Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 25 Azka kenal Raka?


__ADS_3

"Pria itu panggil nama lo?" Gilang yang spontan langsung mengarahku.


"Heem." Aku yang masih tak menduga kehadirannya cukup terkejut ia sudah menangkring di depan sana dengan tampilan modisnya.


"Lo kenal? Bukan pacar lo?" Gilang yang masih berada di sampingku dan sama sama mematung.


"Ini yang gue ceritain tadi Bang. Azka..." Bisikku pelan agar suara ini tidak sampai ke telinga Azka.


"Lo mau gue temenin gak?" Gilang menawarkan diri tentunya ia memastikan aku tidak akan kenapa napa apabila bertemu pria di ujung sana.


"Gak perlu. Gue aman aja kok, lo pulang duluan aja Bang. Sepertinya gue harus urus dulu nih orang."


"Lo yakin?" Masih juga ia memastikan perihalku.


"Iya, much better seperti itu. Hati-hati ya Bang dan terima kasih."


Aku dan Gilang memisahkan diri, ia berjalan ke arah kanan sementara aku berjalan terus hingga sampai pria yang sedang tebar pesona itu.


"Selamat sore calon istri yang chatku gak di respon-respon." Ungkapnya dengan menyindir halus.


Ia membukakan pintu mobil silvernya dan mempersilahkanku untuk duduk di sampingnya. Tentu saja hal ini menjadi sorotan orang-orang yang hilir mudik di sekitar gedung bahkan mungkin masih ada Gilang di ujung sana yang masih melihatku dan memastikan aku tidak kenapa napa.


Tak lama Azka masuk ke dalam mobilnya dan duduk berdampingan disampingku.


"Kamu pasti capek ya?" Tanyanya basa basi.


"Kita langsung ke rumah gue aja ya, Ka." Pintaku.


"Kita gak mau dinner dulu?"


"Beli lauk aja makan di rumah, gimana?"


"Ya sudah gitu aja, sepertinya kamu nyaman di rumah ya. Duh jadi gak sabar persunting kamu nih." Ungkapnya dengan melirik dan tersenyum lebar.


Sementara aku masih acuh atas tindakannya, terlebih mengingat apa yang telah ia lakukan dengan sahabatku di masa lalunya.


"Gak usah sok manis lo, lo pikir gue gak tahu masa lalu kelam lo?" Senyumku sinis sembari melihat ke arah jendela.

__ADS_1


Ia melajukan mobilnya di tengah padatnya jam pulang ibukota. Macet yang berkepanjangan, rebutan ruas jalan dengan pengguna motor dan bajaj, belum lagi bunyi klakson yang memekakkan telinga membuat gambaran ibukota menjadi kota yang tersibuk di jam jam tertentu.


"Waduh bakal macet panjang ini By." Celetuknya sebagai pembuka suasana hening.


"Iya memang begini kan. Nikmati aja." Jawabku ketus tanpa memandang matanya.


"By, lo gak senang atas perjodohan kita?" Ia tiba-tiba menanyakan hal itu dengan kondisi di jalan dan kesibukan ibukota.


"Hmmm saran gue kalo mau bahas obrolan serius tunggu timingnya tepat deh, Ka. Agak chaos nih kalo suasana seperti ini." Ujarku yang memberikan saran kepadanya.


"Loh ini gak serius By. Gue cuma mastikan aja lo happy memiliki suami seperti gue." Ia melirikkan matanya ke arahku dengan percaya dirinya aku akan memantapkan hati berlabu kepadanya.


"Bagi gue ini serius."


"Lo gak berniat untuk menikah dengan gue?" Ia coba menatap mataku di tengah kemacetan ini.


"Makanya kalo ngobrol begini tunggu waktu yang tepat aja Ka. Jangan pas macet dan kondisinya gue baru pulang kerja, penat banget, moodnya masih gak stabil." Aku mencoba memberinya pengertian agar obrolan selama macet diganti saja dengan yang lebih ringan.


"Iya deh, lo mau kita obrolin apa? Prewedding?" Ia kembali melirik dengan tersenyum.


"Boleh dengerin lagu aja gak?" Kali ini aku langsung terang-terangan menatapnya sembari menyentuh layar video yang berada di mobil mewahnya ini.


Tanpa terduga ia justru ikut menyentuh tanganku, dan menariknya lalu mendekatkannya ke bibirnya. Sontak langsung ku tarik dengan paksa.


"Apaan sih lo!" Dengan sedikit teriak.


" Kita sebentar lagi akan menjadi suami istri By. Boleh dong aku pegang-pegang kamu dulu." Ucapnya yang begitu kurang ajar.


"Jangan kurang ajar! Gue bukan cewe murahan yang bisa lo coba-coba." Bentakku.


"Loh gue gak pernah pakai perempuan By. Kan lo tahu gue udah cinta sama lo dari dulu, dan itu tetap lo." Lagi-lagi kalimat indahnya keluar dari mulut sang buaya ini.


"Jangan paksa gue atau gue turun!" Ancamku.


Ia yang terlihat paham akan emosiku yang meluap memilih diam dan memutar musik untuk menemani kemacetan ini.


Jujur saja kondisinya sangat mencekam untukku sebab bisa saja dia menyergapku atau melakukan tindakan yang di luar manusia dengan mengunci akses pintu dan jendela agar aku tak bisa teriak dan keluar dengan bebas. Untungnya dia masih ada jiwa manusia yang tidak melakukan hal tercela itu.

__ADS_1


Sepanjang jalan dengan suasana padat merayap ini kami saling diam. Aku hanya menikmati musik yang sudah ia putar dan sesekali menyanyi dan membuka ponsel sekedar scroll sosial media. Sementara dia terpaku pada macetnya ibukota meski beberapa kali aku bisa merasakan ia melirik ke arahku namun tetap saja tak ku pedulikan.


"Kamu mau makan apa?" Tanyanya ketika suasana macet telah terlewati dan berada di jalan dengan deretan restoran dan tempat makan.


"Boleh tuh kesana aja." Aku menunjuk restoran padang legendaris.


"Lo yakin mau makan padang? Ini udah mau malam, By." Ia sedikit kaget dengan pilihanku.


"Lah tadi lo nanya gue mau makan apa, ya gue tunjuk kalo gue mau makan padang. Sekarang kok lo malah gak setuju?"


"Gue bukan gak setuju, lebih ke aneh aja pilihanmu itu. By." Balasnya yang masih terheran-heran dengan pilihanku.


"Apa yang aneh? Normal aja kan? Gue mau beli lauknya aja kan banyak tuh ada rendang, dendeng, telur dan macem-macem." Aku mencoba jelaskan alasan memilih makanan padang sebab lebih mengarah ke makanan rumahan yang gak akan bosan dan bisa masuk ke lidah siapapun tanpa terkecuali.


"Papaku akan datang By, sepertinya gak mungkin kita beli makanan padang." Ia menolak apa yang telah ia tawarkan kepadaku.


"Hmmmhh manusia aneh." Desisku kesal.


"Lo bilang cuma dinner biasa aja, lantas kenapa tiba-tiba orang tua lo juga ikut datang?" Tambahku yang tak terima dengan kedatangan kedua orang tuanya secara tiba-tiba tanpa ada obrolan atau rencana lebih dulu.


"Gue juga baru liat notifikasinya tadi sih, katanya mama mau main ke rumahmu." Jelasnya.


"Wah sudah jelas ini pembahasannya akan mengerucut ke tahap pernikahan. Sudah semakin jelas pula pihak Azka akan mendesakku untuk segera menerima lamaran putranya yang sama sekali tidak ku cinta." Bisikku dalam hati.


"Ya sudah deh terserah lo aja mau makan apa!" Bentakku yang begitu banyak pikiran berkecambuk di dalam kepala ini.


Ia menghentikan laju mobilnya di depan resto steak yang tentu saja ini merupakan resto mahal.


"Kamu mau ikut atau disini aja?"


"Lo aja yang pesan, gue disini aja." Balasku sinis.


Ia segera turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu kaca resto dengan posisi tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Terlihat ada pelayan yang menyambutnya dengan ramah.


Selang 15 menit setelah ia memesan, ia kembali lagi menuju mobil dengan membawa box besar menggunakan satu tangan. Namun langkahnya terhenti kala melihat seorang pria yang baru saja mau masuk ke dalam resto tersebut. Aku yang awalnya hanya melihat pergerakan Azka, tiba-tiba terbangun dan mengambil ponselku, lalu ku buka fitur kamera, dan ku zoom in siapa pria yang sedang berpapasan dan mengobrol dengan wajah tegang bersama Azka.


"Raka????!!!"

__ADS_1


__ADS_2