
Abryal menarik nafasnya dalam-dalam seraya menyandarkan punggungnya di kursi kerja nya.
"Haduh, kenapa abah dan ummi harus datang ke kota ini sih? Seperti tidak ada kerjaan saja mereka. Bukannya di pondok pesantren, para santri masih membutuhkan abah dan ummi. Para pengajar itu butuh abah dan ummi juga untuk bimbingan dan pembinaan lainnya," gumam Abryal seraya mengusap dahinya karena keringat nya. Bahkan AC di ruangan itu masih hidup tapi Abryal tetap bisa mengeluarkan keringat nya lantaran panik.
Saat jam sudah menunjukkan ke angka dua siang, Abryal langsung bergegas keluar dari ruang kerjanya. Abryal akan menjemput Almeda ke tempat kerja nya yang baru di kota itu sebagai seorang guru bidang studi.
Saat Abryal di luar pintu ruang kerja nya, asisten pribadinya langsung menghampiri nya.
"Odjie, aku pulang lebih cepat dari biasanya. Abah dan ummi datang. Tolong temui pak Hans dulu karena sebentar lagi, dia akan datang ke kantor untuk menyerahkan proposal kerja sama. Sedangkan aku harus segera pergi. Katakan pada pak Hans, lusa bisa menemui ku di kantor. Mungkin besok, akan kita pelajari dulu bentuk kerjasama yang akan Pak Hans tawarkan pada perusahaan kita," ucap Abryal.
"Baik, mas Abryal!" sahut asisten pribadi Abryal yang bernama Odjie.
"Ya sudah, aku pergi dulu!" ucap Abryal seraya melenggang meninggalkan tempat itu. Asisten pribadinya hanya bisa menatap punggung lebar milik Abryal seraya mengangkat kedua bahu nya sendiri.
__ADS_1
🌼🌼🌼🌼🌼
"Jangan lupa, nanti saat di rumah tunjukkan. pada abah dan ummi kalau kita terlihat sudah dekat dan intim. Jangan buat mereka berpikir kalau kita masih saling berjauhan atau sibuk dengan urusan sendiri-sendiri," kata Abryal pada Almeda saat mereka sudah berada di dalam mobil Abryal. Saat ini Abryal sudah menjemput Almeda di sekolah. Abryal benar-benar tepat waktu sehingga Almeda tidak dibiarkan menunggu dirinya terlalu lama.
"Baik, mas!?" sahut Almeda.
"Jangan lupa, nanti setiba nya di rumah, kita harus sama-sama masuk ke kamar yang sama. Maksudnya kamu ke kamarku," kata Abryal.
"Mas Abryal sudah mengatakan itu beberapa kali loh, mas! Aku tidak lupa mas," sahut Almeda. Abryal meringis saja mendengar tanggapan Almeda.
🌼🌼🌼🌼🌼
Sementara itu, Abah Idris dan ummi Salamah kini telah memanggil salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Abryal. Di sana ada bibi Ruroh yang bekerja di rumah Abryal di bagian dapur. Abah dan ummi mulai ingin tahu kebenarannya atas perkembangan hubungan suami istri Abryal bersama dengan Almeda.
__ADS_1
"Kamu jangan berbohong loh, Ruroh! Kalau berbohong pasti kamu sudah jelas mengetahui hukumnya kan? Hayo bicara dengan jujur pada kami, bagaimana putra ku memperlakukan Almeda, istrinya," ucap bu Salamah pada bibi Ruroh.
"Eh, em mereka baik-baik saja ummi! Serius saya tidak berbohong," sahut bibi Ruroh.
"Memang mereka baik-baik saja. Maksud aku, bagaimana kedekatan mereka? Tadi aku melihat, kenapa banyak barang-barang dan pakaian Almeda di kamar tamu. Sedangkan kamar utama tidak ada pakaian maupun barang-barang milik Almeda. Apakah selama ini mereka belum tidur dalam satu kamar?" desak ummi.
"Eh, em?? Itu itu saya tidak mengetahui nya, ummi! Saya takut salah jika ingin tahu mereka saat beristirahat. Apalagi memastikan mas Abryal dengan mbak Almeda tidur di kamar yang sama setiap malam atau tidak," sahut bibi Ruroh.
"Ya sudahlah, ummi!? Nanti setelah mereka berdua datang dari tempat nya bekerja, kita harus upayakan supaya mereka tidur di kamar yang sama. Saat ini kita berpura-pura saja tidak mengetahui kalau mereka sebenarnya belum tidur bersama," ucap Abah Idris.
"Ya sudahlah! Aku pikir selama ini mereka sudah sama-sama ikhlas untuk saling menerima menjadi suami istri. Tapi ternyata mereka masih pisah ranjang. Kalau begini terus, mana bisa kita memiliki banyak cucu dari keturunan anak kita itu," kata ummi Salamah.
"Sebentar lagi, ummi!? Mereka butuh waktu untuk saling dekat. Karena mereka menikah lantaran paksaan dan perjodohan dari kita," ucap abah Idris.
__ADS_1
"Hem, benar Abah! Selama kita di sini, kita harus buat mereka semakin dekat dan tidur dalam satu kamar dan tidak pisah-pisah gitu," kata ummi Salamah.