
Miranda kini sudah menjadi mualaf.Dia mulai belajar agama. Setelah beberapa kali mendapatkan penolakan dari Abryal, Miranda mulai menyerah. Dirinya sadar diri bahwasanya seseorang yang dianggap menyukai dirinya tidak selalu menerima cintanya. Walaupun dirinya sudah menegaskan bahwasanya juga telah jatuh hati dengan orang yang bersangkutan. Namun ada beberapa pertimbangan lah yang menyebabkan seseorang tersebut tidak ingin melanjutkan keinginan nya. Walaupun ada sedikit rasa suka di dalam nya.
Seperti halnya Abryal. Mungkin dahulu menyukai Miranda. Namun setelah dirinya menikah dengan Almeda, ada pertimbangan lagi untuk bermain hati dengan wanita lain. Sampai akhirnya, Abryal menerima perjodohan itu dan ikhlas menganggap Almeda sebagai pendamping hidupnya. Belajar mencintai setelah menikah mungkin lebih indah. Berpacaran setelah sah menjadi suami istri akan aman jika terjadi sesuatu yang diinginkan.
"Apa yang kamu dapatkan Miranda? Setelah kamu pindah keyakinan demi pria yang kamu sukai itu, ternyata dia tidak menghiraukan kamu. Bahkan pria itu memilih wanita lain untuk dijadikan istri. Sedangkan kamu? Ah Miranda! Betapa bodohnya kamu ini!" kata teman dekat Miranda. Sebut saja namanya Vero.
"Abryal menikah dengan wanita itu karena telah dijodohkan oleh orang tuanya. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya, tentu saja Abryal harus menurut dan tidak membantah," sahut Miranda.
"Lalu kamu? Kamu akhirnya dilupakan. Padahal kamulah yang lebih dahulu mengenal dekat Abryal sebelum wanita itu bukan?" ucap teman dekat Miranda yang bernama Vero itu.
"Wanita itu juga tidak bisa menolak dan berbuat banyak, Vero! Dia sangat patuh pada kedua orang tuanya. Sama seperti Abryal. Pernikahan mereka terjadi karena kedua orang tua mereka telah sepakat menjodohkan mereka berdua. Dan mereka akhirnya mulai saling mengenal, belajar mencintai lalu berpacaran setelah menikah. Menikahkan keduanya dengan cepat, akan mencegah perzinaan. Itu lah yang ada dalam pemikiran mereka," ucap Miranda.
__ADS_1
"Lalu seiring waktu cinta akan tumbuh dan bersemi diantara keduanya? Begitu kan?" sahut Vero.
"Yup betul!" ucap Miranda.
"Ya sudahlah! Mungkin Abryal bukan jodoh kamu. Mungkin saja kamu akan ketemu jodoh kamu suatu saat nanti," kata Vero.
"Aamiin! Semoga secepatnya aku bisa melupakan Abryal dan membuka hatiku pada pria lain. Aku harap pria itu lebih baik dari Abryal yang bisa membimbing aku ke jalan Tuhan," ucap Miranda.
🌸🌸🌸🌸🌸
"Miranda? Siapa sih, Miranda itu?" sahut Abryal seraya menyipitkan bola matanya. Almeda hanya terkekeh melihat tanggapan Abryal.
__ADS_1
"Lupa atau berusaha melupakan, mas?" goda Almeda.
"Dia terlalu baik untuk aku. Makanya aku tidak mau menyakiti dan membuat dia kecewa," sahut Abryal.
"Nyatanya, mas Abryal telah mengecewakan mbak Miranda," ucap Almeda.
"Yah, begitulah resiko menjadi laki-laki ganteng seperti aku, Almeda! Kamu harus menyadari itu, kalau suami kamu terlalu ganteng banget. Makanya bersyukurlah kamu memiliki suami seganteng aku," kata Abryal dengan terkekeh sendiri.
Almeda hanya bisa menjulurkan lidahnya ke arah laki-laki yang saat ini sedang menyetir mobil di sampingnya. Laki-laki yang baru beberapa hari ini menganggap dirinya sebagai istrinya. Sebelum ini mungkin hanya lah istri di atas kertas saja. Almeda sudah paham, jika kejadian saat malam itu karena ulah abah Idris dan ummi Salamah. Sehingga antara dirinya dengan Abryal terjadi sesuatu yang diinginkan dan didambakan oleh Almeda.
"Minggu depan kita liburan ke luar kota, yuk! Yah, kata abah dan ummi menyebutnya sebagai bulan madu. Bagaimana menurut kamu?" ucap Abryal.
__ADS_1
"Aku terserah kamu saja, mas! Apa kata suami, istri harus mengikuti," sahut Almeda.
"Jiah! Cie cie!" ujar Abryal yang selalu bercanda setiap waktu.