baru? Katanya kamu baru dari Pak Teguh aja..." Sial, ia begitu detail mengolah dan mencerna kata per kata, melebihi guru bahasa.
"Ya asumsi saya sih Mas. Ya perbandingannya mudah aja, Pak Teguh yang pernah jadi investor aja harus berpikir ulang selama 3 hari ke depan, masa calon investor baru gak se-strict itu buat join di perusahaan kita..." Balasku dengan menahan emosi yang kian meluap-luap dari bangku penumpang.
"Bang, jalankan aja motornya. Engap ini..." Aku sedikit menjauhkan ponsel untuk sebentar berbicara dengan Gilang. Di lantai bawah tanah ini sama sekali tidak ada ventilasi ataupun ac yang bisa bantu kami bernafas pada saat memasuki arena parkir ini.
"Kalian abis ngapain?????" Nadanya tinggi satu okataf.
"Ya kami lagi di arena parkir Mas. Sudah dulu ya Mas, nanti saja setelah saya keluar parkiran baru telfoin lagi.." Aku langsung menutup ponselku tanpa menunggu ia mengucapkan salam atau kata oke.
"Kenapa si Raka?"
"Ya biasa dia nanyain mulu ini kita udah dapet atau belum investornya..." Celotehku.
"Buset, dia kira mudah dapetin orang yang mau kasih duitnya ditengah-tengah gerudukan se-Indonesia ini..." Gilang gak kalah julidnya.
"Tau dah, buat emosi banget. Oh iya, tadi lo mau bilang apa?" Jawabku dan baru keingat lagi obrolan yang sempat terputus karna ditelfon Raka.
"Oh ini By, gimana kalo kita approach Azka dulu ya?" Tanyanya dengan suara yang samar-samar bersamaan dengan tiupan angin di lintasan jalan raya ini.
"Haduh, harus banget???"
"Ya ibaratnya yang tadi kamu bilang ke Raka tuh bener. Orang yang pernah investasi di kita aja butuh waktu panjang buat cross check ulang, gimana investor baru? Satu-satunya yang mungkin bisa kasih harapan ya Azka, By...." Gilang coba menjelaskan walaupun suaranya berlomba dengan bisingnya tiupan angin dan kendaraan ibukota.
Aku terdiam sejenak. Entah dipikiranku kayaknya sebal aja harus berharap dan bergantung dengan Azka. Bukan cuma masalah kemarin, tapi masalah-masalah lainnya juga belum sempat aku buka di depan keluarganya.Ya selain itu juga, feelingku terus mengatakan ia akan mengambil kesempatan dan moment ini sebagai upaya untuk menukar uangnya dengan aku yang menjadi istrinya. Aku takut... Aku takut kalo benar feelingku jadi kenyataan, apa yang bisa aku lakukan? Darimana uang sebanyak itu untuk menembusnya? Karna aku gak punya pilihan, aku gak bisa apa-apa.
"Duh kalo boleh jujur, gue gak mau banget ada urusan lagi sama dia. Cuma ini demi profesionalisme, ya udah deh Bang...."
__ADS_1
"Ya udah apa?" Gilang menunggu jawabanku.