
“Sayangnya semua informasi tentang pimpinan ini tertutup rapat, By. Jadinya gue juga gak tahu apa saja perusahaannya, siapa dia, dan lain-lain tentang keluarganya.” Terang Gilang.
“Sumpah ya, kantor ini tuh banyak misterinya. Lo ngerasa gitu juga gak sih Bang?”
“Kan dari awal gue sudah sampaikan ya ke lo, jangan cari tahu apapun tentang perusahaan ini, karena memang semisterius itu.” Jelas Gilang.
“Iya sih memang, cuma gue tuh punya rasa penasaran yang cukup tinggi, makanya gak bisa banget kalau ada teka-teki di depan gue terus gue lewatin gitu aja.”
“Udah, pokoknya lo simpan dulu aja semua hal yang ingin lo tahu tentang perusahaan ini. Semakin lo cari tahu, dan semakin banyak yang lo tahu, lo gak akan baik-baik aja.” Gilang seolah memberikan petunjuk yang tidak mungkin akan ia jelaskan lebih detail lagi.
“Terus gimana itu proposalnya? Apa yang mau lo tambahkan?” Tambah Gilang yang mencoba mengalihkan topik pembicaraanku.
“Iya, sebentar ini gue scroll lagi ke bawah.” Aku meraih mouse warna pink-ku lagi dan menggerakkannya ke bawah, sehingga terlihatlah halaman keempat yang bertuliskan komitmen pasti kerjasama hingga di halaman kelima.
“Bang, ini isi halaman keempat dan kelimat sudah final ya sampai per hari ini?” Aku memastikan kepada karyawan tetap yang lebih paham tentang isinya, sebab menurutku isinya sangat template.
“Iya sudah, semua keuntungan, bagi hasil, rencana rapat dan lain-lain memang begitu sih, gak ada yang diubah hingga hari ini.” Gilang memastikan hal tersebut berlaku sampai di hari ini.
“Ya sudah semuanya sudah oke sih Bang. Gue gak tahu juga mau ubah apa.” Terangku yang bingung apa yang harus ku ubah dari isi proposal ini sementara semuanya sudah komplit sesuai dengan yang ku pelajari pula dalam penyusunan proposal perusahaan.
“Oke, ya sudah kalau gitu kita pakai proposal lama aja ya, karena isinya juga masih sesuai sampai hari ini. Desainnya gimana, By?”
“Desainnya udah oke sih menurutku, soalnya aku gak punya ide yang menarik lagi untuk ubah ini desain hehehe.”
“Oke, ya sudah jadi ini final ya. Sekarang kita plotkan beberapa perusahaan yang potensial untuk di ajak kerjasama.” Ajak Gilang, sembari menyentuh mouse-ku dan mengarahkannya ke menu internet dalam tampilan laptop ini.
“Mau ngapain Bang?”
__ADS_1
Sebab ia terlihat begitu susah harus mengetik keyboardku dari samping padahal sudah jelas-jelas bisa ngomong saja denganku yang sudah tepat di depan laptopnya.
“Mau tulis kata spreadsheet.” Ujarnya dengan tersenyum.
“Kenapa gak bilang ke gue aja sih? Kan ini laptop depan gue, repot banget lo jadinya ngetik dari samping hahaha.” Aku tergelak tawa melihat tingkahnya saat ini yang menurutku benar-benar aneh.
“Hahaha gak apa-apa pengen aja.” Jelas saja jawabannya dia kali ini lebih aneh.
“Sudah, sini biar gue aja jadi ngaco kan tulisannya.” Aku menepis jarinya yang masih ada di atas keyboard laptopku, sebab apa yang ia tulis masih ada typo sehingga pencarian dari google pun aneh.
Setelah ku buka spreadsheet yang ia maksud, aku langsung bertanya kembali apa yang mau ia ketik dalam driveku ini.
“Mau ngapain Bang?”
“Coba buat kolom yang isinya nomor, nama calon, dan keterangan” Ia sembari berpikir seolah tengah membayangkan apa yang ingin ia ketik di dalam tabel ini.
“Oke, nah setelah ini kita bakal coba propose ke beberapa perusahaan dulu. Ini ada beberapa list yang pernah kita ajak kerjasama ya. Coba dulu aja, mana tau bisa.” Gilang yang masih optimis tanpa bantuan Azka tetap masih bisa mendapatkan kandidat investor lain.
“Iya, coba apa aja Bang.”
“Oke, ini nih, Adi Karya, Abadi Gemilang, Laksana Bulan, Laskar Permata, Kriya Lestari, dan Cahaya Berlian.”
“Adi Karya ini yang kemarin cabut bukannya?” Aku memastikan lagi sebab sekilas dari berita terdengar nama ini turut tercatut dalam pencabutan investasi dari perusahaan minyak dan gas bumi yang kini sedang mempekerjakanku.
“Iya, kita coba lagi approach, coba jelasin lagi apa yang sebenarnya terjadi, mana tau mereka bakal balik ke kita lagi, secara mereka dapat dividen tinggi dari perusahaan kita.” Terang Gilang dengan detail.
“Ada lagi, Bang?”
__ADS_1
“Sudah itu dulu aja. Karna beberapa perusahaan ini memang pernah kerjasama dengan perusahaan kita baik secara minor maupun mayor, sehingga ya bakal lebih mudah untuk kita dekatin sebab mereka juga sudah merasa ada keuntungan ketika kerjasama dengan kita.”
“Biasanya berapa hari perusahaan ini mempelajari proposal hingga sampai tahap keputusan?”
“Lima hari By.”
“Ha? Raka aja minta ini bisa putus dalam tiga hari. Gimana Bang?” Mataku melalak ke arahnya, dengan nada tinggi seolah tidak terima atas jawaban Gilang yang tidak masuk akal dengan durasi yang diminta oleh Raka.
“Duh, ini kita coba approach dulu, coba tanya juga bisa gak kalau cuma tiga hari aja, karena kondisi mendesak.” Gilang pun sebetulnya panik terlihat jelas dari raut wajahnya yang cukup pusing menanggung beban melibatkan perusahaan dan bahkan negara ini.
“Kalau ternyata gak bisa?” Sementara aku adalah tipe yang realistis alias tidak suka berandai-andai. Semua hal yang aku pegang, selalu ku sisipkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi beserta mitigasinya seperti apa, termasuk dalam hal ini yang melibatkan banyak pihak bahkan sampai negara.
“By, jangan pesimis dulu. Ini kan kita coba dulu.” Gilang masih coba menenangkan aku yang gelisah dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
“Bukan pesimis Bang, tapi ini realistis. Bagaimana bisa perusahaan ini yakin mengeluarkan uang dengan nominal fantastis, ditambah kita agak ngeburu-buruin mereka buat setuju, bukannya justru mereka tambah curiga dengan apa yang akan kita lakukan? Jujur ya, ini pendapatku pribadi dan perspektifku mengatakan tidak akan ada yang mau perusahaan terlibat dalam investasi ini Bang karena gelagat kita terlihat lebih mencurigakan ditambah lagi berita nasional saat ini yang jelas-jelas menyorot ke arah perusahaan.”
“Jadi, pendapat lo gimana?”
“Dengan terpaksa jika nanti hasilnya nihil maka gue akan melibatkan Azka dalam investor ini.” Aku menyerah, sebab ini sangat mempertaruhkan hidupku terlebih sudah menandatangani perjanjian gila Raka.
“Oke, jika memang kita mentok, kita coba propose ke Azka, sebab kali ini gue sama sekali gak bisa bantu lo. Uang tabungan gue aja gak sampe segitu By.”
“Ya sama gue juga Bang, andai kalo tabungan gue sudah segitu ya mending gue yang pasang badan daripada melibatkan Azka lagi.”
Setelah menyusun strategi bersama Gilang, ia memutuskan mengantarku kembali ke depan rumah.
“Gak mampir ngejus lagi, Bang?”
__ADS_1
“Gak deh, entar tiba-tiba ditelepon Raka lagi hahaha.” Ujarnya sembari mengencangkan helm di atas kepalanya.