
"Astaghfirullah, ternyata aku bermimpi. Astaghfirullah. Kenapa seperti nyata," gumam Almeda sambil mengusap wajahnya sendiri yang tiba-tiba saja merona memerah lantaran malu.
Malu kenapa dirinya bisa bermimpi berhubungan badan dengan Abryal. Benar, nyatanya kalau antara Abryal dengan dirinya seharusnya sudah melakukan hubungan badan selayaknya pasangan suami istri. Namun nyatanya sampai sekarang, bahkan sudah hampir satu bulan ini, Almeda tidak pernah disentuh nya. Mungkin kah itu sebagai tanda bahwa dalam lubuk hatinya yang paling terdalam, sudah sangat mengharapkan hubungan badan itu dengan Abryal. Nafkah batin yang seharusnya ia dapatkan dari suaminya yang telah menikahi dirinya. Walaupun pernikahan itu terjadi karena perjodohan antara kedua orang tua Almeda dengan orang tua Abryal.
🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain, Miranda meratapi kesedihan nya karena harus menerima kebenarannya bahwa cinta nya telah ditolak oleh Abryal. Karena patah hati itulah, Miranda menjadi stress dan sakit. Hingga asam lambung nya naik. Saat ini Miranda menumpahkan segala curhatan dari perasaannya yang terdalam terhadap Abryal
Malam ini kamu mendatangi aku dalam mimpi, ketika aku merasakan sedikit keluhan terhadap perutku. Kamu membawakan bubur ayam kesukaan ku sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangmu terhadap ku.
"Apakah masih sakit?" tanya Abryal kepadaku.
"Huum!" jawabku dengan manja. Lalu tanganmu memberikan kehangatan ke telapak tanganku.
__ADS_1
"Yuk makan dulu, Miranda! Aku membawakan bubur ayam kesukaan kamu." ucap Abryal sambil mengusap pucuk kepala ku dengan lembut.
"Masih pahit mulutnya! Nanti saja!" kata ku dengan merengek manja. Abryal masih tetap membelai puncak kepalaku dengan lembut. Senyuman nya sungguh-sungguh tulus penuh kesabaran.
"Ayolah sayang! Sedikit saja yuk! Dikit-dikit makannya." rayu Abryal masih dengan lembut.
Aku menggeleng pelan.
"Suapin!" pinta aku dengan manja. Abryal tersenyum mendengarnya.
Pelan- pelan Abryal mulai menyuapi aku dengan penuh kesabaran. Ditatap nya mataku dengan penuh kasih. Sepertinya dia tidak akan mau membiarkan aku dalam kesakitan sendiri. Sakit yang aku rasakan seperti membuat dirinya tertusuk duri dihatinya. Aku pikir semua itu sangat indah dan nyata. Ternyata semua itu hanya mimpi. Kamu hadir disaat aku rapuh dan sakit. Bagiku, aku sudah sangat bersyukur kamu bisa memperhatikan ku walaupun sekadar dalam mimpi saat aku tidur.
Hubungan aku dengan Abryal sudah berlangsung cukup lama. Sejak aku selalu bertemu dengan Abryal karena hubungan bisnis itulah, aku dan Abryal semakin dekat. Memang kedua orang tua ku masih belum mempersoalkan tentang perbedaan yang terjadi. Mungkin saja mereka berpikir kami belum dinilai serius dalam menjalin hubungan menuju ke pernikahan atau
__ADS_1
berumah tangga. Sehingga kedua orang tua ku masih belum melarang atau menentangnya. Mereka masih melihat kami berpacaran sewajarnya. Ternyata itu semua itu hanya pikiranku saja. Ternyata, Abryal tidak menganggap hubungan ku dengannya tidak lebih dari teman. Ternyata aku keliru. Aku terlalu percaya diri dengan kedekatan kami. Padahal sesungguhnya, Abryal tidak mengganggap pacar atau kekasih.
Aku sadar perbedaan inilah yang menjadikan pertimbangan bagi Abryal untuk melangkah lebih jauh dengan ku. Aku yang berjalan ke kanan sedangkan Abryal yang berjalan ke kiri. Namun dari semua itu kami selalu menghargai selama ini. Ketika aku merayakan hari raya besar dari agama dan keyakinan ku, kamu tidak lupa mengucapkan selamat. dan turut bergabung merayakan bersamaku.
Aku dan Abryal saling menghargai dari keyakinan kita yang berbeda ini. Namun ketika kasih sayang kita sudah semakin besar dan kita sudah mulai terbiasa saling bersama dan menyayangi kami dihadapkan oleh satu titik ini. Dimana kami harus bisa memilih dan menentukan pilihan dalam hidup. Apakah aku harus mengikuti Abryal dan meninggalkan keyakinan ku atau Abryal yang mengikuti aku ikut masuk dalam keyakinan ku selama ini. Ini adalah suatu pemaksaan jika hati kami masih mempercayai akan keyakinan yang sudah dianut selama ini.
Aku hanya ingin, semua atas dasar karena panggilan hati. Aku atau kamu yang akan menuntun panggilan suci itu ke arah jalan mana yang akan kita pilih menuju jalan Nya. Sehingga kita tidak berbeda-beda jalan dalam melangkah menuju kasih sayang Nya. Agar kita bisa satu pemikiran dan pemahaman dalam melangkah bersama mencari ridlo Nya dan mendapatkan kasih Nya. Kita kan berharap selalu mendapatkan keberkatan dariNya dalam menjalani kehidupan ini.
Kamu tahu Abryal! Aku sudah sangat terbiasa dengan kamu. Jadi, apa pun itu semoga kita bisa tetap bersama dan bersatu. Aku sudah mendapatkan kenyamanan ketika berada disisi kamu. Dan kamu bisa mengerti akan kemauan aku. Kamu begitu kasih dan menyayangi aku dengan tulus dan tanpa syarat apapun. Kamu? Bagi aku adalah laki-laki sempurna di mataku.
Tapi setelah aku memantapkan hati dan ingin mengikuti kamu, nyatanya kamu mengungkapkan kebenaran bahwa sejatinya Almeda adalah istri kamu. Betapa ini membuatku seperti tidak menerima akan pernyataan mu. Aku rasa kamu telah mencurangi aku. Sehingga saat aku ingin memantapkan hati dengan pilihan ku untuk mengikuti kamu, justru kamu menolaknya.
"Abryal!? Aku harus ikhlas dan rela untuk melepaskan bayangan kamu di setiap sudut mataku. Pelan-pelan aku harus menepiskan harapan indah untuk bersama dengan kamu," gumam Miranda.
__ADS_1