CALON ISTRI DARI ABAH

CALON ISTRI DARI ABAH
BAB 26


__ADS_3

Bruk!


Barang belanjaan milik Miranda banyak yang jatuh saat bertabrakan dengan pria dewasa yang juga berbelanja di supermarket itu.


"Eh, maaf!" ucap pria dewasa itu sambil berjongkok mengambil beberapa barang-barang belanjaan yang jatuh milik Miranda.


"Em, tidak apa-apa om!" ucap Miranda pada laki-laki dewasa itu. Panggilan om, sukses membuat pria itu menyipitkan bola matanya menatap ke arah Miranda.


"Oh iya, namaku Mohammad Ridwan! Panggil saja aku dengan mas Ridwan atau abang Ridwan. Aku pikir, aku belum layak jika di panggil dengan om," kata laki-laki dewasa itu yang menyebut dirinya dengan nama Mohammad Ridwan.


"Eh, em aku Miranda, kak Ridwan!" sahut Miranda.


Mohammad Ridwan mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Miranda. Miranda menyambut uluran tangan Mohammad Ridwan itu tanpa penolakan. Walaupun saat ini Miranda mengenakan pakaian longgar atau busana muslim. Penampilan Miranda bikin Mohammad Ridwan dibuat terpesona.


Benar! Setelah Miranda memutuskan untuk menjadi mualaf, dirinya total mengalami banyak perubahan baik saat berperilaku, sikap, maupun penampilan nya. Miranda pun sudah mulai belajar agama dan belajar membaca Alquran.


Sepanjang berbelanja, Miranda kini diikuti oleh Mohammad Ridwan. Mohammad Ridwan yang awalnya hanya mencari sesuatu barang, kini jadi ikut-ikutan berbelanja. Hingga dirasa cukup, Miranda kini berada di kasir untuk membayar barang-barang belanjaannya.


"Berapa semua nya mbak?" tanya Mohammad Ridwan. Miranda menyipitkan bola matanya saat pria dewasa yang bernama Mohammad Ridwan itu begitu sombongnya ingin membayar semua barang belanjaannya.

__ADS_1


"Sama yang ini yah, mas?" tanya kasir cantik itu.


"Iya, sekalian keranjang belanjaan punya saya ini," kata Mohammad Ridwan. Kasir itu kembali menghitung barang belanjaan milik Mohammad Ridwan setelah selesai menghitung semua barang belanjaan milik Miranda.


"Totalnya tiga juta lima ratus tujuh puluh tiga ribu dua ratus rupiah," ucap kasir itu. Mohammad Ridwan segera mengenai kartu debitnya pada kasir itu.


"Kamu yakin, akan membayar semua barang belanjaan aku? Bahkan nilai belanjaan ku tiga juta lebih. Paling barang belanjaan kamu hanya dua ratus ribu saja," kata Miranda.


"Tidak apa! Anggap saja untuk menebus kesalahan saya karena aku tadi menabrak kamu," sahut Mohammad Ridwan. Miranda mengerutkan dahinya menatap laki-laki yang sok menjadi pahlawan untuk nya.


Setelah selesai dengan transaksi nya, Ridwan membantu membawakan barang-barang belanjaan milik Miranda. Miranda pun tanpa penolakan membiarkan Ridwan membawa tas belanjaan nya.


Miranda mengerutkan dahinya. Dirinya tidak cukup keberanian untuk menolak ajakan dari Ridwan. Pria dewasa yang baru saja dikenalnya saat berbelanja di supermarket mall tersebut.


"Baiklah! Tapi biarkan aku yang mentraktir kamu!" sahut Miranda.


"Oke, kalau begitu!" ucap Ridwan.


🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


"Kamu tinggal di mana?" tanya Ridwan.


"Di Sunderland, kak!" jawab Miranda.


Saat ini kedua orang berlawanan jenis itu sedang makan di rumah makan masakan Jepang. Ridwan mulai bertanya-tanya dan mengenal lebih dekat dengan Miranda. Ridwan yang notabene masih lajang, tentu masih ingin mengenal banyak gadis-gadis. Tentu saja di antara para gadis yang dirinya kenal, Ridwan akan mencari mana yang cocok dan klik dengan dirinya.


"Kamu kerja di mana?" tanya Ridwan.


"Di perusahaan AA Grup, menjadi sekretaris di perusahaan itu," jawab Miranda.


"Perusahaan AA Grup? Perusahaan konstruksi dan pengadaan alat-alat berat? Sepertinya aku pernah mendengar pemilik perusahaan ini. Tapi siapa yah?" sahut Ridwan.


"Perusahaan AA Grup milik tuan muda Abryal. Putra tinggal dari seorang kyai pengasuh Pondok Pesantren di jawa," jawab Miranda.


"Hem,tuan muda Abryal? Aku pikir kemarin lusa aku telah berjumpa dan berkenalan dengan beliau. Apakah dia baru saja menikah? Maksudnya, baru beberapa bulan ini melepas masa lajangnya?" tanya Ridwan.


"Benar, mas! Siapa yang tidak mengenal tuan muda Abryal. Selain beliau nya seorang dosen dan juga menjadi motivator. Tuan muda Abryal ini merupakan pebisnis muda yang cukup disegani," urai Miranda. Miranda menceritakan kelebihan Abryal penuh kebanggaan.


"Seperti nya kamu sangat mengidolakan CEO muda itu yah?" sahut Ridwan. Sukses ucapan Ridwan membuat Miranda terkejut dan merona wajahnya. Hal itu tentu saja membuat Ridwan semakin paham kalau selama ini gadis di depannya itu sangat mengidolakan CEO muda, Abryal.

__ADS_1


__ADS_2