
Sembilan bulan kemudian, akhirnya Ridwan berhasil menikahi Miranda. Karena keluarga besar Miranda memiliki keyakinan yang berbeda, maka Miranda menikah dengan wali hakim. Bahkan tidak ada satu pun anggota keluarga besar yang menghadiri acara pesta pernikahan Miranda. Bagi Miranda, ini merupakan konsekuensi yang harus dia terima karena dia telah menjadi mualaf dan meninggalkan keluarga besarnya. Walaupun Ridwan dan Miranda sudah berusaha mendatangi orang tua serta keluarga Miranda untuk meminta pengampunan namun mereka tetap bersikeras menolak dan tidak mau menerima Miranda. Bagi orang tua Miranda serta keluarganya, Miranda sudah bukan lagi bagian dari keluarga mereka.
"Kak Ridwan!" panggil Miranda.
"Iya, sayang!" sahut Ridwan dengan penuh kelembutan.
Ridwan menyentuh kedua pipi Miranda dengan lembut sebelum mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Miranda. Kecupan lembut mendarat di kening dan turun ke bibir Miranda. Keduanya tersenyum lebar dengan mata berbinar.
"Aku punya kabar gembira untuk kakak," ucap Miranda pelan.
"Apa itu?" sahut Ridwan. Miranda menunjukkan tes kehamilan pada suaminya. Ridwan memperhatikan dengan seksama tandatanda dua garis warna merah pada alat tes tersebut.
__ADS_1
"Ini artinya, sayang? Tanda dua garis merah. Kalau rambu-rambu lalu lintas, merah artinya dilarang jalan dan harus berhenti. Apa artinya kamu berhenti menstruasi selama beberapa bulan?" tanyanya dengan bahagia.
Tentu saja Ridwan tidaklah bodoh dan paham tentang topik ini. Miranda pun tertawa terbahak-bahak mendengar tanggapan suaminya.
"Hahaha, iya benar, kak! Aku sudah telat menstruasi dan aku hamil, kak," jelas Miranda sembari membenarkan.
Ridwan langsung menggendong istri dengan cara bridal style. Dengan lembut dan penuh hati-hati, Ridwan meletakkan istri ke atas peraduan.
"InsyaAllah, kak! Kakak ingin aku punya bersamaan berapa anak, kok kakak bilang anak-anak sih? Apakah itu artinya kakak ingin kita memiliki anak lebih dari satu?" tanya Miranda.
"InsyaAllah, jika Allah mengizinkannya, aku ingin memiliki banyak anak darimu, sayang!" jawab Ridwan.
__ADS_1
"Aamiin, semoga Allah mempercayakan amanah ini kepada kita, kak," kata Miranda.
Di ruangan yang dingin karena AC, Ridwan tidak membiarkan istrinya istirahat sebelum melakukan ritual suami istri. Miranda pasrah dalam melaksanakan kewajibannya. Mereka berdua memberikan dan menerima dalam hubungan halal sebagai suami istri. Hubungan suami istri tersebut menjadi ladang pahala bagi keduanya.
Sementara itu, di rumah kediaman Abryal, Ada seorang wanita muda yang mengusap perutnya yang tampak membuncit. Wanita itu ternyata sedang hamil. Mungkin saja dalam beberapa hari ke depan, ia akan melahirkan sang jabang bayinya. Dia adalah Almeda.
"Almeda, minumlah madu ini. Kamu harus bertenaga dan berstamina untuk mempersiapkan kelahiran anak pertamamu," ujar Ummi Salamah yang berada di rumah Abryal.
"Terima kasih banyak, Ummi! Ummi sangat peduli denganku," sahut Almeda.
"Tentu saja, Almeda! Kamu adalah menantuku. Ini artinya kamu dan Abryal sudah menjadi anak-anakku yang harus kubersamai," kata Ummi Salamah seraya mengusap puncak kepala Almeda yang ditutupi kerudungnya.
__ADS_1
Ummi dan Abah Idris sengaja datang dari kampung untuk menemani serta mendampingi Almeda dalam proses melahirkan anak pertamanya. Almeda merasa sangat bahagia, keluarganya sangat peduli dan penuh perhatian dengan dirinya. Terlebih lagi suaminya, Abryal. Selama masa kehamilannya, Almeda tidak diijinkan untuk mengerjakan tugas rumah. Hal itu dilakukan untuk mencegah agar kehamilan Almeda tidak mengalami sesuatu yang buruk seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Pengalaman tersebut membuat Almeda dan Abryal merasa trauma.