
"Duh kok jantung gue berdebar mulu setiap ketemu Raka......." Hal yang baru ku sadari dan validasi pada saat ada di dalam ruangannya.
"Jadi gimana? Lagian juga kalo kamu resign dengan alasan gak jelas tuh bakal buat image di CV kamu jelek. Jarang-jarang ada atasan yang kaya saya loh..." Raka jalan mendahuluiku menuju ruangannya sementara mata seantero ruangan sudah benar-benar tertuju padaku. Tampilanku yang pakai sendal, untungnya baju masih cukup layak untuk model kantoran.
"Eh By... Kok lo...." Kania menunjukku sementara aku menahannya melanjutkan perbicarannya.
"Entar gue jelasin..." Berharap ia bisa membaca gerak-gerik mulutku yang mengatakan ini.
"Jadi sekarang, kamu duduk meja sebelah Kania, dan atasan kamu sekarang adalah saya..." Ia mendekatiku dengan membawa tumpukan berkas.
"Loh bukan Bang Gilang lagi?" Dari gesturku sudah jelas ini menunjukkan penolakan.
"Gilang sudah ada 2 temenmu yang lain kan, sementara saya masih butuh 1 orang lagi..."
"Sama jangan takut dengan saya..." Ia menambahkan.
Aku hanya diam dan tidak bersuara apapun.
***
"Fix deh ini By. Kayanya lo juga suka sama Raka ya.. Ngaku deh!" Kania langsung menginterogasiku sesaat ku sampai di meja kerja baru.
"Duh engga mungkinlah. Gue udah gak mau berurusan sama keluarga Smith, ribet..." Tanggapku singkat sembari menata tumpukan dokumen di meja baru ini.
"Hahaha lihat aja, gue yakin banget lo bakal jatuh cinta sama dia..."
"Enggak, dalam mimpi lo aja itu mah hahaha..."
***
"Gaby, ke ruangan saya!" Raka hanya sedikit mengeluarkan kepalanya dari balik pintu ruangannya.
"Iya Mas..." Aku beranjak dari bangkuku dan berjalan menujunya.
"Ini ganti nih. Besok-besok kamu gak boleh lagi pakai sendal doang gini...." Ia sembari menyodorkan sepasang sepatu sport dengan tanda centang merk perusahaan asing.
"Mas, ini saya ganti...." Aku ternganga melihat sepatu yang ia berikan, ekspektasiku kisaran harga ini sepatu 4 jutaan. Waduh darimana aku uang sebanyak ini kalo tanpa meminta dari orang tua.
"Gak, gak usah. Pake aja..." Ia langsung membalikkan badannya lagi menuju meja kerjanya.
"Oh ya, besok dokumen presentasi yang barusan saya email harus sudah beres ya..."
"Email barusan, Mas?"
"Iya. Yaudah kamu langsung kerjain aja sekarang. Kalo ada yang ragu atau bingung langsung personal ke saya aja..."
__ADS_1
***
"Dih gilaaaa ya lo By. Yang begini malah lo tolak...." Kania masih saja mendebatkan hal yang sama.
"Kan udah gue bilang, gue gak mau terlibat Nia..." Aku mendengus kesal sembari menyeruput kopi yang ada didepanku.
"Loh kok ada Gaby? Lo sama Raka ya?" Gilang menghampiri kami dengan membawa sepiring yang berisi dua cake dan satu minuman.
"Duh iya nih. Surat resign gue gak disetujuin sama dia Bang. Terus gue juga takut salah step kalo tanpa cadangan..." Jelasku.
"Tapi.. Harus banget sama si Raka?"
"Gak tau, lo nego lah Bang supaya gue bisa di team lo lagi. Agak pressure dengan dia, masa dia baru kasih email hari ini besok sudah harus beres...." Gerutuku.
"Entar coba gue bilang deh. Susah juga gue kalo harus saingannya sama bos, jelas gue yang kalah..." Ia mendumel kesal.
"Kalah apanya? Jangan ngerasa kalah dulu dong Bang, coba dulu aja gue yakin lo bisa menang" Kania tersenyum tipis dengan lirikan jailnya.
"Hahahaha Bang jangan bercanda muluuu. Gue serius ini minta diselamatin dari horornya kerja sama Raka..." Aku menimpalinya dengan bercanda.
"Iya entar gue bilang. Untuk lo apa sih engga By..." Lagi ia sangat bisa menggombal.
"Gaby.....!!!" Teriakan nyaring menghentikan obrolan kami. Spontan kami menoleh ke sumber suara.
Kania tersedak seketika, sementara aku masih kaku dengan kedatangannya.
"Azka....." Kania sedikit bergumam.
"Eh sorry Kan. Gue mau ngobrol sama Gaby sih..."
"Mau apa?" Aku berbicara pelan mencoba mengatur emosiku sebaik mungkin menghadapi pria ini.
"Gue mau bicara sama lo..."
"Ya kan bisa bicara disini aja. Gak lama kan?"
"Gak bisa By. Gue mau ngobrol empat mata sama lo sekarang juga..." Ia benar-benar tidak memperdulikan Kania sebagai mantan kekasihnya.
"Wait deh. Sebelumnya, lo gak mau minta maaf dulu ke sahabat gue atas apa yang udah lo lakuin ke dia?" Aku menghempaskan tangannya pada saat mulai menarik tanganku.
"Untuk apa?"
"Gue udah tau semua kali Ka. Harusnya lo bisa mikir kenapa gue senolak itu sama lo karna Kania adalah sahabat gue dan gue tau persis apa yang udah lo lakuin ke dia..." Aku menggenggam tangan Kania yang semakin dingin. Wajahnya pun seolah kaku dengan tangan yang gemetar.
"Kalian berdua sahabatan?" Ia cukup kaget mendengar fakta yang ada.
__ADS_1
"Ya iya gue sama Kania sahabatan, bukan cuma sekedar rekan kantor yang kaya lo kira..." Aku mulai memberani lancang dengannya.
Kania yang berada di tengah-tengah obrolan kami langsung beranjak pergi.
"Gak akan gue biarin lo sama sahabat gue, Ka!" Ia seolah memberikan peringatan tajam kepada Azka.
"By, apa yang gue lakuin sama dia tuh adalah kekhilafan dan gak mungkin juga gue nikah sama dia...."
"Semua aja lo bilang khilaf!" Aku membentaknya lalu beranjak pergi meninggalkannya.
Ia menarik tanganku dengan kasar.
"Sakit Ka! Lepas!" Sayangnya tenaga dia jauh lebih besar dariku.
"Lepasin Gaby!" Suara lantang mendekatiku.
Gilang yang juga gak bisa melihatku tersiksa lantas mendekatiku dan mengambil peran untuk melindungiku
"Lo mau ngapain kesini?" Bentak Raka dari belakangku.
Aku menoleh ke belakang.
"Bukan urusan lo!" Tanganku masih berada di genggaman Azka.
"Gue bilang lepas ya lepas!" Raka menarik paksa tanganku agar terlepas dari genggaman Azka.
"Ini jadi urusan gue karna dia karyawan gue!" Bentak Raka lagi.
"Dia tunangan gue, jadi bukan urusan lo!" Jawab Azka dengan menatapnya tajam.
"Sejak kapan? Lo jangan ngaku-ngaku!" Aku berani membuka suara atas kehalusinasian dia.
"Udah sekarang lo pergi aja. Jangan ganggu karyawan gue lagi, paham?" Raka seolah memberikan peringatan, lalu menggenggam tanganku mengikuti arah jalannya.
Diikuti juga oleh Gilang yang berada dibelakangku.
"Ka, bisa berhenti dulu?" Gilang menghentikan langkahku dan Raka.
"Kenapa lagi?"
"Bisa gak lo lepas tangannya Gaby?" Arah mata Gilang tertuju kepada tanganku yang masih ada digenggaman Raka.
Raka spontan melepasnya.
"Maaf. Sakit gak?" Ia begitu khawatir.
__ADS_1
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku, lidahku gak mampu ikut berbicara, tatapan mataku jelas sudah tersorot kepadanya.
"Apakah gue udah suka sama dia? Haduh please sadar Gaby. Lo gak boleh ada urusan sama keluarga dia lagi. Udah dramanya udah...."