
Di ruangan nya Abryal senyum-senyum sendiri. Saat ini Abryal seperti sedang berbunga-bunga. Baru tadi malam, dirinya melakukan itu bersama dengan Almeda istrinya. Bahkan sudah berbulan-bulan dirinya membiarkan Almeda di rumahnya tanpa disentuh oleh Abryal. Antara Almeda dan Abryal, mereka tidur dengan kamar yang terpisah. Sampai akhirnya kedatangan abah Idris dan ummi Salamah, merubah segalanya. Abryal dan Almeda akhirnya melakukan kegiatan ritual suami istri itu untuk pertama kalinya. Itu tentu saja tanpa perencanaan. Bahkan hal itu terjadi seperti mengalir saja. Namun dengan kejadian itu, keduanya akhirnya sama-sama menerima dan ikhlas menjadi pasangan suami istri yang sebenarnya. Keduanya saling ikhlas menunaikan kewajiban dan hak nya sebagai suami dan istri tanpa ada lagi yang memaksakan mereka.
"Benar-benar bodoh aku! Ternyata enak juga yah! Kenapa tidak sejak dari dulu setelah aku dan Almeda ijab kabul serta sah menjadi suami istri? Bahkan dulu aku melewati malam pertama yang indah itu bersama dengan Almeda. Benar-benar bodoh dan merugi aku ini," gumam Abryal seraya tersenyum saat mengingat kejadian tadi malam dirinya membuka segel Almeda. Bahkan sebelum melakukan sholat subuh berjamaah, dirinya kembali meminta lagi pada Almeda saat di dalam kamar mandi.
"Beruntung, Almeda tidak pendendam dan sabar menunggu ku sampai aku benar-benar menerima dia menjadi istriku. Apalagi kemarin ada Miranda yang datang ke rumah. Pasti Almeda sangat cemburu saat itu," pikir Abryal.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Tok.
Suara ketukan pintu ruangan Abryal di ketik seseorang. Abryal menyahut dan menyuruhnya masuk.
"Eh, Miranda? Kamu?" ucap Abryal dengan bola mata yang melebar sempurna.
"Abryal! Aku boleh masuk dan duduk kan?" sahut Miranda yang tanpa di suruh langsung duduk di depan Abryal. Mereka duduk saling berhadap-hadapan dengan terhalang meja kerja.
"Bagaimana menurut kamu, Abryal! Dengan penampilan ku sekarang ini? Kamu suka tidak?" tanya Miranda yang merasa sudah cantik dan anggun dengan penampilan barunya.
__ADS_1
Benar! Miranda saat ini telah merubah penampilan nya dengan mengenakan hijab. Dengan pakaian yang longgar, Miranda memang terlihat seperti seorang muslimah. Tapi apakah Miranda memang berubah haluan menjadi seorang muslimah? Miranda menjadi mualaf sekarang ini? Lalu kapan? Itulah yang dipikirkan oleh Abryal saat ini. Bahkan Abryal menatap Miranda sampai tidak berkedip.
"Kamu kenapa mengenakan hijab, Miranda? Jangan bilang kalau kamu kini telah berubah keyakinan kamu, Miranda," ucap Abryal.
"Memangnya kenapa kalau aku pindah keyakinan? Aku mencintaimu Abryal. Jadi apa yang aku lakukan semua nya supaya kamu mulai mempertimbangkan aku lagi sebagai calon istri kamu," kata Miranda.
"Aku sudah menikah Miranda! Itu kebenarannya. Kamu mau pindah keyakinan seperti aku atau tidak pun, itu tidak akan merubah ku untuk menerima kamu sebagai istri aku. Karena aku sebenarnya telah menikah beberapa bulan yang lalu bersama dengan Almeda. Tentu saja kamu tahu Almeda bukan?" ucap Abryal.
"Aku percaya kamu, Abryal! Tapi bukankah di dalam keyakinan kamu, menikah bisa beberapa kali bukan? Kamu bahkan bisa memiliki istri satu dua tiga atau empat. Aku rela kok jika menjadi yang kedua, Abryal!" kata Miranda.
__ADS_1
"Itu bagi yang mampu dan berlaku adil, Miranda! Sedangkan aku tidak bisa, Miranda! Maaf! Kembali aku menolak kamu! Maaf, aku harus menjemput istriku, Almeda di sekolah. Sekarang ini kedua orang tua ku lagi di kota ini dan datang ke rumahku," ucap Abryal.
"Tapi Abryal!" sahut Miranda yang kembali menelan kekecewaan nya lagi karena ditolak oleh Abryal.