
Abah Idris dan ummi Salamah tiba-tiba saja tiba ke kota dan langsung ke rumah Abryal. Tentu saja Abryal terkejut dengan kedatangan kedua orang tua nya yang datang ke kota itu tanpa pemberitahuan. Apalagi Abryal saat ini masih sibuk dengan kerjaan nya. Sedangkan Almeda mulai mengajar di salah satu yayasan pendidikan yang tidak lain dan tidak bukan milik dari abah Idris yang diketuai oleh Abryal sendiri sebagai ketua yayasan nya.
Selain sibuk dengan beberapa bisnisnya, Abryal juga masih mengajar di sebuah perguruan tinggi ternama di kota itu. Juga sebagai pemateri dalam seminar-seminar yang diselenggarakan oleh pihak terkait.
Abryal yang sudah diberitahu oleh asisten pribadinya bahwasanya abah dan ummi telah tiba di kota bahkan sekarang ini sudah berada di rumah kediaman Abryal.
Seperti saat ini Abryal langsung menghubungi Almeda di ruang kerjanya.
"Halo, ini siapa?" tanya Almeda yang saat ini sedang duduk di meja ruangan guru di jam istirahat.
"Apakah kamu tidak mengenal suara merdu suami kamu sendiri, hem?" sahut Abryal yang berbicara melalui sambungan di handphone nya. Almeda mengerutkan dahinya.
"Suami?" sahut Almeda seraya mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Hem, lupa kalau kamu sudah memiliki suami?" ucap Abryal ketus.
"Eh??" Almeda menahan tawanya saat Abryal bicara seperti itu kepada nya.
"Bukan aku yang lupa kalau kita sudah menjadi suami istri. Tapi kamu sendiri yang belum mau mengganggap aku sebagai istri kamu bukan?" batin Almeda.
"Halo, Almeda!? Kamu masih di sana kah?" sahut Abryal kembali membuyarkan Almeda yang terbengong dengan ucapan Abryal sendiri.
"Eh, iya mas!? Ada apa mas?" kata Almeda.
"Eh, em? Aku aku bisa pulang sendiri kok, mas! Bukannya tadi mas Abryal sudah menyuruhku untuk pulang naik taksi online saja. Dan aku sudah berani pulang sendiri kok, mas!?" sahut Almeda.
"Jangan banyak membantah!? Ingat Almeda!? Kita harus menunjukkan pada abah serta ummi kalau hubungan kita baik-baik saja selayaknya pengantin baru yang baru saja menikah. Kita adalah suami istri yang saling mencintai," ucap Abryal panjang lebar.
__ADS_1
"Eh, em??" Almeda mendengar nya dengan serius.
"Dan ingat, Almeda! Nanti malam kamu harus tidur di kamar utama ku. Jangan tunjukkan pada abah serta ummi kalau selama ini kita masih berbeda kamar," kata Abryal.
"Eh, em iya mas Abryal!?" sahut Almeda.
"Tapi ingat! Kita hanya berpura-pura romantis dan saling dekat. Kamu jangan mengambil kesempatan dengan ini yah!?" ucap Abryal.
"Iya, mas Abryal!? Aku aku mengerti kok, mas!?" sahut Almeda.
"Ya sudah!? Nanti jam tiga, kamu tunggu saja di yayasan. Nanti aku akan menjemput kamu di sana. Oke?" ucap Abryal akhirnya lalu menutup panggilan keluar nya.
Abryal menarik nafasnya dalam-dalam seraya menyandarkan punggungnya di kursi kerja nya.
__ADS_1
"Haduh, kenapa abah dan ummi harus datang ke kota ini sih? Seperti tidak ada kerjaan saja mereka. Bukannya di pondok pesantren, para santri masih membutuhkan abah dan ummi. Para pengajar itu butuh abah dan ummi juga untuk bimbingan dan pembinaan lainnya," gumam Abryal seraya mengusap dahinya karena keringat nya. Bahkan AC di ruangan itu masih hidup tapi Abryal tetap bisa mengeluarkan keringat nya lantaran panik.
Almeda