Call Me, Your Baby!

Call Me, Your Baby!
Part 54 Kedua Kali


__ADS_3

“Ma bisa gak sih Raka tuh berhenti buat ikut campur dengan urusan aku?” Azka membentak kesal ke arah sofa.


“Ada apa lagi kamu sama dia?” Tanggap mamanya yang langsung menghampiri sang anak.


“Dia mau juga sama Gaby, dan itu sudah jelas banget.” Raka mengadu dengan mamanya bak seorang anak kecil yang iri.


“Ya Gaby juga belum tentu nerima dia kan?” Mama coba menenangkan.


“Ya tetap aja Ma, mereka satu kantor, dan aku tau persis Raka seambisius apa dengan hal yang dia inginkan. Aku mau Gaby, Ma. Aku mau nikahin dia…”


“Nanti coba mama bilang papa kamu dulu, baiknya gimana.”


***


“Nu, please lo harus bantu gue buat nikah sama adek lo. Gimanapun caranya!” Obrolan melalui sambungan telfon antara Azka dan abang Gaby, Ranu seolah membuat kecurigaan. Azka gak mencintaiku, ia hanya terobsesi dengan diriku.


“Lo tau sendiri gimana adek gue, dia keras kepala banget Ka. Tapi gue bakal minta orang tua gue untuk terlibat juga membujuk Gaby ya..” Ranu memang teman baik Azka. Ya sama aku pun teman baiknya, dan rasanya obsesi dia bukan menjadi kewajibanku untuk ku penuhi seutuhnya. Aku sudah illfeel.


“Iya, gimana pun caranya. Gue gak bisa lihat dia sama Raka, Nu.”


“Ya lo bilang lah sama Abang lo, kalo lo cinta banget sama si Gaby…”


“Percuma, dia tuh juga udah jelas kalo secinta itu sama Gaby. Pokoknya sebelum lo berangkat lagi, gue sudah harus nikah dengan Gaby…”


**


“Jadi lo balik ke rumah nih?” Kania coba melirikku yang masih sibuk dengan ponsel membalas chat Ranu, abangku.


“Gaby, gue nanya loh ini. Dengar gak sih?” Kania mengulang pertanyaan yang berbeda.


“Ha? Sorry Kan, ini abang gue masih aja terus-terusan bahas Azka. Gue udah cape banget rasanya….” Aku meletakkan ponsel di atas Kasur.


“Saran gue ya, lo memang harus tegas untuk semuanya termasuk kemauan orang tua lo terhadap diri lo. Lo tuh berhak hidup loh By, tanpa harus ikut maunya mereka gimana.”


“Gue belum siap buat nikah, apalagi dengan Azka. Gila aja, rasanya gue pengen kasih tau semua hal ke orang tua, tapi gue gak bisa meskipun nama lo gue samarin, tetep aja rasanya sakit kalo diingat…”


“Please By, jangan bawa masalah gue ke dalam masalah lo yaa. Itu beneran hal yang mau gue lupain….”


“Maaf Kania, gue gak maksud….” Aku merasa bersalah atas kalimat yang telah ku lontarkan barusan.


“Santai aja, gue gak marah kali By… Jangan tegang banget, apa gak capek lo?” Kania tertawa pelan.


“Lo ya, ekspresi lo tuh buat gue merasa jahat banget!!!” Geramku yang melihat ia ternyata hanya acting.

__ADS_1


“Mending lo sama Raka aja sih, By. Maksudnya dari segi karakter, tuh bocah berdua kebalikannya jauh banget, 180 derajat. Ya kalo memang dipaksa buat nikah sama salah satu dari mereka sih.” Ia mencibirku dengan tertawa pelan.


“Lo tuh udah jelas banget Sukanya sama Raka, apalagi yang mau lo tutupin dari gue?” Kania, manusia paling sok tau sudah bersabda.


Aku hanya terdiam.


“Kalo lo cuma beralasan karna mau menghindari keluarga Smith, sudah jelas gak logis By. Lo susah untuk menghindari hal itu. Jadi nih, sebagai sahabat lo yang paling baik disini gue kasih saran lo harus pilih, dan yang terbaik ya cuma Raka…”


“Duh, gak tau deh, gue aja gak bisa define perasaan gue sendiri sekarang. Gue pulang dulu deh, ribet juga semua orang di rumah pada minta balik. Makasih banyak tumpangannya ya sahabatku yang paling baikkk!!!” Aku langsung memeluk Kania.


**


“Bang, entar dulu, bisa kan?” Baru juga masuk ke ruang tamu, Ranu dengan cepat menghampiriku seolah ingin memborbardir banyak pertanyaan tentang perjodohan.


Ia gak menjawab, ia hanya menghentikan langkahnya sebab tau persis moodku sedang berantakan saat ini.


“Nanti malam, mama mau bicara..” Samber mama secara tiba-tiba dari dalam kamarnya.


“Ma, kalo Cuma untuk bahas Azka, aku skip ya. Banyak kerjaan soalnya..” Aku menghela nafas pelan.


“Bukan, ini tentang Raka…” Tanpa sadar mataku langsung menyorot ke arah mama seolah ingin tahu.


“Kenapa Raka?” Aku langsung mendekati mama.


“Raka kenapa Ma?”


“Mau sekarang aja dengarnya?”


“Iya Ma. Ada apa dan kenapa?”


“Udah tau belum ya kamu kalo Raka mau pindah ke Amerika?”


“Amerika? Kapan?” Sontak aku pun kaget, karena selama di kantor sama sekali ia tidak menyinggung tentang hal tersebut, apalagi sampai pindah.


“Besok, pesawat pagi. Tadi, Smith nelfon papa kamu tuh ngasih tau kalo besok perusahaan yang handle sudah Azka…”


“Ha? Kok bisa? Sebentar Ma…” Aku langsung beranjak naik ke atas, tepatnya ke kamarku.


Ku buka ponsel perlahan…


“Duh, gue telfon gak ya. Gue telfon gak ya…” Beberapa kali jariku ingin menyentuh layar ponsel dengan tombol hijau tersebut, namun keraguan menyelimuti hatiku.


Aku mondar mandir beberapa kali meyakinkan diriku untuk

__ADS_1


menghubunginya atau enggak. Sebab kalo dipaksa dengan chat, jelas aja aku mati


kutu bingung apa yang mau ku ketik dalam ponsel ini.


Ponselku tiba-tiba bergetar, dan tubuhku melonjak kaget.


“Raka nelfon?” Beberapa kali mata ku alihkan untuk melihat siapa yang sedang menghubungiku.


“Halo Mas kenapa pindah?”


“Kamu kenapa Gaby?”


Astaga baru sadar ternyata sangking paniknya, aku keceplosan menyambut panggilannya dengan pertanyaan itu.


“Eh maa Mas…”


“Kamu udah tau ya? Dari mama pasti?” Tumben banget ia gak ngomel apapun atas kesalahanku tadi.


“Iya Mas. Maaf Mas tadi karna abis dikasih tau Mama makanya keceplosan waktu angkat telfon Mas…” Aku masih malu dengan Tindakan keceplosanku tadi.


“Panik banget kayaknya. Takut bakal kangen ya karna ditinggal hahaha….” Seorang Raka yang dingin bak kulkas 2 pintu bisa bercanda adalah sebuah keberuntungan. Selain dia suka tiba-tiba melamar, dia juga suka tiba-tiba pergi, dan tiba-tiba jail bercanda.


“E…eng..enggak Mas…” Jawabku singkat.


“Gengsi banget sih. Jadi, besok gue udah gak di kantor lagi, semuanya Azka yang urus.”


“Aku gimana?”


“Kamu bisa keluar gak?”


“Keluar kemana?” Aku melihat sekelilingku dan menghampiri jendela yang langsung berdampingan dengan gerbang masuk rumah.


“Mas Raka ngapain di bawah?” Aku teriak tapi ponselku masih nyala.


“Bisa pelan-pelan aja gak sih Mbak, gue denger kok tanpa harus teriak…” Ia tersenyum tipis di bawah sana.


Aku langsung turun, menghampirinya.


“Mau kemana?” Ranu menahanku, sementara mama hanya melihatku.


“Kalian udah tau rencana Raka ya?” Aku tersenyum malu.


“Rencana apaaa?” Mama menjawabnya dengan bingung diikuti juga dengan ekspresi Ranu yang jelas menuaikan tanda tanya.

__ADS_1


“Khairunnisa Gaby Atitah, apakah kamu mau menjadi istri saya? Menjadi pendamping hidup saya di luar negeri sana?” Pria yang terkenal dingin ini tengah bertekuk lutut dihadapanku dengan kotak merah yang berada di hadapannya.


__ADS_2