Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 47 Tumben


__ADS_3

"Gaby, kenapa sayang?" Mama kaget melihatku tanpa salam langsung naik ke kamar.


"Pa, si Gaby kenapa pulang-pulang nangis gitu...."


"Ya mana aku tau Ma, kan bocahnya gak ngadu dulu, manalah aku tau..."


"Assalamualaikum Ma.. Pa...."


"Loh Ranu? Kok pulang gak ngabarin mama papa...." Mama langsung berlari memeluk Ranu, anak lelaki satu-satu miliknya yang udah begitu lama meninggalkan rumah.


"Kamu bareng Gaby atau?" Tanya papa.


"Mama Papa ga ngasih tau dia yang sebenarnya ya?" Ranu meletakkan tas dan kopernya dipinggir sofa.


Mama dan Papa keduanya menggeleng kepala heran atas pertanyaan Ranu.


"Aku tadi ketemu Azka di kantor Gaby. Dia udah tau semuanya...." Ranu menunduk pelan.


"Oh jadi dia ngambek tadi karna udah tau semuanya?" Mama meyakinkan diri lagi.


"Iya dia kayanya marah banget...."


"Ya udah biarin aja, adikmu kan gitu anaknya ngambekan, entar pasti baik lagi. Ya sudah, kamu bersih-bersih dulu gih, bukannya pulang tuh nelfon mama papa malah main dulu..." Celoteh mama.


"Nanti setelah bersih-bersih, turun makan dulu ya sama ada yang perlu mama obrolin..." Tambahnya.


"Iya sama aku juga ada yang mau aku obrolin sama mama papa..." Ranu beranjak pelan menuju kamarnya dengan membawa koper dan tas ranselnya.


****


"Kenapa sih semua orang kayak gini ke gue......." Aku masih kesal dengan semua kebohongan mereka. Apalagi Gilang yang jelas-jelas pasti dia tau dari awal kalo aku dikerjain...


Belum lagi Raka, aku gak yakin dia sodara Azka karna kalo memang dia sodara Azka ya harusnya aku pun tau tentang dia. Intinya aku benci banget hari ini.........


Atas kegundahan hatiku hari ini, aku ingin menumpahkannya kepada Kania, untungnya ia mengangkat telfonku.


"Lo lagi sibuk gaa Nia?" Aku akhirnya memutuskan untuk nelfon sahabatku, Kania.


"Gak, lo kenapa suaranya aneh banget? Nangis karna Mas Raka?"


"Bukan, dih ngapain gue nangis karna dia...." Balasku ketus.


"Ya terus, lo kenapa Gaby?" Ia bertanya heran.


"Selama ini tuh gue gak lolos murni di perusahaan...."

__ADS_1


Kania diam beberapa detik untuk mencerna apa maksud obrolanku ini.


"Kok lo diam doang? Apa jangan-jangan lo juga udah tau yang sebenarnya?" Tanyaku kesal.


"Eh.. Bukan... Lo kalo emosi tuh suka meledak-ledak gini. Tenang dulu By...."


Ia menghela nafasnya sebab tau bicaraku denganku bisa menjadi hal yang berat.


"Lo tau ini darimana?" Ia bertanya dengan tenang.


"Kok lo responnya tenang banget.... Lo gak kaget?" Justru aku yang dibuat kaget dengan sikap Kania terhadapku.


"Lo tuh kebiasaan soalnya kalo ada apa-apa pasti heboh di awal. Coba deh By tenang dulu, pelan-pelan jangan langsung ambil kesimpulan..."


"Ya gue dengar sendiri Bang Ranu bilang gitu dengan Azka dan didepan Gilang...."


"Ha? Abang lo yang ganteng itu pulang?"


"Bukan itu poinnya......"


"Eh iya maaf, salah fokus..." Celetuk Kania.


"Ya terus sekarang lo maunya gimana By? Gak mungkin lo tiba-tiba berenti kan?" Kania, wanita yang paling realistis ini begitu santai menghadapi ceritaku sementara aku sudah banyak air mata yang ku keluarkan karna menampung rasa kesal atas perlakuan semua orang.


"Gak tau. Besok gue mau izin gak masuk dulu deh..."


"Astaga iya....." Keluhku.


"Udah sekarang lo tenang aja. Lagian nih ya, lo gak rugi juga kok kerja di perusahaan itu...."


"Iya gue gak rugi, tapi tetep aja itu perusahaan dibawah pengaruh Azka..." Ucapku emosi.


"Sebentar sebentar. Kalo gitu jadinya Raka adalah bawahan Azka?"


"Ya itu gue gak tau, dan sebenarnya gue penasaran Raka ini siapanya Azka...."


"Wait, kok lo jadi penasaran? Lo udah mulai suka sama Raka?" Kania tertawa cekikikan dari seberang sana melalui jalur telfon.


"Dih bukan. Ya gue penasaran kan bukan berarti suka. Udah deh gue cape, sampe jumpa besok!"


"Oh gak jadi ya izinnya hahaha..." Ia meledekku dan menutup telfonnya.


Setelah telfonan dengan Kania. Aku melihat beberapa chat dari Gilang dan Azka yang memastikan kondisiku baik-baik saja.


[By, sumpah gue gak tau apa-apa. Apalagi gue juga kaget, apa hubungan Azka di kantor ini...] Satu pesan yang sudah ku terima dari Gilang.

__ADS_1


Lalu gak lama aku membaca pesannya datang lagi pesan kedua,


[By, jangan marah gini dong. Gue kepikiran lo terus ini By....].


Pesan kedua juga masih tak kunjung inginku balas karna sisa energiku tinggal 5%.


[By, maafin gue gak bilang dari awal ya. Ini semua gue lakuin juga karna gue cinta banget sama lo. Lo tau itu kan....] Pesan Azka masuk tepat setelah aku membaca pesan Gilang.


****


"Kok tumben pagi banget By. Ada deadline?" Aku sengaja bangun sangat pagi, berharap orang rumah masih pada tidur, tapi tetap aja mamaku yang paling rajin ini sudah stanby di dapur.


"Iya ma. Ini mau berangkat langsung deh..."


"Kamu gak mau sarapan sambil ngobrol dulu sama mama?"


"Enggak Ma, kayanya juga kalian sudah tau dari Ranu kan..." Ucapku yang masih kesal. Sudah jelas seisi rumah ikut merencanakannya juga bersama Azka dan papanya.


"Ya sudah deh. Nanti aja tunggu kamu gak sibuk, kita ngobrol ya sayang. Jangan mikirin yang aneh-aneh dulu pokoknya..." Mama berusaha buatku berpikir positif sementara aku sudah langsung berpikir kok bisa mama, papa, dan Ranu nyaris menjualku kepada Azka dengan cara aku dimasukkan ke dalam perusahannya.


****


Tepat pukul 6 pagi aku sampai gedung kantor. Kebayang kan gimana masih sepinya ini kantor. Cuma ada satpam dan beberapa cleaning service yang memang stanby di setiap lantai.


"Pagi Neng. Kok datangnya subuh banget...." Sapa pak satpam yang heran juga melihatku pagi buta sudah di kantor.


"Iya Pak. Sudah ada yang datang?"


"Sudah Neng. Itu Pak Raka biasa dia mah datang awal. Justru kalo dia datang siang, kami yang heran..." Balasnya.


"Oh Pak Raka sudah di dalam?" Aku menunjuk arah ruangan Raka dengan tatapan bingung.


"Iya saya sudah datang. Kok heran?" Bak disambar petir, suara dari belakangku mengagetkan.


"Eh maaf Mas. Pagi Mas..." Senyumku tipis melihatnya begitu rapi hari ini dengan batik maroonnya.


"Mau kondangan Mas?" Kebiasaan! Kebiasaan keceplosan ini memang gak hilang-hilang...


"Ha? Apa kamu bilang?" Ia melirikku.


"E.. Engga Mas...." Aku tersenyum tipis dan menyilangkan tangan di depan dadaku.


"Jam 7 ke ruangan saya. Bawa tas dan peralatan kerja lainnya..." Ia langsung berjalan melewatiku.


Selang 4 detik, ia berhenti dan menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Atau mau sekarang aja?" Ia tersenyum tipis.


__ADS_2