Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 27 Telepon Dadakan!


__ADS_3

"Gabyy. Ada apa, Nak?" Teriak papa yang suaranya kian mendekat ke arah pintu kamar yang masih terbuka.


Aku masih coba menepisnya dan teriak.


"Paaaa tolong......"


Lantas pria yang tadi mencekamku kuat langsung didorong oleh papa dengan emosional.


"Kau apakan anakku?" Bentak papa yang langsung membuat tambahan suara hentakan kaki menghampiri kami.


Aku yang masih ketakutan mendekap badanku sekuat tenaga dan meringis di pinggir kasur.


"Ada apa ini?" Ucap mami Azka yang baru saja tiba di depan kamarku.


"Kurang ajar anakmu! Ia mendekap putriku entah apa yang akan ia lakukan kepada Gaby sampai buatnya amat ketakutan." Hentak papa yang tidak terima anak perempuannya disakiti oleh pria.


"Saya tanya sekarang juga, kau apakan anakku?" Papa yang masih membentaknya jelas saja membuat wajah Azka begitu pucat.


"Sekarang semuanya turun ke ruang tamu!" Perintah papa agar segera menyelesaikan masalah apa yang sebetulnya terjadi hingga membuatku histeris.


Azka langsung ditarik oleh papinya menuruni anak tangga, sementara aku didekap mama.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya.


"Jangan paksa aku menikah dengan pria kurang ajar itu!" Bentakku yang kesal dengan semua skenario mama. Entah apa tujuannya tapi aku benci hal ini terjadi kepadaku.


"Nak, coba jelaskan ke papa. Apa yang sudah ia lakukan?" Papa membujukku agar mengungkapkan apa yang sudah terjadi.


"Nanti saja Pa sekalian di depan orang tuanya agar mereka tahu anaknya begitu kurang ajar."


Aku dan tenaga yang tersisa serta dirangkul oleh mama menuruni satu per satu anak tangga untuk membicarakan hal ini langsung di depan pria kurang ajar itu dan orang tuanya sekalian.


"Sepertinya saya tidak bisa menerima dia sebagai suami saya. Tadi dia melakukan hal kurang ajar kepada saya!" Bentakku di depan orang tuanya dengan kondisi masih menitihkan air mata namun mencoba berani berhadapan langsung dengan orang yang hampir saja menyentuhku.


"Hal kurang ajar seperti apa?" Tanya maminya yang masih belum paham atas kelakuan anaknya.


"Ia memaksa menciumku dan membuka kancing piyamaku!" Bentakku lagi dengan air mata yang tak terbendung karena begitu menjijikkan jika mengingat hal itu terjadi tadi.


"Kurang ajar!" Teriak papa yang hampir saja melayangkan tamparannya kepada pria kurang ajar ini untung saja mampu ditahan oleh mama.

__ADS_1


Mami dan papi Azka yang shock lantas langsung melihat bola mata anaknya dengan tatapan penuh kecewa.


"Apa yang kamu pikirkan Azka?!!!" Teriak maminya yang masih tidak yakin anaknya bisa melakukan hal menjijikkan itu!


Azka tak bergeming, ia hanya menundukkan wajahnya.


"Jawab!!!" Teriak maminya lagi.


"Aku hanya ingin menciumnya." Ucapnya pelan.


Plakkkk......


Tamparan keras mengenai pipinya yang seketika membuat wajahnya merah.


"Kurang ajar! Apa kau tak bisa sampa menunggu halal? Apa yang kau pikirkan???" Teriak maminya dengan mencekam erat bahu anaknya yang baru saja ia tampar.


"Kau buat kami malu dengan keluarga Gaby. Kurang ajar kau!" Teriak sang ibunda lagi.


Sementara aku hanya menatapi suasana emosi di dalam rumahku, sembari mencoba tenang dan menerima apa yang telah terjadi.


Setidaknya aku masih bisa menjaga kehormatanku meski hampir saja hal itu direnggut paksa oleh pria yang tidak bertanggung jawab ini.


"Bii.. bi... tolong bungkuskan kembali makanan di meja dan bawa kesini ya." Teriak papa yang meminta tolong kepada asisten rumah tangga kami.


Selang 3 menit kemudian, asisten rumah tanggaku menghampiri dan memberikan bungkusan makanan ini kepada mami Azka.


"Saya minta maaf sebesar-besarnya karena kejadian ini. Semoga kejadian hari ini tidak akan menghambat jalan kita untuk jadi keluarga." Ucap papi Azka.


Papa tidak menggubris permintaan maaf mereka, justru hanya menatapnya agar mereka dapat segera pergi dari rumah kami.


Aku langsung berjalan menuju kamarku dan meminta agar mama papa tidak perlu untuk naik juga sebab saat ini aku hanya ingin sendiri.


***


[By, lo udah sampai rumah?] 21.01


Pesan yang masuk beberapa menit lalu dan baru saja aku baca notifikasi tersebut.


Aku yang tidak ingin berinteraksi dengan siapapun malam ini langsung saja mematikan ponselku.

__ADS_1


Baru saja hendak menekan tulisan off, ternyata sudah ada bunyi dering masuk dari orang yang sama mengirim pesan tersebut.


"By, lo dimana?" Sapaan pembuka sang penelepon. Dari intonasi suaranya ia terdengar amat buru-buru menelponku karena masih jelas bekas nafas terengah engahnya.


"Gue udah di rumah kok." Jawabku singkat.


"Kok gak balas pesan gue, By? Lo gak kenapa napa kan?"


"Gue mau istirahat, besok aja ya gue cerita." Langsung saja ku tutup telepon yang masih tersambung ini, dan dengan gesit pula aku mematikan ponselku agar bisa istirahat dan memikirkan semua hal yang terjadi hari ini.


****


Deringan alarm dari jam beker membangunkanku dari lelapnya tidur. Ku lihat ponsel dan ternyata mati. Lebih tepatnya aku lupa sudah mematikan ponsel tadi malam. Ku nyalakan ponsel dengan kondisi masih tertidur. Mulai dari pertama ponsel nyala dan mampu menangkap jaringan, mulai juga notifikasi kian berdering tanpa henti, baik pesan grup dan personal chat.


"Huuuhh ini dari siapa aja sih, kok banyak banget." Aku mengeluh pelan, namun masih saja ku telentangkan tangan sembari ponsel ku letakkan diatasnya.


Ku angkat pelan-pelan ponsel yang sudah ada di telapak tangan, ku sentuh layar notifikasi dan terbukalah semua pesan yang baru masuk. Aku coba scroll pesan-pesan tersebut, ku dapatkan beberapa pesan yang menarik perhatianku.


[Gaby, lo beneran mau cerita besok? Mau dimana? Kan lo WFH sementara gue masih urus kantor.] 21.45


"Ah iya gue lupa hari ini WFH, malah udah keburu bangun jam segini lagi." Aku melihat jam yang menunjukkan pukul setengah enam pagi.


[Byyy, gue minta maaf banget atas perlakuan gue tadi ke lo. Maaf buat lo sakit, maaf gue khilaf] 22.00


"Ah kurang ajar lo! Bukannya khilaf tapi emang nafsu lo yang gak bisa dikontrol. Sorry aja gue mau nikah dan jadi istri lo." Desisku yang masih begitu jijik bahkan melihat pesannya, apalagi bila bertemu orangnya, entahlah kini aku jadi amat membencinya padahal ia adalah orang terdekatku dulu.


Setelah semua notifikasi ku lihat, aku berencana untuk melanjutkan tidurku lagi karena baru ingat hari ini tidak ke kantor dan tidak memulai hari pertama berada dibawah divisi Raka.


"Semoga aja WFHnya lamaaaa supaya gue bisa belajar melatih kesabaran dalam menghadapi pria aneh itu!" Gumamku sembari memeluk gulingku lagi.


"Krriiiing.... kring.... kring...."


Baru saja rasaku mata ini terpejam setelah melihat beberapa notifikasi yang masuk tadi, sudah ada aja bunyi telepon berdering padahal ini belum tepat jam 6 subuh.


"Duh ini siapa sih, ganggu orang aja!" Aku kembali menggerutu.


"Gaby, ini gue Raka. Lo masuk ya hari ini, jangan telat!"


Tuut.. tuut... tutt...

__ADS_1


__ADS_2