Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 36 Tanpa Foto


__ADS_3

Setelah Raka memamarkan perintahnya untuk kerjaanku, ia langsung cabut entah kemana, sementara aku dan Gilang masih di cafe ini untuk saling berbincang tentang strategi yang digunakan dalam penyelesaian misi yang telah diutarakan oleh Raka.


“By, strategi lo gimana?” Tanya Gilang yang khawatir dengan kondisiku kini, sebab amat sangat tertekan atas perintah Raka dan sudah terlanjut menandatanganinya tanpa tahu lebih dahulu apa yang menjadi main jobnya.


“Duh gue bingung banget nih Bang. Pikiran gue saat ini orang yang bisa bantuin ya cuma Azka karena memang di sekaya itu.” Ucapku kalut.


“Lo yakin minta tolong sama Azka? Atas semua yang dia lakuin ke lo dan lo mau minta tolong dengan dia?” Gilang terlihat emosi dengan jawabanku.


“Terus gue mau minta tolong sama siapa lagi, Bang?”


“Gue bakal bantuin lo buat approach beberapa perusahaan yang memang pernah kerjasama singkat dengan kita.” Ujar Gilang.


“Yakin bisa cepat dalam tiga hari, Bang?” Aku pun rada sedikit panik karena hitungan tiga hari akan berlangsung di esok hari, dan masih belum ada clue kepada siapa kerja sama ini akan tertuju.


“Gini deh, gue tahu sekarang lo lagi panik banget By. Kita susun bareng-bareng dulu aja proposalnya, besok kita sebar ke beberapa perusahaan. Gimana?” Ia memberikan skenario yang baik saat ini, sebab jika aku terus-menerus kalut dengan siapa yang dituju pasti proposal ini tidak akan aku kerjakan.


“Oke Bang. Gue coba tenang deh ini, karena jujur panik banget dengan siapa gue bisa dapat uang sebanyak itu dalam tiga hari, Bang,” Ucapku lirih.


Aku mengeluarkan laptop dalam ranselku, dan langsung menyalakannya.


“Lo ada contoh proposal dulu gak Bang?”


“Ada, untuk apa?”


“Ya kan seharusnya nih kita gak banyak ubah isi dari proposal itu dong, kan masih di perusahaan yang sama, menurutku sih ini kekuatannya hanya pada cara kita mengomunikasikannya kepada pihak ketiga.”


“Great! Cerdas.” Itu juga yang sebenarnya ku pikirkan sejak tadi Raka minta lo buat proposal yang bagus. Karena nih gimanapun bagusnya isi proposal tapi kalo lo gak bisa komunikasinya ya tetap susah gak akan tembus.


“Coba tolong kirimkan dulu deh Bang. Mungkin gue bakal ubah di desainnya aja nih, mana tau yang dulu itu kuno banget dan gue bakal ubah dengan tampilan yang eye catching sehingga pihak ketiga yang lihat juga jadinya tertarik.”


“Hahahaa, ya gak kuno juga kali By. Gimanapun gue pasti ikutin jaman.” Ucapnya sembari tertawa.

__ADS_1


“Ha? Lo yang buat?” Aku melalakkan mataku kepadanya, berasa malu.


“Hahaha ya iyalah emang siapa lagi yang buat kalau gak gue.” Celetuknya.


“Oalah hahahaha, gue kira kan ada sekretaris lain lagi yang posisinya kayak gue sekarang tapi udah berhenti karena gak kuat dengan tingkah Raka.” Balasku tertawa.


“Hahaha, jangankan ada yang betah By, yang terpaksa aja ya cuma gue doang ini.”


“Udah Bang, jangan jadi curhat sekarang posisi kita sama hahah.”


“Waduh, iya nih. Sebentar gue kirim dulu proposal terakhir ya.” Ia langsung mengecek ponselnya, entah ia cari di penyimpanannya atau di drivenya dari ponsel tersebut.


“Kenapa gak buka laptop aja sih Bang?”


“Hahaha iya juga ya. Duh gue udah error banget ini gara-gara si Raka.” Keluhnya.


“Gue tuh kan orangnya panikan ya Bang, jujur dari tadi sudah panik banget ini bakal cari dimana investor dengan nominal segede itu, tapi ngeliat lo yang error begini malah gak jadi panik gue hahahaha.” Sembari tertawa melihatnya yang amat kebingungan namun tetap sok cool di depanku,


“Hahaha ya jangan salahin gue dong, salah sendiri kenapa lo suka sama gue.” Balasku bercanda.


“Udah udah Bang, kalau ketawa mulu entar kita gak beres nih bahaya gue harus nombok tiga puluh juta darimana.”


“Hahahaha, iya iya. Nih nih gue kirim ke lo filenya coba lo cek deh.” Balasnya sembari menekan tombol enter dengan cukup kuat.


Setelah file tersebut sampai di dalam pesanku, aku langsung mengunduhnya dan membuka apa isi dari file dengan format pdf ini. Secara keseluruhan total hanya ada lima halaman berbentuk potrait dengan tampilan yang cukup colorfull sehingga membuat mataku ikut menyala pada saat membaca kata demi katanya.


“Wuih, cakep juga desain lo Bang.” Pujiku kepada Gilang.


“Hahaha iya dong, tenang aja gue gak kuno By.” Balasnya sembari tersenyum dan mengeledekku.


“Hahahaa astaga Bang masih juga dibahas. Nih gue minta maaf nih minta maaf hahaha.” Balasku bercanda lagi.

__ADS_1


“Gimana isinya?” Tanya Gilang.


“Sebentar ini juga gue masih baca, halaman pertama tentang perusahaan, makna logo dan lain lain, terus halaman kedua visi misi perusahaan, halaman ketiga struktur perusahaan, halaman keempat….”


“Eh bentar Bang…” Aku scroll up lagi kursor pada mouse-ku ini untuk melihat secara detail dan rinci struktur perusahaan yang mempekerjakanku.


“Kenapa? Kok balik ke atas lagi.” Ucap Gilang yang kebetulan barusan ia pindah posisi jadi duduk di sebelahku, Padahal awalnya ia tepat di hadapanku.


“Gue penasaran siapa aja stakeholdernya, hahaha.” Celetukku.


“Kok gak ada nama Raka?” Tambahku lagi sembari menunjuk satu per satu bagan di layar laptop dengan ukuran 14 inchi ini.


“Ya kan dia gak masuk bagian direksi, ngapain dia ikut di dalam struktur organisasi?” Ketus Gilang.


“Eh ini Pimpinan Utama kok gak ada fotonya, Bang?” Tanyaku penasaran.


“Duh kan jadi banyak tanya lonya kalau gue kasih ini hahaha.” Sepertinya Gilang enggan memberitahuku apa alasannya foto pimpinan tidak tercantum di dalam proposal ini.


“Ya kan gue pengen tahu, soalnya menarik aja, direksi lainnya ada nama, gelar, jabatan, beserta fotonya, tapi kenapa justru pimpinan gak ada fotonya? Namanya Smith ya. Kayaknya orang luar negeri.” Celotehku.


“Iya, kayaknya sih orang luar negeri, dan gue juga gak tahu kenapa dia gak pernah mau dipublish fotonya.”


“Artinya lo belum pernah ketemu sama Pak Smith ini?” Aku memastikan sekali lagi.


“Ya belum lah, siapa gue, By. Gue tuh cuma remahan-remahan aja di perusahaan ini hahaha.” Gelak tawanya berhasil membuatku ikut terhanyut dalam tawa juga.


“Hahaha, ya kan kirain Pak Smith ini baik hati mau ketemu gathering gitu sama karyawan-karyawan di perusahaannya.”


“Enggak sih, selama ini gue belum pernah ketemu, entah juga kalau Raka ya. Cuma setahu dan sedengar gue Pak Smith ini punya beberapa perusahaan lain di berbagai bidang, jadi ya bisa dibilang kekayannya fantastis.”


“Wah sudah pasti kaya gak sih? Tapi lo tahu perusahannya apa saja, Bang?”

__ADS_1


__ADS_2