
Pria yang begitu perfeksionis ini menampilkan presentasinya kepadaku padahal seharusnya itu tidak perlu ia lakukan karena ini hanya briefing biasa yang tanpa perlu ada slide apapun di layar itu.
"Pemborosan listrik saja." Desisku.
"Ini namanya profesional kerja." Ia membalasnya.
Aku kaget...
Suaraku amat kecil saat menyatakan kalimat tadi tapi nyatanya pendengaran ia amat detail, apa jangan-jangan manusia ini juga bisa mendengar infrasonik yang kekuatannya sangat kecil di dunia?
"Eh maaf Mas keceplosan hehe." Aku menyeringai mencairkan suasana agar tak terlalu kelihatan tegang ketika seruangan dengannya hari ini dan sampai masa magangku selesai, kecuali Gilang membantuku untuk melepaskan diri dari jeratan Raka ini.
"Oke, jadi ini gue jelasin ya mulai dari yang lo gak boleh lakukan selama di ruangan gue." Ia menampilkan slide presentasinya, dan ternyata begitu banyak larangannya.
"Wah yang benar saja inimah melanggar hak asasi manusia." Aku berteriak kencang tanpa peduli dia siapa.
Ia terlihat kaget dengan sikapku yang justru lebih di luar ekspektasinya selama ini.
Aku langsung berdiri dan menunjuk layar yang tengah nyala di depanku.
Ia hanya menatapku bingung.
"Hmm hmm ka.. kamu mengapa begitu?" Ia berbicara gugup ketika mengetahui apa yang sudah ku lontarkan tadi.
"Maaf ya Mas, tapi ini udah keterlaluan. Dari awal saya menahan sabar, tapi kali ini sepertinya tidak bisa ditoleransi lagi. Gak ada istilahnya larangan ke toilet selama jam kerja, tapi disini Anda mencantumkan itu. Saya tidak terima dan sangat keberatan." Aku membentak hebat sebab begitu emosinya tulisan ini bahkan ia belum sempat menjelaskan isinya. Namun dari layarnya sudah jelas bergambar toilet lalu ada tanda silang. Bukannya itu berarti di larang ke toilet? Gila emang si Raka!
Ia menatapku sampai aku menghentikan celotehan ini.
"Loh siapa yang melarang kamu ke toilet sih?" Ia mengatur nafasnya sembari tersenyum pula karena mendengar alasanku membentaknya.
"Itu gambarnya sudah jelas banget!" Aku masih berusaha melawannya.
__ADS_1
Meski kali ini aku sadar akan resikonya yang terburuk adalah aku dihentikan dari program magang ini sekalipun, aku sudah siap, malah yang ada ia akan aku laporkan ke komisi hak asasi manusia atas larangannya di luar nalar manusia.
"Duh Gaby, lain kali tuh ya kalo ada orang mau presentasi, lo jangan nyela dong." Ia terkikih ketawa melihat tingkahku.
Posisi yang awalnya ia berada di meja seberangku, kini ia berdiri dan berjalan ke arahku. Aku sedikit takut, dan akhirnya semakin ia maju, aku memundurkan langkahku.
"Mau apa?" Tanyaku yang sedikit takut karena punya trauma atas kejadian yang dilakukan oleh Azka.
Ia langsung duduk di kursi yang ku tempati tadi.
"Wah jelas saja kamu ngomel duluan, ternyata gue lupa tekan sekali lagi slidenya." Ia memperhatikan layar infocus yang menampilkan slide presentasinya.
Lalu ia klik sekali lagi remote sensor tersebut dan muncul tulisan dibawah gambar tersebut.
"Tuh kan bisa kebaca dari sini. Lo kebaca gak?" Ia menoleh ke arahku sembari tersenyum.
Ternyata maksud dari gambar itu jangan lebih dari 20 kali ke toilet dalam satu hari.
"Ya lagian kalau buat slide itu harus yang jelas Mas. Isinya gambar seperti tadi juga pasti semua orang akan mikir yang sama seperti saya." Aku yang masih tak ingin mengalah darinya terus melawan argumennya.
"Udah sih akui saja kalau salah, toh ini juga cuma berdua. Gak perlu malu hahaha." Ia tertawa.
Baru kali ini aku melihat Raka menjadi sosok yang berbeda dari yang ku kenal. Biasanya ia amat dingin, kaku, saklek, bahkan wajahnya pun tidak pernah menjadi sosok yang baik ketika di hadapanku. Namun, kali ini untuk pertama kalinya aku melihat ia gugup, wajah yang sedikit ketakutan, bahkan ketawa seperti tidak ada beban satu pun yang terjadi dalam hidupnya.
"Ya sudah oke aku salah. Maaf!" Ucapku yang masih sedikit ketus atas sikapnya yang kali ini lebih ke menjengkelkan karena ingin aku mengakui kesalahan interpretasiku.
"Duh Gaby Gaby, kalau begini aja lo salah interpretasi, gimana urusan kantor, Neng?" Tambahnya lagi yang masih sedikit tertawa dan masih juga duduk di bangku ku tadi.
Aku hanya diam saja melihatnya begitu senang atas penderitaanku.
"Ya sudah dong! Lanjut aja dulu materinya." Aku masih berdiri dari ujung ruangan ini.
__ADS_1
Ia berdiri, dan kembali lagi menuju meja kerjanya di ujung sana. Seketika melihat ia pergi, Gaby langsung kembali menduduki meja yang sebelumnya juga sudah ia duduki.
"Jadi gue jelasin sedikit ya, lo gak boleh menyeka apa yang gue sampaikan sekarang. Tapi kalau lo punya pertanyaan, lo bisa sampaikan di akhir presentasi gue. Paham gak?"
Aku hanya menganggukkan kepalaku pertanda paham atas rules dan perintah yang ia terapkan selama pemaparan rules kerja di ruangan ini.
"Oke gue mulai lagi ya. Nih pertama dan yang paling utama gue tuh paling benci sama orang telat bahkan satu menit pun, jadi tolong banget jangan sampai telat apalagi di depan muka gue, udah pasti lo gue omelin. Kedua, selama di ruangan ini lo jangan bawa makanan yang beraroma kuat, misal kaya durian, karena gue benci makanan aroma yang begitu kuat sampai tersebar kemana-mana tuh."
"Dih siapa juga yang mau bawa duren ke ruangan ini!" Aku berdesis sembari memalingkan wajahku.
"Jangan ngedumel sebab gue bisa dengar apa yang lo bilang." Ia kembali meresponku.
"Wah gila ini orang punya ilmu apa!." Kali ini aku berbisik di dalam hati berharap ia juga tidak bisa membaca pikiranku dan apa yang tengah hatiku katakan tentangnya.
"Ketiga, jam istirahat harus on time, benar-benar jam 12 gak boleh kurang, kembali lagi ke ruangan ini jam 1 tepat. Terakhir, lo gak boleh bolak-balik ke toilet lebih dari dua puluh kali dalam sehari. Sampai disini, ada yang mau ditanyakan, disanggah, dikomenin atau justru lo gak terima semua?" Ia melalakkan ke arahku seperti tengah membalaskan dendam atas apa yang tadi aku lakukan karena telah menyeka pembicaraannya.
"Oh ya satu lagi, pulang juga harus tepat jam empat sore." Ia menambahkan poin penting lainnya.
Aku mengangkat tanganku sebagai tanda ada yang mau kutanyakan.
"Iya mau sanggah?" Ia telah tahu niat terburukku. Namun perkiraannya kali ini salah. Lebih tepatnya aku hanya ingin ia jelaskan terkait rules ini lebih detail lagi.
"Ada beberapa pertanyaan yang mau saya tanya. Pertama, jika Anda belum pulang sampai dengan jam 4, apakah saya boleh pulang duluan? Kedua, jika Anda ada tamu di dalam ruangan ini, saya harus pindah kemana?" Tanyaku dengan cepat dan ringkas.
"Pertanyaan pertama, ya boleh. Lo gak wajib kok nungguin gue, karena gue bukan anak kecil lagi. Kedua, ya lo keluar, masa lo mau disini aja, itu kan tamu gue." Jawabnya yang kembali menyebalkan.
"Ya iya, saya juga tahu harus keluar, tapi saya harus kemana?" Dengan intonasi yang sedikit menekan, karena manusia seperti ini sepertinya memang perlu lawan bicara yang gak kalah galak dari dia.
"Ya keluar dong, cari meja yang kosong misalnya di meja satpam depan." Ungkapnya sembari tertawa.
"Huft, manusia aneh."
__ADS_1